Cerita Pasien Covid-19 : Lantai 12 Wisma Atlet Pelepas Suntuk

Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana

Sayup ku dengar melodi cinta yang menggema

Terasa kembali gelora jiwa mudaku

Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut.

Suara Fahmi Sahab mengalun lembut di antara lorong-lorong gedung. Hentakan kendang pun mengiring merdu. Lima orang perempuan mencoba mengikuti gerakan seragam. Di sela goyangannya, suara tawa berderai menertawakan gerakan yang salah atau tidak sesuai.

Sebuah gawai telepon dengan layar berukuran 6 inci disandarkan di salah satu tiang gedung. Seluruh pandangan mata perempuan tersebut terfokus pada sosok perempuan yang muncul di layar. Suara musik dan lirik Kopi Dangdut pun berasal dari gawai.

Septia, 24 tahun, baru beberapa hari menjalani isolasi mandiri di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Tiada teman, tiada kerabat yang menyertainya. Hanya beberapa lembar pakaian ganti, dan perlengkapan pribadi lainnya yang datang bersamanya. Hanya itu pula yang akan menemaninya selama kurang lebih 11 hari.

Secarik kertas dari lembaga laboratorium kesehatan diperlihatkan, dan tulisan berwarna merah paling menonjol di antara huruf yang dominan berwarna hitam. Tulisan POSITIF pun terpampang jelas di atas kertas putih tersebut. “Awalnya, saya tidak pernah bermain TikTok, punya akun pun tidak. Baru setelah di sini aplikasinya saya pasang di handphone,” ujarnya.

Lima sepertinya menjadi angka mujarab. Lima orang perempuan dengan umur beragam tersebut belum pernah bertemu sebelumnya. Covid-19-lah yang membawa mereka semua ke Wisma Atlet. Setelah melalui proses penyaringan di lantai dasar, mereka ditempatkan di lantai lima, Menara Lima. Kamarnya pun saling berdekatan. Dan pertama kali bertemu di lantai dua belas, ketika kegiatan senam aerobik dilaksanakan secara swadaya oleh pasien lainnya.

Lantai dua belas juga sering digunakan oleh para pasien untuk melepas penat dan rasa kuatir. Pemandangan Kota Jakarta akan terlihat jelas dari sini. Dan kadang kala pula banyak yang sekadar berleha-leha di atas bangku semen sambil berbaring. Pemandangan kala matahari terbit dan tenggelam pun akan terlihat jelas jika cuaca mendukung. Jika ingin melihat lebih dari ketinggian, pasien juga bisa mengakses puncak atap di lantai tiga puluh dua.

Tidak hanya pagi atau sore hari, pasien yang menjalankan isolasi mandiri di Wisma Atlet Kemayoran pun biasa menggunakannya lantai dua belas dan lantai tiga puluh dua di malam hari. Melepas penat dengan menyaksikan hiruk pikuk kendaraan dan lampu-lampu kota yang berpijar.

Awalnya karena kami sering ketemu pas senam di lantai dua belas. Dan setelah senam, ada cewek yang mengajak untuk bermain TikTok. Mulai dari situlah kami sering berkumpul dan menirukan gerakan-gerakan dengan diiringi musik,” timpal Tiara, 27 tahun. Baginya, TikTok juga adalah hal yang baru. Di gawainya tidak pernah ia pasang aplikasi tersebut. Seperti halnya Septia, ia juga sedang menjalani isolasi mandiri setelah divonis positif Covid-19 tanpa gejala.

Awalnya hanya iseng-iseng saja. Mengisi waktu luang dan suntuk selama beberapa hari di Wisma Atlet. Daripada terus-terusan memikirkan tentang penyakit Covid-19 yang sedang diderita, mending main TikTok bersama teman-teman di sini,” lanjutnya. Diakui pula, bahwa mereka berlima biasanya berkumpul dan menari hampir setiap hari. Pagi hari sekitar pukul delapan, setelah sarapan, atau di sore hari pas main bola voli di halaman gedung.

Urusan penentuan lagu dan gerakan tarian yang akan peragakan, dilakukan secara mufakat. Lagu berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris, atau bahkan berbahasa Korea biasa mereka peragakan. Mulai dari Lagi Syantik (Siti Badriah-2018), Goyang Nasi Padang (Duo Anggrek-2017), Surrender (Natalie Taylor-2015), atau Any Song (Zico-2020) mereka gunakan sebagai musik latar. Hampir semuanya mereka libas. Dan bisa dibayangkan berapa jumlah unggahan yang mereka hasilkan jika dilakukan minimal dua kali dalam sehari, selama sebelas hari!

Biasanya, kami menonton dulu beberapa unggahan orang lain di aplikasi TikTok, baru kemudian kami coba ikut gerakannya. Intinya adalah jika gerakannya bisa ditiru dengan mudah, itu yang kami pilih untuk rekam. Prosesnya pun tidak langsung jadi. Kadang harus beberapa kali usaha baru bisa menghasilkan satu gerakan yang bagus. Apalagi ini dilakukan secara berkelompok,” kata Elsa, 25 tahun, yang mengaku juga diajak oleh temannya untuk ber-TikTok selama di Wisma Atlet. Asal musiknya asyik didengar, dan gerakannya mudah ditiru.

Kami pun bermain TikTok untuk membuat suasana hati lebih senang. Agar bisa tertawa lepas bersama teman-teman lainnya. Sembari mengolah tubuh tentu saja,” kata Dina, 32 tahun. Awal masuk ke fasilitas perawatan pasien Covid-19 ini, ia pun merasakan hal yang sama. Dan harapannya mulai berangsur pulih setelah bertemu dengan teman-temannya yang menularkan hal-hal positif dan ceria melalui tarian TikTok.

Sama halnya juga dengan Jean, 42 tahun, yang sama sekali tidak menyangka akan melihat dirinya di unggahan-unggahan TikTok temannya yang lain. Ia juga tidak pernah mencoba menirukan gerakan yang ada sebelumnya, namun ia tahu bahwa ada aplikasi media sosial yang bernama TikTok. “Bahkan, teman-teman dan kerabat saya terpingkal-pingkal tertawa melihat saya menari di unggahan akun TikTok teman di sini. Karena saya tidak punya aplikasinya dan akun,” ujarnya sambil menahan tawa.

Jean juga menambahkan bahwa dukungan positif dari lingkungannya sangat membantunya untuk selalu berpikiran positif dan memiliki harapan. Lewat interaksi media sosial tersebut, sokongan positif dari luar diperolehnya untuk memupuk harapannya untuk berjuang melawan Covid-19.

Persahabatan mereka pun tetap berlanjut. Saling menguatkan dengan bertukar kabar. Bertukar unggahan tarian dan iringan musik di aplikasi TikTok. Berbagi kebahagiaan dan kecerian satu sama lain sebagai orang-orang yang tidak gampang menyerah melawan penyakit celaka ini. “Bahkan, kami sudah buat grup percakapan di Whatsapp. Namanya #SobatTikTok,” ungkap mereka hampir bersamaan dan tertawa cekakak. Persaudaraan yang diawali oleh perasaan senasib selama menjalani isolasi mandiri di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

* * *

Hampir sebagian besar pasien penghuni Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Jakarta adalah kategori Orang Tanpa Gejala. Meskipun berstatus OTG, tidak berarti bahwa mereka memiliki bayangan yang baik tentang akhir dari penyakit yang dideritanya. Seperti saya misalnya, sejak diangkut dari Puskesmas Pancoran, Jakarta Selatan, hingga dua-tiga hari setelahnya, harapan baik tentang kesembuhan dari penyakit ini hanya sedikit saja muncul dalam benak. Memiliki tubuh coronavirus dalam saluran pernafasan nampak seperti jelaga yang memenuhi benak.

Perlahan mematikan harapan baik dan berpikiran positif untuk sembuh. Walau di layar-layar kaca datar, perwakilan pemerintah muncul untuk mengabarkan seberapa banyak orang yang telah sembuh dari dera pagebluk ini. Namun, deretan angka jumlah orang terjangkit pun sangat banyak. Diikuti oleh statistik orang-orang yang dipaksa menyerah kalah.

Baru di hari ketiga harapan baik mulai muncul. Setiap pagi dan sore hari, jalan setapak dan ruang tak beratap Wisma Atlet ramai dipenuhi orang ketika terik matahari tiba di permukaan tanah. Cercah cahaya yang terpantul di atas permukaan air yang menggenang seperti ribuan makhluk kecil yang menari. Berbinar dan meninggalkan deretan cahaya di dinding-dinding gedung.

Saya harus sembuh, saya harus berpikir positif. Penyakit ini bisa disembuhkan! Itu yang saya tanam dalam-dalam. Orang-orang di sekeliling saya pun mencoba meraih harapan itu. Mencoba meraup keceriaan dan energi baik dari orang-orang lain.

Seri Liputan “Cerita Pasien Covid-19 di Wisma Atlet”

  1. Jumat Kedua di Wisma Atlet
  2. Lantai 12 Wisma Atlet Pelepas Suntuk
  3. Pasien Anak-anak, Baby Shark dan Kertas Gambar yang Tersisa