MOJOK.CO Mendadak dada terasa sesak, lalu curiga kalau tubuh sudah tertular COVID-19. Santai dulu, bisa jadi kalian hanya psikosomatis, kondisi yang muncul gara-gara terlalu parno.

Beberapa waktu yang lalu, banyak kawan saya yang mendadak merasa sesak napas dan takut banget kalau tertular COVID-19. Rasa sesak itu sungguh nyata, katanya. Ketakutan pun tidak terbendung dan mereka mengidam-idamkan untuk test corona.

Tapi tidak semua gejala-gejala yang kalian rasakan memang benar-benar karena kalian positif COVID-19, ada sebuah kondisi yang disebut dengan psikosomatis. Singkatnya psikosomatis adalah gejala fisik yang diakibatkan karena mental. Nggak hanya soal sesak napas dan yang berhubungan dengan virus corona, psikosomatis bisa beragam bentuknya.

Tubuh kita bukanlah sebuah entitas ‘bisu’ yang tidak bisa merespons apa pun. Bahkan gejala fisik sebenarnya berhubungan erat dengan bagaimana pikiran bekerja. Perasaan cemas, takut, dan khawatir memicu adrenalin mengalir lebih deras dan mampu mempengaruhi mental. Ketika kalian terlalu banyak membaca informasi mengerikan tentang suatu penyakit termasuk COVID-19, respons tubuh bisa begitu tidak terduga.

Sebenarnya respons tubuh terhadap faktor mental adalah hal yang wajar. Sama seperti respons kamu yang bahagia ketika di-chat si dia. Hadeeeh.

Sementara itu, respons tubuh bukanlah sebuah ‘bahasa’ yang mungkin kita pahami. Saking parnonya ketularan corona, tubuh justru memberi sinyal sesak napas, demam tinggi, hingga batuk-batuk. Padahal, belum tentu setelah dites kalian positif COVID-19.

Baca juga:  Cerita tentang Bagaimana Vietnam Memenangkan Perang Lawan Pandemi

Kesehatan mental bisa berimbas secara langsung ke tubuh. Misalnya ketika depresi, seseorang cenderung nggak mau makan, mengalami kesulitan tidur, dst. dst.. Kekurangan nutrisi kemudian bisa diderita akibat mental yang tidak sehat.

Lebih dari itu, mental juga bisa berpengaruh terhadap bagaimana kita memikirkan suatu penyakit. Tanpa ada yang berubah dari pola makan dan pola tidur, ketakutan bisa menggiring kalian kepada penyakit serius atau memperparah penyakit yang sudah ada sebelumnya. Inilah yang mungkin kalian alami ketika menghadapi ketakutan soal pandemi corona.

Melalui laporan The Guardian, seseorang pasien pernah mengaku mengalami kebutaan. Setelah melewati pemeriksaan mata, saraf, hingga fungsi otak, dokter tidak menemukan sedikit pun kesalahan. Pasien tersebut kemudian dirujuk ke psikiater untuk diberikan terapi dan kondisinya berangsur membaik. Aslinya, si pasien bahkan nggak mengalami kebutaan, namun alam bawah sadarnya seolah menganggap bahwa matanya tidak bisa melihat lagi, dia mengalami psikosomatis.

Yang lebih parah, psikosomatis juga bisa menular seacara emosional. Ketika kalian ngomongin virus corona dan menyebarkan ketakutan pada kawan kalian, bukan mustahil kalau kalian sedang menularkan kondisi psikosomatis. Kawan kalian mulai parno, ketakutan, dan batuk-batuk.

Untuk itu, kunci dalam menghadapi pandemi ini adalah dengan tidak memikirkannya berlarut-larut. Benar kalau pandemi corona mengerikan, benar kalau vaksinnya masih dalam proses percobaan, dan benar kalau kita semua harus mulai jaga kesehatan agar terhindar dari virus menyebalkan ini. Tapi waspada bukan berarti sama dengan parno.

Baca juga:  Liga Inggris dan Liga Lain yang Menangguhkan Pertandingan: Sebuah Solusi

Cara menghadapi gejala psikosomatis adalah dengan manajemen stres. Pahami betul bagaimana virus corona bisa menyerang tubuh. Jika kalian sudah menghindari kontak sosial dan rajin menjaga kebersihan, maka jangan terburu-buru melakukan self-diagnose.

Lakukan meditasi, atau aktivitas yang membuat kalian senang. Walau saat ini kita semua sedang mengalami masa-masa sulit, masih ada banyak cara untuk tertawa, kawan.

BACA JUGA Cara Meningkatkan Sistem Imun demi Daya Tahan Tubuh yang Ciamik atau artikel lainnya di PENJASKES.