MOJOK.COSelalu ada yang sentimentil dengan lebaran. Termasuk saat musim corona seperti sekarang ini.

Ada satu hal yang bagi saya begitu membekas tiap kali lebaran datang, yakni momen ketika kita sungkem kepada para sesepuh di kampung untuk meminta maaf atas kesalahan yang mungkin sudah kita perbuat (yang mana sering kali kita tak pernah mengingatnya).

Momen di mana kita bisa dengan jelas melihat tangan mereka yang sudah benar-benar keriput. Tangan yang di masa lalu sudah menantang berbagai kegetiran hidup. Fisik mereka yang semakin ringkih. Dan kemampuan berbicara yang semakin lirih.

“Mugo dosamu, dosaku, dilebur ing dino bakdo iki, Mugo aku lan awakmu iso menangi bakdo ngarep,” (semoga dosamu, dosaku, dilebur di hari raya ini, semoga aku dan kamu masih bisa menjumpai hari raya tahun depan) begitu doa yang mereka rapalkan.

Doa sederhana namun begitu membekas. Doa sederhana yang bisa jadi adalah musabab kita belum akan mampus setidaknya sampai lebaran tahun depan.

Tahun ini, lebaran tahun ini, keadaan tampaknya bakal berbeda. Kita kemungkinan besar tidak bisa sungkem kepada orang-orang sepuh di kampung kita, alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena hari raya mendatang masih dalam masa darurat corona. Menjadi sangat terlarang bagi kita untuk menyambangi para orang sepuh di kampung, apalagi menyungkeminya. 

Bagi banyak orang, perbedaan lebaran tahun ini bukan hanya tentang corona, namun juga tentang kenangan akan orang-orang terkasih yang meninggal mendahului mereka.

Dan sial betul, lebaran kali ini, saya bakal menjadi salah satu orang yang harus menghadapi kenangan-kenangan itu.

Adalah Mbah Mi, yang bakal menjadi pembeda bagi lebaran saya tahun ini. Ia adalah adik kandung nenek saya. Mbah Mi tinggal di sebuah rumah petak persis di belakang rumah saya yang memang ia tinggali sendiri. Mbah Mi selalu menjadi orang keempat, setelah ibu saya, bapak saya, dan nenek saya, yang saya sungkemi untuk meminta maaf saat lebaran.

Saya punya semacam tradisi unik di rumah Mbah Mi. Di rumahnya, saat lebaran, dari sekian banyak kudapan di ruang tamunya, ia selalu menyediakan astor. Ya, tentu saja “astor” imitasi, sebab astor yang asli harganya jauh lebih mahal.

Selama hampir sepuluh tahun terakhir, sayalah yang selalu menjadi orang yang mereyen alias penjajal pertama astor itu. Menjadi orang pertama yang mengambil astor dalam plastik yang memang oleh pabriknya didesain agar mudah diambil sebagai awalan.

Saking seringnya, Mbah Mi sampai hafal kebiasaan saya itu. Saya tak ubahnya seperti seorang petugas quality control untuk astor yang disediakan Mbah Mi.

Tape ketan nenek, dan astor Mbah Mi, selalu menjadi cemilan yang sederhana namun spesial setiap lebaran.

Beberapa waktu yang lewat, saat sedang berbelanja kebutuhan makanan di Indomaret, saya iseng membeli dua kaleng astor. Satu astor asli, satunya lagi imitasi.

Ketika membuka kaleng astor imitasi yang berbahan plastik bening itu, saya langsung teringat pada Mbah Mi. Saya langsung teringat bagaimana rasanya ngletheki selotipn pengaman yang terpasang mengelilingi tutup kaleng astor untuk kemudian mengambil astor pertama.

Lebaran tahun ini akan menjadi lebaran yang sangat berbeda. Saya tak akan mereyen astor di rumah Mbah Mi. Dan begitu pula lebaran di tahun-tahun berikutnya.

Mbah Mi meninggal tiga bulan lalu, beberapa hari sebelum saya menikah. Rumah Mbah Mi kini kosong. Dan tak akan pernah lagi ada astor di meja ruang tamunya untuk saya cicipi.

Aneh sekali. Memandangi astor rasanya tak pernah sesentimentil ini.

Tentu saja ini hanya soal giliran. Sekarang kita merasakan lebaran dengan suasana yang berbeda karena orang terkasih sudah berpulang mendahului kita. Kelak, orang-orang terkasih kitalah yang akan merasakan lebaran yang berbeda sebab kita keburu berpulang mendahului mereka.

Ah, lebaran, sampai kapan pun, memang akan selalu berbeda.

Baca juga:  Terima Kasih Bu Susi, Sudah Angkat Derajat Lulusan Kejar Paket C