MOJOK.COSaya hanya kuat bekerja di sana selama tiga tahun. Keisengan Hantu noni Belanda itu lama-lama bikin saya nggak kuat juga.

Menjadi satpam yang kerap dapat giliran jaga malam di museum memang bukan perkara mudah. Apabila ketika para “penghuni” museum sok akrab. Rasanya pengin bolos kerja aja.

Saya pernah bekerja sebagai satpam di salah satu museum sejarah di Jakarta. Kerap menjaga museum di malam hari memang menjadi salah satu risiko bagi saya yang sudah terlanjur tanda tangan kontrak dan terlanjur bilang “sanggup” terhadap konsekuensi pekerjaan saya.

Banyak satpam yang kerap bercerita sering melihat penampakan makhluk halus di sini. Misalnya seperti hantu noni Belanda, penampakan anak kecil, hingga hantu pasukan tanpa kepala.  

Bukan hanya penampakan, banyak satpam yang kerap mendengar suara tangisan, suara benda-benda yang terjatuh, dan bahkan ada juga yang mengaku sering mencium bau amis di sekitar museum.

Pengalaman ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di sana. Selasa itu, saya ditugaskan jaga malam bersama salah satu rekan senior yang usianya 10 lebih tua dari saya. Namanya Pak Rojak.

Menurut Pak Rojak, museum ini memang angker. Dia, yang sudah hampir 20 bekerja sering mendapati hal-hal di luar nalar. Pak Rojak bahkan sudah “berkenalan” dengan hantu noni Belanda bernama Arabella, yang dia bilang cantik dan semok itu.

Saya dan Pak Rojak bertugas di pos dua melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya. Pukul 10 malam, Pak Rojak meminta saya untuk menjaga pos sementara dia patroli.

Tak sampai setengah jam, Pak Rojak kembali ke pos. “Kok sebentar, Pak patrolinya?”

“Iya, tadi saya ketemu Arabella, hantu noni Belanda itu, tapi dia lagi nangis. Dia suruh saya balik ke sini.”

Saya malah bingung. Mana bisa aki-aki berteman dengan hantu noni Belanda, cantik pula. Demikian pikir saya, saya menganggap Pak Rojak hanya berhalusinasi.

Singkat cerita, pukul 12 malam, giliran saya berpatroli. Namun entah kenapa, cerita Pak Rojak tentang Arabella tiba-tiba membuat saya penasaran dengan sosok tersebut.

Sesaat sebelum berangkat patroli, saya bertanya, “Pak, gimana caranya mau liat si bohay, Arabella?”

“Kalau mau liat, panggil aja namanya terus sampai dia muncul. Dia senang di panggil-panggil,” jelas Pak Rojak. Hmm, ternyata caranya lebih mudah dari apa yang saya bayangkan.

Ketika menelusuri museum, saya memulai ritual yang diberitahu Pak Rojak tadi. Saya mulai memanggil-manggil nama Arabella, hantu noni Belanda itu karena penasaran dengan kecantikan dan kemolekannya. Kalau kata Pak Rojak sih, melihat bodinya saja sudah cukup membuat si ­otong tegang.

Arabella… Arabella… Arabella… sampai terhitung 21 kali saya memanggil namanya. Ternyata benar, hantu noni Belanda itu muncul di sudut ruangan tempat baju perang berada. Dengan badan yang gemetar karena takut sekaligus penasaran, saya mencoba memperhatikan Arabella dari kejauhan.

Tubuh hantu noni Belanda itu memang seksi dengan pakaian gaun tidur warna putih. Coba masih hidup, udah saya nikahin nih cewek. Mungkin dia ini yang menjadi alasan Pak Rojak betah kerja di sini dan nggak pernah mau pensiun.

Namun tetap saja, menyadari sosoknya yang bukan manusia, melainkan hantu membuat saya takut dan tidak betah berlama-lama.

Sesaat ketika hendak kembali ke pos, terdengar suara tangisan rintih dari Arabella. Dia menangis dan menunjuk ke arah salah satu ruangan tempat persenjataan perang. Saya menangkap maksud Arabella agar saya menghampiri ke ruangan yang Arabella tunjuk.

Seperti terhipnotis dan setengah tidak sadar, saya mulai berjalan ke ruangan tersebut sesuai perintah dan arahan dari hantu noni Belanda itu. Tubuh saya seperti tak terkendali, berjalan tanpa keinginan saya.

Satu, dua, tiga langkah saya mendekati pintu ruangan. Saya menyadari bahwa banyak bercak-bercak darah di lantai. Bau amis tercium kian menyengat saat saya semakin dekat dengan ruangan tersebut.

Tubuh saya menggigil dan gemetar ketika tangan ini tiba-tiba menyentuh gagang pintu. Saya yang ketakutan tak berniat untuk melihat keadaan di dalam ruangan itu. Mata saya terpejam sambil menahan bau amis yang kian menyengat.

Saya tak menyadari apa pun kecuali suara hentakan dan derap kaki yang berjalan secara bersamaan. Suaranya cukup keras hingga dapat membuat saya terkaget dan semakin ketakutan.

Mendengar derap kaki yang semakin dekat, secara refleks saya membuka mata dan apa yang saya lihat nggak akan pernah saya lupa seumur hidup.

Saya melihat satu peleton pasukan sedang baris-berbaris di ruangan tersebut. Posturnya tegap, kulit putih, hantu-hantu tentara itu berjalan kompak di hadapan saya.

Sungguh miris ketika melihat badan seluruh sosok tersebut berlumuran darah, terlebih lagi hampir semua sosok itu berjalan tanpa kepala, dan sebagian lain kepalanya hancur hingga terlihat otak yang keluar dari tempurung kepala.

Karena ketakutan yang luar biasa, saya hendak teriak sekencang mungkin namun mulut saya seperti terkunci. Seketika badan saya lemas dan tak ingat lagi kejadian setelahnya.

Akhirnya saya kembali sadar saat Pak Rojak menepuk-nepuk wajah dan menyadarkan saya. Walahhh, ternyata saya pingsan.

Menurut penuturan Pak Rojak, beliau curiga karena satu jam saya patroli dan tak kunjung kembali. Pak Rojak mencari saya dan menemukan saya tak sadarkan diri di ruang persenjataan. Beliau menyeret tubuh saya dari ruangan tersebut sampai pos tempat kami berjaga.

Tanpa basa-basi, Pak Rojak mengatakan bahwa di samping sosoknya yang menggoda, Arabella adalah hantu yang senang mencari perhatian. Hantu noni Belanda itu senang menjerumuskan manusia atau para satpam kepada hal-hal yang tidak diinginkan, atau sederhananya dia adalah sosok yang “iseng” serta penuh tipu muslihat.

Pak Rojak sendiri sering menjadi korban kejahilan Arabella. Namun seiring waktu, Pak Rojak semakin bisa mengendalikan diri dari gangguan Arabella. Bisa dibilang keimanan Pak Rojak sudah semakin tebal.

Beliau juga menuturkan, bagi siapa pun yang sudah berhasil diperdaya oleh hantu noni Belanda itu, maka Arabella akan menyukai orang tersebut dan akan terus mengganggu.

Sudah ada empat satpam yang menjadi korban dan semuanya mengundurkan diri. Memang, hanya Pak Rojak seorang yang mampu melawan kejahilan Arabella.

Akhirnya saya juga memutuskan “pensiun” dari pekerjaan ini setelah tiga tahun bekerja. Lama-lama nggak betah juga menghadapi kejahilan hantu noni Belanda itu, meski saya sudah mencoba bertahan selama tiga tahun.

BACA JUGA Delapan Tahun Tinggal di Rumah Hantu dan kisah mistis lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Baca juga:  Misteri Pondokan Keluarga Pengabdi Kuntilanak