• 49
    Shares

MOJOK.CO Menaiki kereta api adalah implementasi dari rasa sabar dan sikap tahan banting yang dimulai sejak proses antre tiket kereta api.

Kata pepatah, berakit-rakit kita ke hulu, berenang kita ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Artinya, untuk mencapai kebahagiaan, kita harus rela menempuh perjalanan yang kurang menyenangkan sebelumnya.

Agaknya, pepatah yang satu ini tidak berlaku-berlaku amat bagi kita-kita yang mau naik kereta api. Coba bayangkan: mau sebahagia apapun di kereta, kita pasti pernah merasakan kursi kita diduduki orang lain (beberapa di antaranya bahkan menolak pindah kursi—apalagi kalau kursinya di dekat jendela—atau minta tukar nomor kursi demi bisa duduk bersama rombongannya—alias kitalah yang harus pindah ke kursi lainnya), makanan kereta api yang harganya mahal tapi kita keburu lapar dan tidak membawa bekal, hingga aktivitas menelepon yang bakal terganggu oleh suara pengumuman di dalam kereta.

Padahal, di antara hal-hal yang membuat dahi berkerut tersebut, kita pun baru saja berbesar hati mengalami hal-hal asem dan kecut di loket tiket kereta api, seperti di bawah ini.

1. Diserobot Waktu Lagi Antre Tiket Kereta Api

Saat lagi ramai-ramainya antrean di depan loket, jelas tak ada yang lebih menyebalkan daripada seseorang yang datang langsung maju ke arah mbak-mbak penjaga loket sembari berkata, “Mbak, saya duluan ya, Mbak. Saya cuma mau beli satu tiket aja. Cepet, kok.”

Baca juga:  Ada Emosi Dalam Setiap Antrean Karcis Bioskop

Helllllow, situ pikir kita-kita ini mau beli tiket berapa??? Tujuh belas lusin??? Enam kodi???

Tapi biasanya, kebahagiaan pengantre tiket akan segera terbit ketika mbak-mbak penjaga loket lantas menjawab, “Maaf, Bu/Pak, bisa sambil antre dulu, ya.”

2. “Disundul-sundul” dari Belakang

Tak jarang, dalam antrean loket tiket kereta api, beberapa orang mengeluhkan betapa pengantre di belakangnya sering kali bergerak tidak sabar dan cenderung (sedikit) mendorong kala antrean bergerak maju.

Ada juga pengantre yang sengaja memakai tas ranselnya di depan (menutupi perut) dan tetap berdiri mepet di belakang kita. Niatnya, sih, biar nggak diserobot orang. Padahal, kitanya malah merasa terganggu karena si tas ransel ini selalu menyundul bagian punggung dan membuat kita merasa disdorong-dorong melulu.

Hih! Nggak khusyuk nih!

3. Printer Tiket Ngadat

Pernah merasa kita mendadak gugup dan bego saat berdebar-debar karena grogi setengah mati? Tampaknya, hal ini bisa menyerang siapa saja, termasuk mesin printer tiket kereta api di loket.

Yha, tak jarang pengantre tiket mengalami hal ini. Udah mah ngantre lama-lama, eh giliran waktunya tiba, printer tiket malah ngadat dan si mbaknya harus ganti kertas dulu.

Hadeeeeh, itu keretanya udah di peron loh, Mbak 🙁

4. Jadi Saksi Reuni Orang, lalu… Diserobot Lagi

Selagi antre di loket, orang yang berdiri di depan kita tiba-tiba bergerak heboh, melambai-lambai, dan berteriak, “Eh, Astutiiiii!”

Sejurus kemudian, orang yang ada di depan kita ini langsung dihampiri oleh orang yang ia panggil. Proses ini berlanjut dengan cipika-cipiki dan pertanyaan standar, “Ngapain lo di siniiiiii?”

Baca juga:  Honda Scoopy Adalah Pelarianku dari Keinginan Punya Vespa

Selanjutnya, kita akan jadi saksi hidup pertemuan kedua insan yang tetap melanjutkan mengobrol sambil antre ini. Yah, kalau memang cuma ngobrol sih masih mending. Ada juga yang dari “reuni” ini berubah menjadi kesempatan untuk menyerobot antrean gara-gara salah satunya berkata, “Ih sini, sini, lo antre depan gue aja!” tanpa memedulikan perasaan orang-orang di belakangnya.

Asdfghjkl!!!!

5. Antre di Belakang Orang Gaptek dan Ketua Rombongan

Bukan di loket pembelian tiket saja, antre yang “berkesan” bisa juga dialami saat kita akan mencetak tiket sendiri di mesin cetak mandiri. Yang perlu kita lakukan pada dasarnya hanyalah: 1) melakukan scan barcode; atau 2) mengetikkan kode pembelian tiket.

Proses yang semestinya cepat ini akan berubah jadi lama kalau ternyata orang di depan kita adalah orang gaptek. Mau scan, bingung. Nulis kode, lama. Akhirnya, dia bingung sendiri di depan mesin, tapi ogah nanya-nanya—entah karena gengsi atau sengaja melatih kesabaran kita.

Yang tak kalah menyebalkan adalah antre di belakang Ketua Rombongan. Maksudnya, orang ini akan mencetak tiket dalam jumlah yang sangaaaaat banyak dengan prinsip “sekalian aja aku cetakin”. Mau tidak mau, kita-kita yang ada di belakangnya pun harus menunggu sampai tiket terakhir dicetak sebelum akhirnya kita sobek bareng-bareng.

Hehehe. Bercanda, kok~