MOJOK.CO Merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-74, Mojok menghimpun beberapa fakta seru yang harus kamu tahu. Eh, atau kamu sudah tahu?

Selamat tanggal 17 Agustus! Hari ini kita semua sama-sama merayakan lahirnya Republik Indonesia sejak 74 tahun yang lalu. Upacara bendera dan penghormatan pada jasa para pahlawan pun digelar dengan khidmat.

Namun, benarkah kita semua telah mendapatkan informasi lengkap soal detik-detik kemerdekaan Indonesia yang mendebarkan? Atau sesungguhnya, ada hal-hal yang belum kita ketahui dan sesungguhnya perlu kita pahami?

Mojok telah menghimpun beberapa fakta menarik seputar kemerdekaan Indonesia dari berbagai sumber; beberapa mungkin belum kamu ketahui sebelumnya.

*JENG JENG JENG*

1. Kamera Dirampas Jepang, Negatif Film Dikubur di Bawah Pohon

Foto-foto yang menunjukkan momen pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia hingga kini telah beredar luas dan menjadi warisan penting bagi sejarah. Namun, tahukah kamu siapa yang menjadi fotografer tersebut?

Dikutip dari Boombastis.com, adalah Frans Mendur dan Alex Mendur, sepasang kakak beradik, yang menjadi pahlawan kita dalam mengabadikan momen. Sayangnya, Alex Mendur tertangkap tentara Jepang dan kemeranya dirampas secara paksa.

Beruntung, nasib lebih mujur dialami Frans Mendur. Seperti yang ditulis oleh Gudangnews.info, Frans buru-buru menyelamatkan negatif filmnya dengan cara menguburkannya di bawah pohon di halaman Harian Asia Raja.

2. Pembaca UUD 1945 Pertama Kali adalah Seorang Dokter

Di upacara bendera, selain protokol dan pemimpin serta pembina upacara, salah seorang petugas yang tak kalah penting adalah petugas pembaca UUD 1945. Tapi, kamu tahu nggak siapa orang yang pertama kali membacakan UUD 1945 dalam sebuah upacara bendera di Indonesia?

Sebelum Soekarno membacakan naskah proklamasi, seorang dokter bernama Moewardi didapuk untuk memberikan sambutan. Beliau pulalah yang bertugas membacakan UUD 1945 yang telah dirancang oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Baca juga:  PHP Indonesia: Kemerdekaan yang Kosong

3. Naskah Proklamasi Klad Dibuang ke Tempat Sampah

Sebelum diketik oleh Sayuti Melik, naskah proklamasi klad (tulisan tangan) dibuat di kediaman Laksamana Maeda di atas selembar kertas. Mungkin saking hebohnya euforia kemerdekaan Indonesia, tak seorang pun menyadari bahwa naskah tulisan tangan ini belum disimpan dengan benar, bahkan ditemukan dalam tempat sampah oleh seorang wartawan bernama B. M. Diah.

Tebak, seberapa lama naskah tadi ia simpan? Tercatat, sang wartawan menyimpan naskah proklamasi klad selama 46 tahun 9 bulan 19 hari, sebelum menyerahkannya pada pemerintah yang kala itu dipimpin Presiden Soeharto di tahun 1992.

Yah, kadang memang sesuatu harus terpisah jauh dulu sebelum bisa kembali, sih~

4. Malaysia (Tadinya) Akan Bergabung dengan Indonesia

Seperti yang ditulis oleh Tirto.id, tiga tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yakni Sukarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat, pada tanggal 12 Agustus 1045, dipanggil ke Dalat untuk bertemu dengan pemimpin Dai Nippon, Marsekal Hisaichi Terauchi, yang menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Sepulang dari Vietnam, pihak Jepang membawa mereka ke Singapura untuk bertemu dua tokoh Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung (KRIS), yaitu kelompok pejuang Malaysia. Pada pertemuan ini, disepakati bahwa daerah-daerah serumpun bakal berkongsi. Harapannya, Hindia Belanda (Indonesia), Malaya (negeri-negeri Melayu yang kini menjadi negara Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam), serta Borneo (seluruh bagian Pulau Kalimantan), bakal bersatu sebagai sebuah negara merdeka.

Namun, saat kembali ke Indonesia, keadaan berubah. Jepang kalah perang sehingga Indonesia bersegera memproklamirkan kemerdekaannya. Coba kalau kesepakatan sama Malaya jadi nyata—kita bakal satu negara sama Siti Nurhaliza!

5. Hatta Nyamar Jadi Co-Pilot demi Dapat Senjata

Diktip dari Jpnn.com, pada masa revolusi, Soekarno-Hatta pernah berencana meminta bantuan senjata pada Jawaharlal Nehru di India. Demi mendukung kelancaran rencana rahasia ini, Soekarno mengutus Hatta ke India dengan paspor yang menyamarkan identitaas Hatta. Nama Hatta diubah dalam paspor menjadi Abdullah, dengan jabatan co-pilot.

Baca juga:  Lomba Pitulasan, Sarana Nggayengake Dina Kamardikan Indonesia

Di India, Hatta bertemu Nehru, bahkan Mahatma Gandhi yang tidak menyadari bahwa Abdullah adalah Hatta. Sayangnya, Nehru menyebut India tidak dapat memberikan bantuan senjata karena masih berada di bawah kendali Inggris, namun pihaknya menjanjikan dukungan politik dan membela perjuangan kemerdekaan Indonesia.

6. Soekarno Membaca Proklamasi saat Tubuhnya “Pating Greges”

Dilansir dari Sejarah-Budaya.com, Soekarno turun menjadi proklamator dalam keadaan sakit gejala malaria tertiana. Saat dibangunkan oleh dokter pribadinya, ia menggambarkan keadaan tubuhnya dengan istilah “Pating greges” karena suhu badannya tinggi dan ia baru saja begadang menyusun konsep proklamasi.

Namun, setelah penanganan dari dokter pribadinya, ia tetap datang bersama Hatta dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sungguh totalitas dan profesional—beda sekali sama kita-kita yang hobinya sambat dan kabur dari kewajiban.

7. Perintah Pertama Presiden Soekarno adalah Beli Sate Ayam

Sehari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, atau pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno terpilih secara aklamasi menjadi Presiden Indonesia. Namun, bukan soal kabinet atau dekrit pemerintahan, perintah pertama Presiden Soekarno ternyata cukup mengejutkan.

Dalam perjalanan pulang, ia bertemu seorang tukang sate yang disebut “bertelanjang dada dan nyeker”. Sontak, sang Presiden pun berkata, “Sate ayam lima puluh tusuk!” sebelum akhirnya memakannya di tempat.

Sungguh perayaan yang sederhana sekaligus enak. Untung zaman dulu belum ada Instagram Story; nggak lucu banget kalau beliau pasang pose boomerang sambil makan sate 50 tusuk….



Tirto.ID
Loading...

No more articles