MOJOK.CO Notifikasi yang bunyi terus lama-lama bikin muak juga. Terpujilah kalian yang jarang online tanpa terbebani apapun. Walau dibilang antisosial, hidup kalian mevvah!

Banyak orang berpikir wujud kemewahan itu berupa rumah bertingkat, mobil sport, sampai perhiasan mahal. Mohon maaf kejauhan. Karena saya dan sebagian besar dari kalian bisa dibilang belum sampai untuk membayangkannya, maka kita akan cari bentuk kemewahan yang lain.

Setelah menimbang-nimbang, kebahagiaan dari hal receh yang patut dapat predikat mewah adalah: jarang online tanpa beban. Saya mempelajari ini dari adik saya yang akun Instagram dan Twitternya cuma hiasan. Facebook pun dia nggak punya. Satu-satunya yang sering dia lakukan dengan ponselnya hanya Mobile Legend.

Hidupnya sungguh santuy. Ketika saya membahas soal prahara baku hantam yang viral dia nggak pernah tahu. Jawabannya selalu sama, “Ah, nggak peduli.” Seketika saya ingin tepuk tangan tepat di sebelah kupingnya. Wow, manusia jarang online memang beda.

Bisa jadi, saya orang yang FOMO (Fear of Missing Out). Saya selalu takut jalan di atas bumi tanpa mengetahui kabar bumi yang saya pijak sendiri. Setiap malam saya cuma scroll media sosial sampai ngantuk. Dan saya paham betul, kalau saya nggak melakukan hal itu, sebenarnya nggak masalah. Tapi saya merasa gatel dan khawatir aja. Seoal scrolling medsos itu ritual wajib untuk menyembah pageviews. Aneh banget.

Baca juga:  Drama Kembalinya Awkarin yang Jual Akun Instagram ke Dirinya Sendiri

Hingga pandemi menyerang, informasi dan kekecewaan terus berdatangan. Saya sampai pengin nikah sama orang New Zealand biar bisa tinggal di sana. Lebih enteng untuk bodo amat sama media sosial dan bakalan jarang online. Walau hari-hari saya tetap akan dipenuhi masalah, setidaknya itu bukan karena saking capeknya sambat sama pemerintah yang kek tai. 

Oke, adakah bule New Zealand di sini?

Jujur lelah banget lihat media sosial belakangan. Belum lagi ngurusin grup WhatsApp yang notifikasinya nggak pernah berhenti. Namun mengubah perilaku online nggak serta merta bikin kita langsung hidup damai. Hal pertama yang akan kalian dapat adalah nyinyiran karena jarang online dianggap sebagai antisosial.

Sepuluh tahun dari hari ini, pengertian antisosial adalah orang yang main hape terus dan nggak peduli sama lingkungan sekitar. Sekarang jadi kebalik banget. Orang yang jarang online walau lebih banyak bersosialisasi tatap muka yang dianggap antisosial. Tatanan yang sungguh berubah-ubah kayak sikap pemerintah.

Padahal sebagian dari orang yang dianggap antisosial ini meresapi nilai kehidupan yang lebih baik karena jarang online. Mereka nggak terbebani dengan gregetnya comment war di Twitter cuma karena beda pendapat. Mereka nggak peduli dengan persona selebtwit, selebgram, seleb TikTok yang memang nggak ada ngaruhnya ke kehidupan mereka.

Saya pengin banget bisa begitu. Tenggelam dalam mode pesawat di ponsel dan bersenang-senang. Sayangnya, kalau kayak gitu saya nggak kerja jadinya.

Baca juga:  Wahai Indonesia, Mengapa Kau Tak Marah pada Caption Sebusuk Itu?

Menjadi ‘antisosial’ saat ini bisa membantu kualitas hidup lebih baik. Setiap harinya kita bersinggungan dengan hal negatif di media sosial. Terus-terusan. Hilang Hasanjr11, muncul Ferdian Paleka, lalu disusul kemunculan Indira Kalistha yang bikin refleks teriak, “Naniiii?!”. Belum lagi jika kalian adalah seorang pembuat konten yang tiap hari dicari terus kesalahannya. Typo dikit dikatain, punya argumen A disleding, nulis panjang-panjang dibilang nggak penting dan cuma caper… eh.

Hal-hal negatif yang kita konsumsi setiap hari bertumpuk, lalu berpengaruh pada kesehatan mental kita sendiri. Beberapa psikolog sepakat jika media sosial punya andil menurunkan kualitas tidur. Makin nggak tenang ae hidupnya. Istirahat aja nggak maksimal.

Mulai sekarang saya mau bodo amat dibilang antisosial. Mulai dari WhatsApp yang paling bikin capek notifikasinya, saya bakal jarang online. Selanjutnya tinggal menahan diri untuk nggak scrolling terus di media sosial lain. Waktu saya hampir habis cuma buat basa-basi.

BACA JUGA Sekarang Waktu yang Paling Tepat untuk Menyesali Takdir Terlahir di Indonesia atau artikel lainnya di POJOKAN.