MOJOK.CO  Film 1917 bukan hanya menyajikan sebuah peperangan melainkan visualisasi film yang sungguh menarik. Mana ada sineas yang berani bikin film perang pakai konsep one take one shot?! Sam Mendes sudah gila.

Review film 1917 ini mengandung spoiler level sedang.
Skor layak tonton : 9/10

Andai kalian cuma punya uang buat menonton satu film di bulan Januari, 1917 adalah sebaik-baiknya pilihan. Film semacam ini belum keruan muncul lima tahun sekali. Gabungan antara teknik sinematografi andal ditambah penceritaan perang dari sisi yang berbeda.

Saya nggak punya intensi apa-apa dengan film perang. Saya bahkan pernah bodoh mempercayai kalau pendanaan film perang yang gila-gilaan lebih baik buat dana pensiun veterannya. Karena umumnya, pendanaan yang besar berbanding lurus dengan film perang yang seru. Tapi ternyata, orang kreatif bisa mengalahkan orang yang sok idealis.

Film perang bukan sekadar bakar uang, film perang adalah momen mengilhami betapa manusia bisa saling menghancurkan di masa lalu dan tindakan itu adalah kesia-siaan. Selain melahirkan kesedihan, asumsi paling jahat dari berlangsungnya perang adalah mengurangi jumlah populasi penduduk bumi. Sama kayak inti cerita Dan Brown di Inferno.

Film 1917 punya premis yang sederhana. Bukan pada kekerasan dan saling bunuh. Film ini justru bisa menceritakan bahwa perang biasanya hanya didorong oleh hasrat barbar manusia untuk saling serang. Bahkan di level terkecil, saya sering dengar teman saya yang langsung nyeletuk, “Gelut wae po piye?” ketika emosinya tersulut. Insting purba yang ngehek.

Secara garis besar, film 1917 bercerita tentang prajurit muda yang harus menyampaikan pesan kepada Letnan di barisan perang terdepan. Kisah ini diilhami dari Alfred Mendes yang merupakak kakek si sutradara, Sam Mendes. Prajurit itu harus melewati belasan kilometer berjalan kaki di medan perang dengan ancaman tembakan dan ledakan di setiap langkah. Yang bikin edan, film ini berani pakai konsep one take one shot di mana kamera mengikuti aktor utama sepanjang film.

Baca juga:  Naruto, Orang Baik yang Tetap Baik Meski Disakiti

Yang mau memaki Sam Mendes, waktu dan tempat dipersilakan.

Asal kalian tahu, film ini minim CGI. Jumlah figuran tidak terhitung. Parit-parit medan perangnya nyata dan tidak ada lokasi yang diulang untuk scene berikutnya. Belum lagi adegan tercebur sungai yang tetap one shot dan adegan tembak-tembakan di bangunan runtuh pada malam hari yang gila, kayak lukisan.

Lalu kenapa film 1917 bisa epik dan digadang-gadang buat meraih Oscar?

Meski terlihat one shot, film ini sebenarnya menyiasati penggabungan shot dengan teknik editing. Total pengambilan gambar dilakukan selama 65 hari dengan setting waktu dalam film yang cuma dua hari satu malam. Sementara kalian akan dibuat layaknya melihat 2 jam pertunjukkan perang teatrikal, adegan terpanjang tanpa cut dalam film ini hanyalah 9 menit. Hayooo, tebak yang mana? 

Teknik film panjang dengan konsep one shot sebelumnya pernah dipakai Alfred Hitchcock di film Rope (1948) dan Birdman (2015). Tapi percayalah, bawa-bawa cerita perang ke teknik seperti ini sama susahnya dengan kisah cinta beda agama. Hampir mustahil bisa diwujudkan.

Rahasia dari penggabungan shot di film 1917 adalah pada pengenalan atau estabilishment lokasi. Setiap kali aktor terlepas dari layar dan menyorot lokasi, saat itulah sutradara berteriak “Cut!” Lalu mereka memulainya lagi dengan memastikan kondisi lighting masih sama, kondisi aktor masih sama, dan apa yang terlihat sebelumnya masih sama persis. Dalam film, kita menyebutnya sebagai continuity.

Bayangkan betapa sulitnya menyelaraskan continuity ketika sebagian besar adegan diambil di ruang terbuka dengan cahaya matahari yang tidak selalu sama, dan cuaca yang bisa berubah tanpa permisi, ditambah ledakan dan kepulan asap di mana-mana. Sam Mendes mengatakan bahwa dia ingin penonton merasakan betapa sulitnya kru dalam membuat film 1917, sama sulitnya dengan apa yang dilalui orang-orang saat perang.

Baca juga:  Review Film Joker: Tokoh yang Dirampas Kemanusiaannya Sampai Tak Takut Lagi pada Apa-apa

Mulai geleng-geleng kan?

Aktor George MacKay, Dean Charles-Chapman, Bennedict Cumberbatch, dan pemain lainnya bahkan tampil tanpa cacat. Mereka berulang kali melakukan rehearsal di set film bersama kru produksi dan memastikan dialog mereka tidak akan salah. Tentu kalau tiba-tiba aktornya bersin saja, adegannya diulang dari awal, yang repot satu tim. Kalau kalian jeli, ada satu kesalahan yang dibuat aktor Andrew Scott di babak pertama film dan dibiarkan. Iya, film 1917 tetaplah belum sempurna.

 

Saya teringat sebuah dialog di adegan V for Vendetta (2005), yang katanya: Seniman gunakan kebohongan untuk beritakan kebenaran, sementara politikus gunakan kebohongan untuk menutupi kebenaran.

Apa yang terlihat dalam layar film bisa jadi sebuah rekaan adegan perang yang memang bohongan. Tapi keseluruhan statement dalam film perlahan mampu memberikan definisi baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Di saat inilah kita menyadari bahwa seni nggak pernah dimaksudkan untuk sekadar bagus, tapi bermakna.

Pergilah menonton film 1917 di bioskop. Saran saya jangan bawa teman resek yang suka nyeletuk. Karena saat adegan si aktor duduk di bawah pohon dan membuka kotak berisi foto, teman saya ada yang refleks bilang, “Woh, mau baca Yasin nih!” seketika melankolianya hancur.

BACA JUGA Review Film NKCTHI: Kritik Untuk Pola Didik Orang Tua Kaya di Asia atau artikel AJENG RIZKA lainnya.