MOJOK.CO Rasanya kurang seru kalau nggak ikut merayakan kemenangan film Asia di ajang Oscar. Bong Joon-Ho memang layak dihujani piala. Biar yakin, review terbaik Parasite yang membedah habis-habisan film jenius ini harusnya mulai kalian baca.

Tepuk tangan seharian tanpa berhenti pun sebenarnya nggak cukup mengapresiasi garapan sutradara Korea Selatan Bong Joon-ho. Lebih jauh dari sekadar pujian, film Parasite adalah sebuah karya yang menyadarkan penonton tentang sudut-sudut tergelap kelas sosial sesat setelah kita menertawakan kemiskinan.

Ribuan orang bikin review Parasite, tapi ketiga tulisan ini setidaknya yang paling keren buat melengkapi kalian dalam keplonga-plongoan soal film. Saya merekomendasikan tulisan-tulisan yang akan kita bedah ini biar kalian memahami betul mengapa Parasite layak dapat Oscar.

Ngomong-ngomong, bagi kalian yang menganggap spoiler adalah dosa besar para pengulas, sebaiknya nonton dulu filmnya lalu balik lagi. Karena saya nggak ingin masuk neraka hanya karena ngebocorin plot film.

Review Terbaik Parasite #1 “Parasit Wangi Bong Joon-ho” oleh Windu Jusuf

Ulasan ini terbit di Indoprogress. Ketika membaca tulisan ini saya teringat seorang teman yang mangkel karena seusai menonton Parasite, dia sebal dengan ending yang baginya terlalu aneh. Mana ada sih motivasi membunuh orang muncul hanya karena dikatain bau lobak busuk?

Singkatnya, review Parasite yang ditulis oleh Windu akan menjabarkan dengan rinci mengapa bau jadi permasalahan yang begitu krusial. Frasa olok-olok the great unwashed dicetuskan oleh novelis Edward Bulwer-Lytton untuk menggambarkan orang-orang di sudut kota di Britania Raya sejak revolusi industri juga dipakai sebagai pijakan analisa. Mereka adalah si miskin yang mandi pun sulit karena tidak terjamah air.

Bau memang bukan sekadar soal hidung, tapi juga kelas sosial. Orang kaya bisa dengan mudah memilih bau mereka seperti keluarga Park di film Parasite. Kemampuan beli parfum mahal sekelas Dior atau Channel, akses air bersih, hingga rumah dengan sirkulasi udara bagus membuat si kaya selalu wangi. Tidak heran kalau Jason Ranti pernah tanya ke Gofar Hilman apakah Putri Tanjung -mantannya Gofar- punya bau yang begitu wangi? Semata karena Putri Tanjung adalah anak dari salah satu orang terkaya di Indonesia.

Baca juga:  7 Rekomendasi Film Ramadan untuk Menambah Keimanan dari Segala Aspek

Sementara itu, keluarga Kim Ki-taek yang digambarkan sebagai pemangku kelas sosial terendah punya masalah serius dengan bau. Mereka tinggal di sebuah rumah yang bahkan lubang kotorannya lebih tinggi dari kedudukan mereka. Sanitasi jelas sebuah privilese. Mereka nggak mungkin bisa beli parfum karena internetan aja nyolong wi-fi tetangga. Kita nggak pernah menemukan ada yang jualan parfum wangi lobak busuk, wangi selokan, wangi muntahan, apalagi kencing. Karena bau juga mengenal kelas, ada yang busuk ada yang harum semerbak. Semakin wangi maka semakin mahal.

Selain soal bau, filosofi di balik judul Parasite ternyata adalah sindiran terhadap kaum chaebol, konglomerat Korea Selatan yang punya kekayaan berbasis kelurga dari sitaan aset-aset peninggalan Jepang, kucuran utang negara, sampai hasil monopoli. Metamorfosis kapitalis sempurna yang jadi isu nasional Korsel pada 1948-1960.

Kata ‘parasit’ di judul memang bukan hanya soal metafora keluarga si miskin yang menghisap habis-habisan harta si kaya. Lebih dalamlah menyelam karena film Parasite memang setara Palung Mariana yang dalam.

Review Terbaik Parasite #2 “Parasite: Kelas Sosial Melampaui Visual” oleh Raksa Santana

Ulasan ini terbit di di Cinema Poetica. Sementara semua orang memang mengerti bahwa film Parasite adalah soal pertarungan kelas, Raksa Santana menguraikannya dengan bukti visual. Film ini memang layak dibuka dengan kaus kaki yang digantung setinggi plafon rumah untuk menggambarkan distribusi penghuni kelas sosial.

Keluarga Kim Ki-taek punya toilet yang tinggi dan bahkan sering dijadikan sebuah spot buat cari sinya wi-fi. Visualisasi film Parasite hadir sebagai sebuah garis vertikal yang jelas. Kelas bawah tinggal di bruang semi bunker yang bahkan jendela rumahnya sering jadi sasaran kencing sembarangan. Hujan deras jelas akan menenggelamkan rumah mereka terlebih dahulu.

Sementara kelas atas punya rumah yang bahkan masuk ke dalamnya pun perlu naik tangga. Hujan deras bagi mereka adalah berkah kesuburan, bukan bencana yang mengancam. Inilah kenapa keluarga Park dalam film Parasite mengadakan pesta untuk merayakan cuaca cerah setelah hujan berkepanjangan. Klise sekaligus menyakitkan.

Baca juga:  5 Hal yang Sering Diucapkan Seorang Movie Snob, Kamu yang Mana?

Dalam review ini, Raksa Santana menggambarkan kelas sosial dalam visualisasi yang tampak dan yang abstrak. Visual yang tampak mudah kita sadari dan tergambar secara gamblang sementara yang abstrak jauh lebih implisit lagi. Soal bau, soal denyut nadi, ruang bawah tanah, dan bagaimana sesama manusia memandang manusia lain walau kelas sosialnya beda.

Review Terbaik Parasite #3 “7 Hal Ganjil di Film Parasite (SPOILER ALERT)” oleh Felicia Michellin

Ulasan ini terbit di The Shonet. Berbeda dari review Parasite sebelumnya, tulisan ini pro kepada bedahan misteri bagi penonton yang keluar bioskop dengan tanda tanya. Mulai dari trik yang dipakai Ki-jung agar Da-song nurut sama dia, Ki-woo yang terobsesi dengan batu pemberian temannya, sandi morse, hingga soal kenapa CCTV nggak ada di dalam rumah keluarga Tuan Park.

Parasite memang menarik bagi dari segi penceritaan sampai ke hal-hal yang sifatnya easter egg begini. Ulasan yang ditulis Felicia mampu mengakomodir rasa penasaran penonton yang kayaknya nggak cukup sekali dua kali mendiskusikannya di warung kopi. Dengan bahasa yang santai, ulasan ini menggiring jiwa-jiwa bingung yang mungkin belum menemukan keistimewaan film Parasite.

Tiga ulasan di atas adalah paket lengkap memahami film Parasite secara utuh. Saya secara pribadi merekomendasikan kalian baca sendiri satu per satu dari link yang sudah tertera. Makin yakin kalau Bong Joon-ho orang sakti yang bisa menjajah perfilman Hollyweed.

Sementara buat kalian yang ingin belajar nulis skenario atau bahkan terinspirasi meneliti film Parasite pakai metode analisis wacana kritis Fairclough dan butuh skenarionya, kalian bisa baca di sini.

BACA JUGA Membongkar Rahasia Film ‘1917’ yang Makin Bikin Ploga-plongo atau artikel lainnya di POJOKAN.