• 1.7K
    Shares

MOJOK.CO – Teruntuk sobat-sobatqu yang sudah pegang ijazah tapi belum bekerja, santai saja. Mungkin, kalian hanyalah korban produk unggulan dari semacam lembaga pendidikan lanjutan yang telah membangun pola pikir bahwa sekolah itu untuk bekerja.

Buat apa sih orang-orang sibuk kuliah? Ya buat nyari ijazah lah.

Kalo udah dapat ijazah buat apa? Ya buat gaya-gayaan dan nyari kerjaan dong~ Benar begitu kan sobat pencari kerja, mahasiswa, dan para sarjana sekalian?

Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan pasaran tersebut selalu mengingatkan saya pada masa-masa sekolah di desa. Masa-masa yang tak hanya indah tapi juga penuh kegalauan.

FYI aja sih, di tempat saya, anak-anak sekolah memang sudah (dipaksa) memikirkan pekerjaan bahkan jauh sebelum kami tahu manfaat selembar ijazah dari hasil pendidikan yang akan kami dapatkan. Alhasil orientasi kami sejak lama sudah kerja kerja kerja seperti mottonya pak Jokowi.

Saya juga ingat menjelang kelulusan SMP dan SMA, sekolah saya sering dikunjungi oleh semacam lembaga pendidikan lanjutan. Agar mudah, singkat saja menjadi LPL. Awalnya, LPM ini memberikan motivasi kepada saya dan kawan-kawan untuk terus semangat mengembangkan diri. Mereka menyampaikan pesan-pesan itu dengan media yang macam-macam, mulai dari  lewat video, lagu-lagu (dinyanyikan bersama), juga game-game yang lumayan baru bagi kami waktu itu.

Mendengar yang mereka ceritakan, saya dan teman-teman kemudian terbakar oleh motivasi-motivasi itu. Ya nggak literaly kebakar, pokoknya jadi semangat banget lah. Nah, saat panas-panasnya tekad untuk mengembangkan diri ini, para utusan LPL tersebut seolah menghembuskan angin segar dengan memberikan tips dan trik mudah supaya bisa “langsung kerja setelah lulus.” Tips dan triknya itu ya masuk ke LPL yang mereka kelola. Pokoknya harus bergabung dengan mereka, agar setelah lulus dari sana, kami sudah terjamin pekerjaannya.

Kira-kira begini kata-kata provokatif dari mereka waktu itu,

“Siapa yang tidak ingin terjamin pekerjaannya?”

Baca juga:  Lima Jenis Mahasiswa Saat Mengerjakan Tugas Kelompok dan Cara Menyikapinya

Tentu saja tidak ada satu pun dari kami yang menjawabnya. Ya siapa sih–di dunia ini–yang kepingin nganggur setelah lulus? Dan lembaga itu berhasil, setelah lulus sekolah, teman-teman saya berbondong-bondong untuk melanjutkan pendidikan mereka di sana.

Apa ada di antara kalian yang juga pernah dikunjungi lembaga yang menjanjikan penawaran semenggiurkan itu?

Waktu itu, saya hampir tergiur. Saya juga ingin jadi seperti lulusan-lulusan LPL sana yang mereka pamerkan. Ada yang sudah keliling naik kapal pesiar, ada yang sudah kerja di pesawat, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang belum pernah saya dengar. Penghasilan yang dijanjikan terkesan sangat besar dan tak terbayangkan bagi anak usia sekolah seperti kami saat itu.

Tetapi ternyata, karena manut sama orang tua, saya tidak pernah diijinkan untuk bergabung dengan mereka. Bagi orang tua, yang penting saya sekolah, cari ilmu dan pengalaman. Jika dewasa nanti saya memang harus kembali ke desa untuk mluku dan nandur di sawah pun, tak masalah. Toh, selama ini kami bisa hidup juga dari sana. Akhirnya, hasrat saya untuk menjalani sekolah seperti pada umumnya lebih besar daripada iming-iming gaji jutaan setelah lulus nanti.

Mengingat hal tersebut, tak heran rasanya jika hari ini semua lulusan ingin bekerja dan bekerja. Entah lulusan sekolah atau pun sarjana, semuanya ingin bekerja. Lapangan pekerjaan terus bertahan sebagai hal yang selalu ingin diciptakan. Hari ini, setelah sekolah bertahun-tahun, saya baru mengerti bahwa manusia butuh bekerja. Saya ikut-ikutan bingung, setelah lulus nanti akan kerja apa?

Kemudian, suara orang tua saya kembali terngiang.

“Sudah, pulang saja, menanam dan memanen.”

Saya terlanjur memilih jalan yang sangat biasa-biasa saja. Menamatkan SD, SMP, SMA, kemudian kuliah dan sesungguhnya saya tetap tak ingin bekerja. Tapi apa daya, sesuai kepercayaan banyak orang, jika ingin tetap hidup ya harus bekerja. Orang-orang kreatif yang biasanya mencipatakan lapangan kerja sering berkata

Baca juga:  Naik Gunung Meski Uang Pas-pasan: Pedoman bagi Para Pendaki Sejati

“Ya pintar-pintar memanfaatkan peluang saja.”

Perkataan itu, sederhananya saya artikan begini, jual lah air di gurun pasir. Sudah pasti kamu akan cepat kaya.

Begitu pula LPL yang menjanjikan pekerjaan itu. Lembaga itu merupakan salah satu bentuk nyata pemanfaatan peluang. Saat ada manusia-manusia yang butuh kerja dan merasa tak ada lapangan kerja, muncul lembaga yang menjanjikan lapangan kerja tapi harus sekolah dulu di sana. Harus bayar dulu. Sebagaimana proyek, harus menghasilkan sebanyak-banyaknya. Termasuk menggaet kami para anak sekolahan.

Saya tak keberatan dengan proyek semacam itu. Hanya saja, saya tidak mengerti bagaimana prosesnya. Jika dihitung, dalam satu angkatan ada 50 orang yang daftar dan itu diterima semua. Sebelumnya, perlu saya informasikan bahwa sekolah ini bukan sekolah yang memiliki ikatan dinas. Dengan begitu, mungkinkah seluruhnya sudah pasti bisa langsung bekerja tanpa ada ketentuan lain?

Kenyataannya tidak. Tidak semuanya bisa langsung bekerja. Hal ini dialami langsung oleh teman saya yang setelah sekolah segera mengkhawatirkan nasib pekerjaannya. Ternyata, LPL yang berkunjung ke sekolah saya itu hanya punya banyak relasi yang belum pasti menerima hasil lulusannya.

Kasarannya, teman-teman saya hanya dihantarkan untuk tes bekerja. Jadi setelah lulus, teman-teman saya tetap harus melalui tahapan tes seperti pekerja lainnya. Belum tentu diterima kerja.

Tentu saja Itu memang hal yang wajar, begitulah dunia bekerja. Persaingan kerja, memang sudah selayaknya dimulai ketika seseorang siap bekerja. Tetapi, kenyataan itu membuat beberapa orang yang sekolah karena ngebet bekerja jadi kecewa. Karena di awal masuk, mereka memang sudah niat untuk bekerja, bukan sekolah. Ya seperti janji yang LPL jual.

Ujung-ujungnya yang tersisa ya penyesalan. Tahu begitu kan lebih baik mereka gunakan waktu untuk segera mencari kerja atau tetap melanjutkan sekolah seperti pada umumnya, kalau ujung-ujungnya sama saja. Hadehh.