Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Cara Jitu Membuat Pocong Hengkang Bukan dengan Ayat Kursi

Amanatia Junda oleh Amanatia Junda
6 Juli 2017
A A
pocong mojok

pocong mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat itu masih setengah sebelas malam. Tumben suasana di empat kompleks santriwati senyap merayap. Hanya suara bebek mentok yang memecah kesunyian—biasanya dipercaya sebagai isyarat jin lewat. Dengan agak ngantuk saya bergegas turun tangga sambil menenteng jerigen.

Ada pertimbangan khusus mengapa saya memilih pipis di kamar mandi yang dilengkapi sumur, bukan di WC belakang kolam, bukan pula di kamar mandi bawah tempat jemuran. Pertama, lele dumbo yang berenang di kolam agak mengerikan. Kedua, konon kamar mandi bawah jemuran dihuni kunti penjilat bekas pembalut santriwati yang masih mengandung darah. Bayangan seorang perempuan berambut panjang sedang mengorek keresek hitam besar berisi sampah kamar mandi selalu berkelebat. Cerita ini sudah melegenda di sana. Mungkin sengaja dikonstruksi demi terjaganya salah satu tradisi thaharah “mbak-mbak pondok”: cuci bersih pembalutmu.

Alasan ketiga, niatnya sih sambil isi ulang “aquamur”. Di pondok saya dulu, selalu ada resistensi dari santriwati yang menolak keras minum air matang. Karena kami masih memasak dengan tungku, alhasil air rebusan berasa tidak enak. Itu mengapa air mentah langsung dari sumur sangat digemari.

Sumur terletak di dalam kamar mandi depan lorong kompleks Rabiah Adawiyah. Di sana juga ada tiga kamar: satu ruang pengurus, warung kecil yang disebut koperasi, dan meja untuk menyeterika baju. Tradisi segalanya harus antre juga berlaku untuk menyeterika. Kalau malam Senin, saking panjangnya antrean, menyeterika di pukul dua belas malam pun lazim terjadi.

Dari kejauhan saya melihat seorang perempuan berambut sebahu mengenakan baby doll di depan meja seterika. Perempuan itu berdiri mematung menatap saya. Muka ratanya karena mata saya minus tujuh dan sedang lupa pakai kacamata.

Saya kira sosok itu salah satu mbak pondok. Dibayangkan dari posturnya, mungkin Mbak Cici. Bisa jadi juga Mbak Erna. Dari jarak tiga meter di depan kamar mandi, muka perempuan itu ya tetap rata. Saya sempatkan menyapa dengan senyum manis, takut dikira sombong, lalu masuk ke kamar mandi yang hanya berpintu kain korden.

Suasana masih senyap saat saya melongok keluar. Mbak Cici atau Mbak Erna itu telah lenyap. Padahal entah siapa pun dia, harusnya melewati depan kamar mandi dan terdengar suara langkah kakinya.

Keesokan hari saya tanya orang-orang satu per satu. Tidak ada yang mengaku sedang menyeterika malam itu. Saya langsung sujud syukur karena dianugerahi mata berminus banyak.

Tentu saja cerita yang mistis-mistis sedap banyak beredar di kalangan santriwan santriwati. Biasanya lengkap disertai keterangan zona eksklusif makhluk gaib.

“Ah, dekat sungai itu memang pasarnya.”

“Di pojok sana ada kerajaan.”

“Tempat jemuran dekat pohon duren lokasi futsalnya jin.”

Dan kamar mandi adalah tempat paling populer yang kerap dihuni makhluk bombastis.

“Kami menyebutnya Guldo. Wujudnya laki-laki. Badannya di bilik mandi nomor satu, kepalanya di bilik nomor empat. Lehernya molor sepanjang enam meter,” suatu kali kawan saya berkisah tentang pesantrennya.

Iklan

“Guldo?”

“Gulu dowo (leher panjang).”

Saya langsung keselek. Busyeeet! Ini pesantren apa Studio Ghibli?

Teman saya yang lain, namanya Kasan, pernah nyantri di kaki Gunung Welirang selama lima tahun dan punya banyak cerita begituan pula.

“Aku pernah cuci baju sendirian jam sebelas malam di kamar mandi yang bentuknya lorong panjang dengan penerangan yang buruk. Di bilik nomor tengah suara byar byur jelas sekali. Tapi, nggak ada seorang pun yang keluar dari sana.”

Jadi, jangan ngakak kalau para santri yang merupakan lelaki tanggung ini minta diantar ke kamar mandi malam-malam. Penampakan pun bisa terjadi karena berupa ujian bagi santri yang sedang tirakat. Misalnya yang ditemui Juju saat wudu ketika sedang menghafal Al-Quran. Di hari kesekian, ia mendapati bak mandi penuh dengan bola mata mendelik.

“Ya Allah!” serunya, segera ngibrit.

Di pesantrennya Kasan, fenomena kemamang alias bola merah berpijar yang melayang di sela-sela pinus adalah pemandangan yang sudah biasa. Namun, saat gedung asrama santriwati terbakar di sepertiga malam, desas-desus berembus bahwa sebelumnya bola api berkobar melayang-layang di sekitar dan diyakini merupakan kiriman oknum yang tidak menyukai pesantren modern itu berdiri. Sekumpulan santri garis mistis langsung membentuk tim yang bertugas keliling setiap malam, merapal doa, “memagari” pesantren.

Selama sebulan suasana mencekam meliputi pesantren. Meski begitu, laporan kepolisian mengungkap kebakaran terjadi karena seseorang lupa mencabut kabel heater yang kerap digunakan untuk merebus Indomie di kamar. Banyak santriwati luka dan patah tulang karena panik, melompat dari lantai dua. Nahas, seorang santriwati yang enggan bangun, tewas. Mayatnya ditemukan terpanggang sembari memegang tasbih.

Meski terkesan horor, cerita yang mempertebal keimanan di pesantren jelas ada. Seorang santri yang sengaja salat malam pernah suatu malam otomatis menjadi imam bagi banyak makmum tak kasat mata. Salah satu makmumnya mengembuskan napas di belakang tengkuk sang imam. Saat khataman Al-Quran di aula pondok, saya sendiri pernah sayup-sayup mendengar suara para lelaki mengaji. Merdu. Itu kemustahilan karena aula hanya berisi santriwati yang berjubel.

Dari sekian banyak cerita horor, pasti selalu ada cerita mengenai penampakan demit kebanggaan rakyat nusantara. Teman Kasan yang indigo, di tiga hari pertama kedatangannya di pesantren, selalu ketindihan pada tengah malam dan di saat itulah ia melihat pocong terpacak di balik pintu kamar. Dari dua puluh santri yang tidur di kamar tersebut, hanya ia yang bisa melihat.

Pernah pula suatu malam saat terkunci di lantai tiga ketika jam muadalah berlangsung, teman Kasan yang pemberani itu kejatuhan sesuatu. Refleks tangannya terbuka menangkap benda random jatuh yang ternyata sebatang pocong.

Juju, bocah lugu yang dulu sempat diteror andong pocong, kini adalah seorang santri teladan. Tapi, yang paling menyebalkan adalah pengalamannya sepulang rewang (bantu-bantu hajatan) di rumah tetangga desa. Saat itu ada tetangga yang meninggal dan beberapa santri memang ditugasi Pak Kiai untuk ikut tahlilan dan bantu-bantu. Di malam ketujuh Juju ditinggal teman-temannya pulang lebih dulu. Terpaksa ia pulang sendirian, hampir tengah malam, melewati kuburan desa.

“Dari pepohonan, pocong itu terbang, benar-benar terbang ke arahku,” kisahnya.

“Beneran pocong?”

“Iya! Jangan percaya kalau pocong itu lompat-lompat kayak di tipi. Pocong selalu terbang!”

Bukannya lari terbirit-birit, kaki Juju malah kaku, terpaku di tanah. Tubuhnya bergetar. La wong, head to head sama pocong. Lantas sekejap ia teringat anjuran teman-temannya mengenai mantra yang paling manjur untuk mengusir demit.

Ayat Kursi?

Bukan.

An-Nas?

Bukan.

Alif ba ta versi Karyo teman Agus Mulyadi?

Bukan pula.

Apa lagi? Kan menurut Mz Bagus Panuntun, tiada pocong yang kafir.

Juju memilih memaki sefasih-fasihnya. “Juaaancuuuk! Jancoook! Coooks! Juaaancyuuuk!”

Ia meneriakkan umpatan sekeras mungkin. Hingga ludahnya nyembur ke mana-mana. Ajaib, si pocong langsung hengkang. Hilang.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: hantuHororPesantrenpocong
Amanatia Junda

Amanatia Junda

Amanatia Junda redaktur tamu Kanal Pemilu 2024 Suara Politik Perempuan.

Artikel Terkait

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO
Seni

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

25 Mei 2026
Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO
Seni

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Edi Dimyati, alumnus Unpad yang mendirikan perpustakaan di Jakarta Timur. MOJOK.CO

Sering Dikira Montir sampai Petugas Pertamina, Lulusan Unpad Ini Sebetulnya Punya Perpustakaan Gratis di Pinggiran Sungai Jakarta Timur

10 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.