• 7
    Shares

MOJOK.CO Ada beberapa Hari Kejepit Nasional tercatat di tahun 2019 ini. Kita, sih, penginnya bolos, tapi… buat apa?!

Gelaran pesta demokrasi pemilihan presiden sekaligus perayaan foto selfie pertama Nicholas Saputra tanggal 17 April 2019 lalu telah berakhir. Ribut-ribut cebong, kampret, serta kelompok penggemar Nicholas yang kegirangan meng-capture foto yang hanya diunggah selam 24 jam pun sudah mereda.

Terlepas dari tuduhan kecurangan dan klaim kemenangan kedua capresmeski yang menang tetap saja Nicholas Saputra—seluruh masyarakat berusia produktif kini menghadapi kenyataan yang menyebalkan: bertemu dengan Hari Kejepit Nasional alias Harpitnas.

Ya, ya, benar. Selepas 17 April selesai, tanggal 18 April resmi menjadi hari kejepit karena keesokan harinya, 19 April, kita semua bakal menyambut tanggal merah karena merupakan hari wafatnya Isa Almasih.

[!!!!!11!!1!!!1!!!!]

Bayangkan ini baik-baik, Suketi: hari Rabu 17 April kita ikut pemilu, lalu hari Kamis 18 April kita masuk kerja, padahal hari Jumat 19 April kita libur lagi, sedangkan tanggal 20 dan 21 April adalah hari Sabtu dan Minggu yang merupakan akhir minggu liburan—terlebih lagi, tanggal 21 April merupakan hari Paskah.

Serius, nih, dengan tanggal merah dan libur yang berturut-turut begini, kenapa harus ada hari kerja yang nyempil, sih???

Kesedihan kita perihal tanggal 18 April kali ini bukan satu-satunya di tahun 2019. FYI aja nih, sepanjang tahun ini, setidaknya ada beberapa Hari Kejepit Nasional lain yang harus kita hadapi, yaitu pada tanggal 4 Februari lalu (karena tanggal 5 Februari adalah Tahun Baru Imlek), tanggal 8 Maret lalu (karena tanggal 7 Maret adalah Hari Raya Nyepi), tanggal 31 Mei (karena tanggal 30 Mei adalah hari Kenaikan Isa Almasih dan tanggal 1 Juni merupakan Hari Lahir Pancasila), dan tanggal 23 Desember (karena tanggal 24 Desember mulai cuti bersama Hari Raya Natal).

Baca juga:  Sandiaga Uno Memang Ulama Kok, Memang Masalahnya Apa?

Lihat, kan??? Lihat, betapa bakal ada hari-hari di mana kita terpaksa mengalami liburan “kentang” alias nanggung???

Sungguh, tidak ada tips dan trik khusus menghadapi Hari Kejepit Nasional, kecuali satu hal: bolos. Maksud saya, kalau hari Kamis 18 April ini kita semua bolos, tentu liburan bakal terasa lebih marem: Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu—empat hari! Empat hari, Saudara-saudara, empat hari!!!!1!11!!!!

Selama empat hari penuh, kita bisa bolak-balik Bandung-Jogja, pergi ke museum, candi, taman, wisata kuliner, update Instagram Story dan feed biar lebih aesthetic, alih-alih duduk di meja kerja dan menangisi takdir menyelesaikan setumpuk laporan, menulis naskah, atau mengecek neraca keuangan. Benar, kan???

Ta-tapi, tunggu dulu—benarkah bolos menjadi satu-satunya hal paling mengasyikkan dalam menyambut datangnya Harpitnas???

Setelah dipikir-pikir lagi—tentu saja berkaca dari pengalaman hari ini di mana saya juga harus masuk kerja—hari kejepit ternyata nggak buruk-buruk amat, kok. Melalui kontemplasi, saya menemukan beberapa alasan kenapa masuk kerja saat Hari Kejepit Nasional nyatanya cukup menggembirakan:

Pertama, kantor bakal terasa lebih sepi, tapi kamu bakal lebih makmur.

Suasana hari kejepit yang mirip hawa liburan membuat beberapa orang menghilang secara misterius, seperti Sandiaga Uno yang tidak mendampingi Prabowo dalam deklarasi kemenangannya.

Tapi, meski terasa hampa, suasana ini justru bisa membuat kepala terasa lebih tenang dan adem. Kursi teman sebelah yang kosong pun bisa kita pakai untuk tempat tas dan jaket, atau sekadar buat meluruskan kaki.

Baca juga:  Debat Cawapres Ma’ruf Amin vs Sandiaga Uno yang Ternyata Membosankan Betul

Di beberapa perusahaan, karyawan diberi jatah makan siang dengan kuantitas yang sama setiap hari kerja. Nah, pada hari kejepit yang karyawannya jarang-jarang, bukankah ini berarti kamu bisa makan bakwan jagung dua kali lebih banyak untuk meng-cover jatah teman-temanmu yang hari ini cuti dan izin demi liburan ke Dieng??? Hmm???

Kedua, wujud pertanggungjawaban yang sesungguhnya.

Hari kejepit ibarat tantangan melawan monster dengan kasta tertinggi di setiap level game petualangan—ia mendebarkan dan mengerikan, tapi kita tahu bahwa si “monster” ini adalah gerbang bagi kebahagiaan berikutnya, baik dalam bentuk naik level ataupun liburan panjang.

Naaah, hari kejepit ini pun menjadi medan perang bagi diri sendiri: bisa nggak kita melawan kemalasan yang sudah keburu mendarah daging ini??? Kalau berangkat kerja untuk diri sendiri saja nggak bisa, gimana kamu mau membuktikan kesungguhanmu sama gebetan yang kamu puja-puja itu???

Lagian, bisa saja, nih ya, setelah melihat kesungguhanmu bekerja, gebetanmu mungkin bakal langsung membalas chat-mu yang sudah dianggurin 3 bulan itu.

Yaaah, namanya juga berharap. Ya, nggak?

Ketiga, mau kamu bela-belain libur sekalipun, nggak akan ada yang ngajak kamu jalan di Hari Kejepit Nasional.

Ini adalah inti dari tulisan ini, tapi saya sengaja puter-puterin dulu biar kamu nggak sedih-sedih banget membaca fakta ini.

Ya, tapi mau gimana lagi? Nyatanya, sekalipun hari ini adalah hari kejepit dan kamu berharap untuk pergi liburan, kamu memang nggak punya partner untuk berkeliling kota dan foto-foto bersama, kok.

Jadi, daripada terkatung-katung sendirian, kembali ke kantor dan bekerja sampai lupa pada seluruh sakit hati dan kesedihanmu memang merupakan solusi terbaik.

HIDUP OVERWORK!!!!!1!11!!!!