Saat itu masih setengah sebelas malam. Tumben suasana di empat kompleks santriwati senyap merayap. Hanya suara bebek mentok yang memecah kesunyian—biasanya dipercaya sebagai isyarat jin lewat. Dengan agak ngantuk saya bergegas turun tangga sambil menenteng jerigen.

Ada pertimbangan khusus mengapa saya memilih pipis di kamar mandi yang dilengkapi sumur, bukan di WC belakang kolam, bukan pula di kamar mandi bawah tempat jemuran. Pertama, lele dumbo yang berenang di kolam agak mengerikan. Kedua, konon kamar mandi bawah jemuran dihuni kunti penjilat bekas pembalut santriwati yang masih mengandung darah. Bayangan seorang perempuan berambut panjang sedang mengorek keresek hitam besar berisi sampah kamar mandi selalu berkelebat. Cerita ini sudah melegenda di sana. Mungkin sengaja dikonstruksi demi terjaganya salah satu tradisi thaharah “mbak-mbak pondok”: cuci bersih pembalutmu.

Alasan ketiga, niatnya sih sambil isi ulang “aquamur”. Di pondok saya dulu, selalu ada resistensi dari santriwati yang menolak keras minum air matang. Karena kami masih memasak dengan tungku, alhasil air rebusan berasa tidak enak. Itu mengapa air mentah langsung dari sumur sangat digemari.

Sumur terletak di dalam kamar mandi depan lorong kompleks Rabiah Adawiyah. Di sana juga ada tiga kamar: satu ruang pengurus, warung kecil yang disebut koperasi, dan meja untuk menyeterika baju. Tradisi segalanya harus antre juga berlaku untuk menyeterika. Kalau malam Senin, saking panjangnya antrean, menyeterika di pukul dua belas malam pun lazim terjadi.

Dari kejauhan saya melihat seorang perempuan berambut sebahu mengenakan baby doll di depan meja seterika. Perempuan itu berdiri mematung menatap saya. Muka ratanya karena mata saya minus tujuh dan sedang lupa pakai kacamata.

Saya kira sosok itu salah satu mbak pondok. Dibayangkan dari posturnya, mungkin Mbak Cici. Bisa jadi juga Mbak Erna. Dari jarak tiga meter di depan kamar mandi, muka perempuan itu ya tetap rata. Saya sempatkan menyapa dengan senyum manis, takut dikira sombong, lalu masuk ke kamar mandi yang hanya berpintu kain korden.

Suasana masih senyap saat saya melongok keluar. Mbak Cici atau Mbak Erna itu telah lenyap. Padahal entah siapa pun dia, harusnya melewati depan kamar mandi dan terdengar suara langkah kakinya.

Keesokan hari saya tanya orang-orang satu per satu. Tidak ada yang mengaku sedang menyeterika malam itu. Saya langsung sujud syukur karena dianugerahi mata berminus banyak.

Baca juga:  Hantu Tinder Mencari Cinta

Tentu saja cerita yang mistis-mistis sedap banyak beredar di kalangan santriwan santriwati. Biasanya lengkap disertai keterangan zona eksklusif makhluk gaib.

“Ah, dekat sungai itu memang pasarnya.”

“Di pojok sana ada kerajaan.”

“Tempat jemuran dekat pohon duren lokasi futsalnya jin.”

Dan kamar mandi adalah tempat paling populer yang kerap dihuni makhluk bombastis.

“Kami menyebutnya Guldo. Wujudnya laki-laki. Badannya di bilik mandi nomor satu, kepalanya di bilik nomor empat. Lehernya molor sepanjang enam meter,” suatu kali kawan saya berkisah tentang pesantrennya.

“Guldo?”

Gulu dowo (leher panjang).”

Saya langsung keselek. Busyeeet! Ini pesantren apa Studio Ghibli?

Teman saya yang lain, namanya Kasan, pernah nyantri di kaki Gunung Welirang selama lima tahun dan punya banyak cerita begituan pula.

“Aku pernah cuci baju sendirian jam sebelas malam di kamar mandi yang bentuknya lorong panjang dengan penerangan yang buruk. Di bilik nomor tengah suara byar byur jelas sekali. Tapi, nggak ada seorang pun yang keluar dari sana.”

Jadi, jangan ngakak kalau para santri yang merupakan lelaki tanggung ini minta diantar ke kamar mandi malam-malam. Penampakan pun bisa terjadi karena berupa ujian bagi santri yang sedang tirakat. Misalnya yang ditemui Juju saat wudu ketika sedang menghafal Al-Quran. Di hari kesekian, ia mendapati bak mandi penuh dengan bola mata mendelik.

“Ya Allah!” serunya, segera ngibrit.

Di pesantrennya Kasan, fenomena kemamang alias bola merah berpijar yang melayang di sela-sela pinus adalah pemandangan yang sudah biasa. Namun, saat gedung asrama santriwati terbakar di sepertiga malam, desas-desus berembus bahwa sebelumnya bola api berkobar melayang-layang di sekitar dan diyakini merupakan kiriman oknum yang tidak menyukai pesantren modern itu berdiri. Sekumpulan santri garis mistis langsung membentuk tim yang bertugas keliling setiap malam, merapal doa, “memagari” pesantren.

Selama sebulan suasana mencekam meliputi pesantren. Meski begitu, laporan kepolisian mengungkap kebakaran terjadi karena seseorang lupa mencabut kabel heater yang kerap digunakan untuk merebus Indomie di kamar. Banyak santriwati luka dan patah tulang karena panik, melompat dari lantai dua. Nahas, seorang santriwati yang enggan bangun, tewas. Mayatnya ditemukan terpanggang sembari memegang tasbih.

Baca juga:  Hikayat Kiai Faizi dan Bukti Hebatnya Silaturahim

Meski terkesan horor, cerita yang mempertebal keimanan di pesantren jelas ada. Seorang santri yang sengaja salat malam pernah suatu malam otomatis menjadi imam bagi banyak makmum tak kasat mata. Salah satu makmumnya mengembuskan napas di belakang tengkuk sang imam. Saat khataman Al-Quran di aula pondok, saya sendiri pernah sayup-sayup mendengar suara para lelaki mengaji. Merdu. Itu kemustahilan karena aula hanya berisi santriwati yang berjubel.

Dari sekian banyak cerita horor, pasti selalu ada cerita mengenai penampakan demit kebanggaan rakyat nusantara. Teman Kasan yang indigo, di tiga hari pertama kedatangannya di pesantren, selalu ketindihan pada tengah malam dan di saat itulah ia melihat pocong terpacak di balik pintu kamar. Dari dua puluh santri yang tidur di kamar tersebut, hanya ia yang bisa melihat.

Pernah pula suatu malam saat terkunci di lantai tiga ketika jam muadalah berlangsung, teman Kasan yang pemberani itu kejatuhan sesuatu. Refleks tangannya terbuka menangkap benda random jatuh yang ternyata sebatang pocong.

Juju, bocah lugu yang dulu sempat diteror andong pocong, kini adalah seorang santri teladan. Tapi, yang paling menyebalkan adalah pengalamannya sepulang rewang (bantu-bantu hajatan) di rumah tetangga desa. Saat itu ada tetangga yang meninggal dan beberapa santri memang ditugasi Pak Kiai untuk ikut tahlilan dan bantu-bantu. Di malam ketujuh Juju ditinggal teman-temannya pulang lebih dulu. Terpaksa ia pulang sendirian, hampir tengah malam, melewati kuburan desa.

“Dari pepohonan, pocong itu terbang, benar-benar terbang ke arahku,” kisahnya.

“Beneran pocong?”

“Iya! Jangan percaya kalau pocong itu lompat-lompat kayak di tipi. Pocong selalu terbang!”

Bukannya lari terbirit-birit, kaki Juju malah kaku, terpaku di tanah. Tubuhnya bergetar. La wong, head to head sama pocong. Lantas sekejap ia teringat anjuran teman-temannya mengenai mantra yang paling manjur untuk mengusir demit.

Ayat Kursi?

Bukan.

An-Nas?

Bukan.

Alif ba ta versi Karyo teman Agus Mulyadi?

Bukan pula.

Apa lagi? Kan menurut Mz Bagus Panuntun, tiada pocong yang kafir.

Juju memilih memaki sefasih-fasihnya. “Juaaancuuuk! Jancoook! Coooks! Juaaancyuuuk!”

Ia meneriakkan umpatan sekeras mungkin. Hingga ludahnya nyembur ke mana-mana. Ajaib, si pocong langsung hengkang. Hilang.

Komentar
Add Friend
No more articles