• 54
    Shares

MOJOK.CO Kehadiran kita-kita ini, para adik perempuan dari seorang kakak perempuan, agaknya menjadi sebuah bayangan semu bagi sebagian orang. Marilah bersama-sama kita saling berpelukan dan merasakan kelelahan ini mengalir sampai habis dan terbuang. Kuatkan hatimu!

Selama lebih dari seperempat abad, saya adalah adik dari seorang perempuan yang hanya berusia 3 tahun di atas saya. Usia yang berdekatan memang membuat kami cukup akrab, tapi juga menimbulkan percikan-percikan yang berpotensi membunyikan genderang perang saudara.

Memasuki zaman media sosial, perang saudara ini biasanya saya mulai dengan unfriend akunnya di Facebook atau unfollow Instagram-nya. Hehe~

Padahal, kata orang, sebagai seorang perempuan, memiliki kakak yang juga perempuan adalah surga dunia. Bahkan, di internet, ada setumpuk artikel yang temanya mengagung-agungkan kebahagiaan yang datang dari kakak perempuan. Sister goals banget, gitu.

Menanggapi artikel-artikel tersebut, saya merasa kemungkinannya ada dua: 1) si penulis bukan merupakan seorang adik perempuan yang punya kakak perempuan; atau 2) si penulis adalah kakak perempuan itu sendiri.

Maka, melalui tulisan ini, saya ingin memanggil para adik perempuan sedunia yang kakaknya juga berjenis kelamin perempuan, terutama yang jarak umurnya cukup dekat. Marilah bersama-sama kita saling berpelukan dan merasakan kelelahan ini mengalir sampai habis dan terbuang.

Agar mendukung kelas motivasi ini, sekalian saja saya keluarkan apa yang saya rasakan sebagai Copy-an Kakak, mulai dari kecil sampai gedean gini.

Baju Kembar dan (Tentu Saja) Baju Bekas

Karena masih kecil dan imut-imut, kebanyakan orang tua membelikan baju untuk anak-anaknya dengan metode irit dan praktis. Yah, kalau bisa, sekali membeli, dua-tiga baju tercukupi. Dalam kasus ini, untuk kakak-adik perempuan, baju kembar pun menjadi pilihan.

Mau baju yang kembaran motifnya kek, mau kembaran warnanya kek, nggak peduli—asalkan kembar, maka baju tersebut sudah memenuhi persyaratan. Baju kembar ini banyak jenisnya: baju untuk jalan-jalan, baju muslim, sampai baju renang. Selera fashion adik perempuan tidaklah mendapat perhatian penting karena umumnya hanya akan disesuaikan dengan baju sang kakak.

Baca juga:  Monza Adalah Melawan: Sebuah Pleidoi Ecek-Ecek

Tapi, hal lain yang sebenarnya lebih membosankan dari baju kembaran dan akan dirasakan oleh 99,99% adik perempuan adalah…

baju bekas a.k.a baju lungsuran si kakak!!!

Ya, ya, ya, inilah yang paling sering saya alami dan rasakan hingga sekarang. Tradisi mendapat yang bekas-bekas ini bahkan bukan hanya baju saja, melainkan juga tas, kerudung, sepatu… eh, tunggu sebentar—INI SAYA AJA NULIS SAMBIL PAKAI BAJU BEKAS KAKAK SAYA!!!

*inhale, exhale*

Yah, begitulah adanya. Dalam hubungan persaudaraan perempuan, pinjam-meminjam baju mungkin wajar, apalagi kalau ukurannya mirip-mirip. Tapi, tetap saja—bekas. B-e-k-a-s.

Butuh baju baru, dik-adik? Oh, tunggu dulu—coba cek lemari kakakmu, siapa tau ada baju lungsuran siap pakai.

Terakhir, kakak saya pernah WhatsApp ke saya dan bilang, “Kamu mau baju warna biru?”

FYI, biru adalah warna favorit saya. Sontak, saya langsung menjawab, “Mauuuu.”

Lalu jawabnya, “Oke, aku kirim ke kamu, ya. Ini bajunya udah nggak muat di aku. Eh, sekalian sama celana bekasku yang talinya udah mbrudul-mbrudul ini, deh.”

HHHHHHH.

Manusia Tidak Dikenal

Kehadiran kita-kita ini, para adik perempuan, agaknya menjadi sebuah bayangan semu bagi sebagian orang. Meskipun di mana-mana kita selalu memperkenalkan diri sambil menyebutkan nama, tetap saja tidak ada artinya. Dalam hal ini, benarlah ujaran dari Shakespeare: apalah arti sebuah nama?

Saya pernah lagi jalan-jalan bareng temen saya, haha-hihi selayaknya anak muda yang bahagia dan lupa atas fakta bahwa penampilannya dari atas ke bawah adalah dukungan baju lungsuran dari kakaknya. Tiba-tiba, seorang wanita melihat ke arah saya, tersenyum, dan berkata,

Baca juga:  Sebuah Dongeng Tentang Tongkat Laki-Laki

“Eh, kamu kan adiknya Anu, ya?”

Di lain kesempatan, saya pernah menyambut anak-anak baru di SMA saya. Salah satu siswa baru ini adalah adik laki-laki dari sahabat kakak perempuan saya. Saya pikir, sebagai sesama adik, ia akan mengingat nama saya. Tapi, ternyata, ketika kami berpapasan, ia berkata,

“Halo, adiknya Mbak Anu!”

Mengingat kesempatan seperti itu selalu berulang sampai kira-kira 438.232 kali, saya mencoba peruntungan dengan terjun aktif ke sebuah komunitas yang tidak diikuti kakak saya. Semuanya berjalan lancar sampai pada hari terakhir kegiatan kami. Seorang laki-laki datang dan bertanya,

“Eh, adiknya Anu, tolong ambilin kamera di meja, dong.”

[!!!!!!!!!!!!!111!!]

Berkali-kali, saya sampai mengecek KTP saya: apakah nama saya “Aprilia” atau “Adiknya-Mbak-Anu”.

Dikira Kakaknya

Bagian ini adalah yang paling menyebalkan dan menggemaskan. Sebagai seorang adik yang sebenarnya ingin juga diakui, saya merasa senang ketika orang tua saya memperkenalkan kami kepada seorang tamu dengan kalimat berikut: “Kenalkan, ini Anu dan Aprilia.”

Tersenyum, saya menatap ke arah tamu tersebut sambil berharap ia akan menghafal nama saya, bukan sekadar sebagai “adiknya Anu”. Yah, cara ini biasanya cukup efektif, sih. Setidaknya, sampai terjadilah satu momen di mana si tamu berkata, “Wah, mana yang adik, mana yang kakak, nih? Ah, saya tahu. Kamu pasti kakaknya, ya?”

Tangannya mengarah pada saya, matanya menatap ke arah saya, senyumnya lebar sekali. Di samping saya, si kakak terkekeh-kekeh bangga karena merasa tampak lebih muda.

Serius nih, setelah semua perjuangan saya untuk hidup dengan keras menerima lungsuran dan dikenal tanpa identitas nama yang jelas, sekarang saya dibilang tampak lebih tua daripada kakak saya??? Hah???

Ah, ya sudahlah. Hidup memang kadang cukup tidak adil bagi seorang adik perempuan dari kakak perempuan.