MOJOK.CO Banyak yang ngakunya open minded tapi ngegas terus. Padahal definisi open minded sebenarnya yang nggak sesederhana bacotan orang di medsos yang ngatain orang lain close minded. Pffft~

Open minded sebenarnya bukan istilah yang susah dipahami. Istilah yang berasal dari bahasa Inggris supersimpel ini jika diartikan secara apa adanya mengarah pada kata sifat. Artinya seseorang yang punya pikiran terbuka.

Orang open minded lebih mau menerima perubahan dan hal-hal baru. Mereka nggak lantas marah-marah saat tahu bule ceboknya cuma pakai tisu.

Sementara lawannya adalah close minded atau si orang dengan pikiran tertutup yang cenderung nggak mau menerima ide-ide baru dan mempertahankan gaya lama. Mungkin telanjur nyaman.

Sayangnya ada yang ngawur dari pembelokan definisi open minded di kalangan netizen asal bacot. Open minded yang seharusnya dianggap sebagai sebuah lifestyle pencerahan justru dikata-katain ngawur. Begini, saya ceritakan duduk perkaranya dari awal.

Netizen mulai mengklaim diri mereka open minded saat menerima perubahan-perubahan yang arahnya melanggar norma dan batasan agama. Mereka juga cenderung menerima ide-ide baru dan kebiasaan yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Dalam sosiologi, kelompok dengan pemikiran seperti ini disebut masyarakat inklusif.

Pada awalnya ini tidak masalah sampai mereka berdebat dengan orang-orang yang lebih mempertahankan cara lama dan menganggap perubahan adalah sesuatu yang mengerikan. Orang-orang seperti ini kemudian diteriaki close minded yang secara sosiologi disebut masyarakat eksklusif.

Baca juga:  Nostalgia Pengalaman Sebagai Orang Miskin Nggak Bikin Kaya, Tapi Bikin Bersyukur

Lambat laun open minded mendapatkan definisi peyoratif dari netizen itu sendiri. Mereka merasa orang open minded ini sudah tidak terkontrol karena selalu los sekarepe dewe. Stigmanya jadi seolah orang berpikiran terbuka itu yang berani melewati batas norma sosial, santai menanggapi alkohol dan seks bebas, dan bisa diajak bercandaan agama, bahkan berani menyatakan tidak beragama.

Oke, santai dulu.

Sebenarnya kita kejauhan untuk mengatai orang open minded ini dan itu. Berpikiran terbuka bukan hanya soal beragama. Open minded tetaplah kata sifat, bukan kata kerja. Baiknya kita meresapi definisi open minded dengan ciri-ciri di bawah ini.

1. Open minded cenderung suka mendiskusikan ide baru sementara close minded merasa jengah kalau harus berdebat.

2. Mereka yang open minded lebih skeptis dan banyak kasih pertanyaan ketimbang close minded yang hobinya ngasih statement buat menyatakan dia benar.

3. Orang open minded fokus kasih pemahaman orang lain, sementara close minded lebih fokus ke pemahaman dia sendiri.

4. Orang open minded  biasanya bilang “Mungkin aku salah, tapi…” lalu diikuti pertanyaan diskursif tentang hal yang dia ragukan. Sementara yang close minded justru bilang, “Mungkin aku salah, tapi itu pendapatku sih, terserah kamu mau bilang apa.”

5. Sementara orang open minded lebih tertarik untuk mendengarkan ketimbang berbicara, orang close minded justru nyuruh orang lain nggak bacot mulu.

Baca juga:  Menelisik Fenomena Cuddle dengan Orang Asing dari Mereka yang Menjalaninya

6. Open minded berarti mampu menerima dua pemikiran dengan konsep berbeda, memproses dan memikirkannya, lalu melakukan redefinisi dari apa yang dia pahami. Mereka tahu kapan harus berhenti dan harus berargumen.

7. Si open minded selalu takut statemen mereka salah, untuk itu mereka memikirkannya benar-benar dan tidak keberatan menerima kritik.

Jadi orang yang menuduh orang lain close minded sebenarnya merekalah yang close minded. Bahkan mbak-mbak yang ngatain orang open minded ngetawain Islam mulu belum tentu lebih terbuka daripada yang dia kata-katai.

Intinya definisi open minded nggak sesederhana bacot netizen di medsos. Jangan-jangan kita memang suka bikin peyorasi makna terhadap istilah yang seharusnya diartikan positif?

BACA JUGA 9 Kebiasaan Menyebalkan yang Pelakunya Sering Nggak Sadar Itu Menyebalkan atau artikel AJENG RIZKA lainnya.