• 172
    Shares

MOJOK.CO Minal Aidin wal Faizin yang selama ini menghiasi Lebaran kita ternyata bukanlah kalimat untuk minta maaf lahir dan batin, bahkan tidak ada dalam kamus bahasa Arab.

Menjelang Hari Raya Idulfitri, toko-toko mulai sibuk mempersiapkan promo spesial Lebaran. Dengan nuansa hijau ketupat, tulisan-tulisan khas Idulfitri pun tampak rapi melengkapi dekorasi. Salah satu kalimat yang sering kali ditemukan dalam dekorasi ini adalah: Minal Aidin wal Faizin. Jangankan di dekorasi, di kartu Lebaran dan broadcast WhatsApp pun kalimat ini cukup populer digunakan!

Dalam konteks Lebaran, ungkapan Minal Aidin wal Faizin selama ini diyakini sebagai bentuk permohonan maaf yang jamak dipakai saat momen sungkem-sungkeman. Banyak yang mengganggap Minal berarti “Mohon Maaf”, sedangkan Aidin wal Faizin adalah “Lahir dan Batin”. Ngaku deh, kamu juga mikir gitu, kan?

Tapi pertanyaannya, benarkah “Mohon Maaf Lahir dan Batin” merupakan terjemahan langsung dari Minal Aidin wal Faizin?

Siapa sangka, dilansir dari BBC Indonesia, anggota Komisi Fatwa MUI Arwani Faishal menyebutkan bahwa Minal Aidin wal Faizin tidaklah bermakna apa yang selama ini kita kira.

[!!!!!!!!111!!!!!11!!!]

Agar lebih jelas, ada baiknya jika kita memisahkan kata-kata pembentuk Minal Aidin wal Faizin sebagai berikut:

  • min artinya “termasuk”
  • al-aidin artinya “orang-orang yang kembali”
  • wa artinya “dan”
  • al-faizin artinya “menang”

Secara bahasa, ungkapan Minal Aidin wal Faizin ini berarti “termasuk dari orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang”. Artinya, alih-alih bermakna sebagai kalimat permintaan maaf, ternyata kalimat ini menggambarkan orang-orang yang kembali ke jalan Allah swt.. Orang-orang inilah yang kemudian tergolong sebagai orang-orang yang beruntung.

Baca juga:  Jumatan di Kampus Kristen

Bahkan, Minal Aidin wal Faizin ternyata memiliki bentuk asli yang lebih panjang: Ja alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin. Kalimat lengkap ini berarti “Semoga Allah menjadikan kami dan kamu semua termasuk orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang”.

Masih menurut Pak Arwani, ungkapan ini sejak awal memang bukan kalimat permintaan maaf, melainkan sebuah doa yang populer di kawasan Melayu, termasuk Indonesia dan Malaysia. Asal-muasal doa ini adalah para pedagang Arab yang bertahun-tahun lalu masuk ke Indonesia dan menyebarkan agama Islam. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia menjadi ungkapan kelegaan setelah mendapatkan kemenangan dalam peperangan.

Dari semua sejarah tadi, perlu digarisbawahi bahwa ungkapan ini memang tidak ada dalam kamus bahasa Arab—hanya merupakan bahasa lisan. Dan yang lebih penting lagi, ungkapan ini hanya digunakan di Melayu, termasuk di Indonesia, serta tidak memiliki makna “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Lantas, ungkapan apa, dong, yang lebih sesuai digunakan dalam rangka perayaan Idulfitri?

Pernah dengar Ied Mubarak? Nah, ungkapan ini menjadi salah satu yang sering digunakan di Arab, yang berarti “Idulfitri yang memberkahi”. Tapi, kalau kamu ingin mengucapkan kalimat berbahasa Arab yang sedikit lebih panjang, kamu bisa menggunakan Taqabbalallahu Minna wa Minkum yang telah digunakan sejak zaman Nabi. Tapi, apa arti ungkapan tersebut?

Menurut riwayat, Nabi Muhammad saw. telah menuntun sahabat-sahabatnya untuk mengucapkan kalimat Taqabbalallahu Minna wa Minkum saat Idulfitri. Lantas, jadilah ia sebagai tradisi yang berlanjut, di mana ungkapan tadi bermakna “Semoga Allah menerima amal saleh saya dan kamu semua”.

Baca juga:  Karl Marx pun Mengamini Fatwa Haram BPJS

Tak lupa, kata Shiyamana wa Shiyamakum juga ditambahkan oleh orang-orang terdekat Rasulullah saw., sehingga bentuk lengkapnya adalah Taqabbalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum. Arti dari kalimat ini sendiri adalah: “Semoga Allah menerima amal saleh saya dan kamu, amal puasa saya dan kamu”.

Jadi, sudah tahu, kan, ungkapan mana yang sebaiknya kamu pakai saat Lebaran nanti?

Tapi sepertinya, mau menggunakan ungkapan yang mana pun kamu tetap bakal memulai broadcast Lebaran dengan kalimat: “Andai jemari tak sempat menjabat, andai raga tak dapat bertatap…”

Halah, bosen bosquuu~