MOJOK.CO  Beli baju lebaran pas pandemi dan rela-relanya mengantri bikin kita nggak fokus buat mengkritik pemerintah. Mau kritik gimana, orang rakyatnya sendiri aja bebal.

Waktu ngobrol-ngobrol cantik dengan salah satu excecutive producer televisi swasta, saya mendapatkan sebuah insight menyedihkan tentang perekonomian yang ikut terdampak pandemi. Sektor rekreasi kuliner jadi nomor satu yang paling merugi. Selain karena orang-orang takut mengonsumsi makanan luar, ngapain juga kongkow di cafe sampai malam kalau nggak penting?

Sektor yang merugi kedua adalah bidang fesyen. Orang-orang sekarang ini banyak diam di rumah dan hampir nggak ada acara penting dan pertemuan tetek bengek yang biasanya suka diada-adain. Mau pakai baju karung goni buat menghayati perjuangan zaman penjajahan pun sah dilakukan. Nggak ada yang protes, kok.

Keluarga saya hidup dengan pendapatan di bidang fesyen, dan saya merasakan sendiri penjualan yang terjun bebas. Jangankan setengahnya, penjualan kami hanya sepertiga dari hari-hari biasa. Beberapa rekan sempat menutup total toko mereka karena sudah nggak mampu lagi menggaji para karyawan. Bagi saya dan keluarga, kiamat sudah sejengkal jaraknya.

Sayangnya pagi ini saya makin tercabik karena melihat foto kerumunan orang di media sosial. Seakan tanpa dosa mereka mengantri beli baju lebaran pas masa pandemi. Mana di depan retail-retail besar lagi! Tercatat Matahari Department Store, Roxy, hingga Duta Mode Purwokerto membuktikan bahwa fesyen nggak mati sekalipun pandemi.

Gila, saya ingin tepuk tangan kenceng banget dikupingnya Indira Kalistha. Ternyata orang kayak dia itu banyak. Beli baju lebaran pas pandemi begini sebenarnya buat apa sih?! Bebeapa masjid sudah nggak mengadakan salat Idul Fitri, silaturahmi dilakukan secara termediasi, terus mau mejeng pakai baju baru di mana? Masa mau pakai baju baru sambil maraton The World of the Married di kamar sih?!

Gini loh, kalau ada yang berkilah beli baju lebaran pas pandemi buat ngelarisin dagangan orang-orang. Lha mbok beli aja di pedangan atau toko yang sekiranya sepi. Ini baru benar. Bukan di retail besar favorit umat itu ya. Protokol kesehatan juga harusnya tetap dipatuhi.

Baca juga:  Jerinx SID, Cerita Misteri, Hingga Sabdo Palon: Tentang Identitas dan Cara Mengatasi Kegelisahan

Lagian fesyen itu bukan barang esensial yang kalau nggak beli bikin kalian mati. Ingat kata Dhea Ananda, “Baju baru alhamdulillah. Tuk dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa. Masih ada baju yang lama.” Petuah yang begitu indah dan menentramkan.

Kalau kalian kenal ada orang yang ngeluh soal pendapatan dan THR tapi sempat antri beli baju lebaran pas pandemi begini. Tolong sampaikan kalau banyak netizen yang mau COD-an baku hantam.

Sikap masyarakat bebal ini bikin kita kehilangan amunisi buat mengkritik pemerintah. Selama ini saya emang sebel sama Jokowi, sama Menkes, dan sama menteri-menteri lain yang suka membolak-balikkan kebijakan dan bikin rakyat bingung. Akui saja kalau pemerintah memang gagap menghadapi pandemi corona.

Tapi kalau masyarakatnya aja abai sama protokol kesehatan dari pemerintah, sibuk hura-hura dengan mengantri beli baju lebaran, balik pemerintah yang bakal mengkritik kita habis-habisan. Maka dalam upaya saling sliding skornya jadi imbang. Pemerintah -1 vs masyarakat -1.

Iya, kelakuan minus dua-duanya.

PR kita adalah buat mencari jalan tengah. Biar perekonomian tetap berjalan lancar, sektor yang terkena dampak bisa bangkit lagi, tapi entah gimana caranya biar si virus corona bangsat itu nggak menyebar lebih luas. Sebenarnya ada skema new normal yang bisa kita tempuh. Tinggal kesiapan pemerintah dan kesigapan masyarakat aja.

Baca juga:  Liga Inggris, Dominic Cummings, dan Ajakan Jokowi Hidup Damai dengan Corona

Nah, kalau belum apa-apa udah pada dablek ya maaf aja, Bos. Ekonomi yang pulih cuma impian, bebas dari corona pun angan-angan.

Jadi, jika tidak ada kendala, Hippindo (Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia) bakal memutuskan membuka mal di Jakarta mulai 8 Juni mendatang. Waktu yang sungguh singkat buat menata hati dan mental. Keputusan ini jelas serupa menelan pil pahit. Kalau nggak segera dibuka, ekonomi bakal kacau. Sementara kalau dibuka dan masyarakatnya masih tipe-tipe bebal kayak yang beli baju lebaran pas pandemi begini, kerumunan tanpa protokol kesehatan bakal tercipta. Hail corona virus~

Satu-satunya yang bisa dikerahkan dalam keadaan serba chaotic adalah otak dan sikap masing-masing individu. Sayangnya saya kok merasa kalau masyarakat Indonesia itu nggak semuanya mau diajak waras ya.

BACA JUGA WhatsApp Sekarang Jadi Medsos yang Bikin Capek Lahir Batin atau artikel lainnya di POJOKAN.