MOJOK.CO KKN mahasiswa jadi populer gara-gara kisah KKN di Desa Penari yang mengerikan. Padahal ada banyak loh cerita horor KKN di tengah kita semua~

Hebohnya kisah horor KKN di Desa Penari seolah nggak habis-habis. Selain menimbulkan kekepoan tingkat tinggi, cerita itu juga membangkitkan kenangan cerita horor KKN manapun di banyak tempat di Indonesia.

Maksud saya, selain cerita horor KKN di Desa Penari, nyatanya banyak kok mahasiswa dan mahasiswi yang pernah mengalami hal-hal nggak mengenakkan selama masa KKN. Seluruh kenangan ini menumpuk di kepala, lantas meledak keluar saat cerita Bima dan kawan-kawan muncul di seluruh trending berita.

Kenapa bisa begitu? Soalnya, simbol kehadiran Badarawuhi (jin dalam kisah KKN di Desa Penari) sama ngerinya dengan beberapa hal di KKN lain. Berikut ini, Mojok sajikan berbagai macam cerita “horor” KKN yang sama-sama menyeramkannya:

1. Disuruh Bikin Acara 17-an dengan Hadiah Spektakuler

Pengalaman ini dialami oleh seorang narasumber yang, sebut saja, namanya adalah Benang Sari. Bersama kelompok KKN yang isinya cuma 8 orang doang, ia diminta oleh warga setempat untuk menyelenggarakan perlombaan 17-an (Agustus), sekaligus mempersiapkan hadiahnya.

“Yah, juara 1 bolehlah dapet sepeda, nanti ada yang dapet blender juga.”

Benang Sari, setelah mendapat wejangan dari Pak Dukuh, lalu menyadari bahwa cerita horor KKN versinya sendiri telah dimulai~

Baca juga:  Aku Diselingkuhi, Tapi Aku Tak Mau Putus

2. Disuruh Jadi MC

Lain Benang Sari, lain pula Putik—tentu saja nama samaran juga. Dalam sebuah persiapan acara di desa tempatnya KKN, warga sedang mengadakan rundingan untuk menentukan siapa yang bakal jad MC acara tersebut. Tak ada maju yang secara sukarela, tak ada pula yang menunjuk warga lain kecuali…

…Putik.

Ya, hampir seluruh warga percaya bahwa Putik, sang anak KKN, mampu menjadi MC yang baik. Padahal, Putik sendiri punya demam panggung stadium 3.233 yang membuatnya harus berkeringat dingin di atas panggung—sebuah cerita horor KKN miliknya yang tidak terlupakan.

3. Diminta Bayar Biduan

Beberapa warga di beberapa desa tempat KKN ini memang agak-agak ajaib. Lah gimana lagi, mereka punya acara, penginnya ada biduannya. Masalahnya muncul berikutnya: Mereka ingin anak KKN-lah yang mencari dan menyediakan biduannya, termasuk soal bayaran.

Ini dialami oleh Wulang, seorang mahasiswi kesenian. Beruntung, doi adalah anak Jurusan Seni Musik dan jagoan di bidang vokal. Berbekal rasa percaya diri (dan ketiadaan uang untuk membayar biduan), Wulang sendiri maju bernyanyi selama acara, membawakan tembang-tembang dangdut dan berjoget bersama bapak-bapak di bawah panggung.

4. Diminta Menikahi Gadis Desa Setempat

Cerita “horor” KKN ini datang dari mahasiswa bernama Budi yang memang budiman. Tutur katanya lembut, ibadahnya pun rajin dan tepat waktu. Saking idamannya Budi di mata warga, seorang bapak yang kerap bertemu Budi di masjid desa pun langsung mengutarakan niatnya tanpa tedeng aling-aling: meminta Budi untuk menikahi anak gadisnya yang baru lulus SMA, secepatnya.

Baca juga:  Rambat dan Amplop Pak Burhan

Meski menikah juga menjadi keinginannya kelak, Budi tetap gelagapan. Ya gimana, wong dia aslinya belum siap nikah, eh kok disuruh secepatnya. Laporan KKN aja masih jadi draft, Bos!

5. Cinlok, Selingkuh, Putus

Ini adalah cerita “horor” KKN paling klise di dunia, tapi—herannya—selalu saja terjadi. Cinlok, alias cinta lokasi, kadang tak bisa dihindarkan. Ujung-ujungnya, hubungan kian dekat dan malah jadi selingkuhan karena ada yang sudah punya pacar di tempat lain. Selesai KKN, pilihannya cuma dua: putus sama pacar yang di luar, atau putus sama “pacar” waktu KKN.

Ih, kenapa sih KKN harus sehoror itu???

BACA JUGA Cerita KKN yang Lebih Seram Dibanding Kisah KKN di Desa Penari atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles