Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Cerita Pasien Covid-19 : Pasien Anak-anak, Baby Shark dan Kertas Gambar yang Tersisa

Armin Hari oleh Armin Hari
18 Januari 2021
A A
Cerita Pasien Covid-19 : Pasien Anak-anak, Baby Shark dan Kertas Gambar yang Tersisa
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jagat maya pernah sekali dibuat ramai. Sebuah artikel di IDN Times Jogja yang diunggah tanggal 18 Mei 2020 yang mengisahkan pemakaman jenazah pasien Covid-19 yang masih anak-anak, di Bantul, Yogyakarta. Kemudian @LekDay mengunggahnya kembali dalam sebuah foto di akun Twitter-nya. Seutas kalimat disematkan di atas foto dua orang berpakaian APD dan sebuah keranda kecil berwarna putih, “Pemakaman terberat adalah ketika memakamkan sebuah peti kecil.” Cuitannya pun ramai ditanggapi oleh khalayak. Pasien itu bukan hanya masih anak-anak tapi seorang bayi yang baru berusia 10 hari.

Data yang dirilis oleh pemerintah melalui laman resmi Satgas Penanganan Covid-19 Indonesia, diperlihatkan bahwa per 07 Januari 2020, jumlah kasus positif sebesar 797.723 orang. Dan di bagian lain juga diperlihatkan bahwa jumlah anak-anak yang terjangkit adalah sekitar 21.539 anak, atau sekitar 2,7% dari total penderita. Angka tersebut adalah pasien anak-anak yang berusia di bawah lima tahun.

Alunan lagu Baby Shark menembus dinding-dinding Menara 5. Hingga menghampiri saya di Lantai 10. Suaranya sangat terdengar jelas. Padahal suara tersebut harus melintasi dua lantai di bawah saya. Demikianlah jika pagi hari di Sabtu. Hampir setiap menara di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta akan digunakan sebagai waktu bermain bagi anak-anak yang menempati fasilitasi isolasi mandiri ini.

Entah mereka datang bersama orang tua, atau hanya ditemani oleh kakak mereka. Sama halnya dengan saya, kami semua sama-sama telah ditetapkan sebagai penghuni wisma ini untuk beberapa hari. Masing-masing divonis positif terjangkit oleh virus celaka, coronavirus.

Yodha menirukan rahang hiu yang terbuka tutup. Kadang kala juga ia hanya menggunakan jari-jarinya. Atau kedua pergelangan tangannya disatukan, dan telapak tangannya digerakkan seperti rahang ikan hiu. Mikrofon telah disematkan sementara di ponco pakaian hazmatnya. Di dada sebelah kanannya, ia tempelkan fotonya. Muka dan senyumnya terlihat dengan jelas. Dan namanya dituliskan dengan spidol berwarna biru di atasnya.

Bersama empat orang rekannya, Yodha adalah relawan yang ditugaskan untuk menjadi penghibur bai pasien anak-anak di setiap akhir pekan di Wisma Atlet Kemayoran. Berpakaian hazmat lengkap, tulisan dengan huruf besar di punggung mereka. Tulisan social worker terpampang jelas dengan ikon-ikon anak-anak di bawahnya.

“Relawan untuk menghibur dan mengajar anak-anak pengidap Covid-19 di wisma ini adalah gabungan dari Basarnas, BNPB, Kementerian Sosial, Kementerian PPA, dan organisasi sosial lainnya. Setiap menara, akan ditugaskan 3 hingga 5 orang relawan di setiap hari Sabtu pagi,” ujarnya sembari mempersiapkan beberapa lembar kertas dengan pola berwarna hitam yang nantinya akan diwarnai oleh anak-anak. Alat tulis warna juga sudah disiapkan oleh rekan relawan lainnya.

Namun jumlah kertas gambar dan alat tulis tersebut tidak mencukupi. Meskipun masing-masing kertas telah dibagikan ke setiap pasang anak-anak. Begitu juga dengan alat tulis yang dibagikan. Alat tulis berwarna tersebut tidak lengkap warnanya. Mau tidak mau, beberapa anak harus menunggu penggandaan gambar dan alat tulis warna lainnya.

Salah seorang relawan pun harus berlari ke gudang logistik untuk mencari lembaran kertas gambar yang tersisa. “Setiap minggunya, kami hanya mampu menyediakan sekitar 50 lembar kertas gambar, dan 100 alat tulis berwarna. Dan jumlah pasien anak-anak yang datang hari ini berjumlah 130 orang,” lanjutnya.

Dua hari yang lalu memang mobil ambulans dan bus sekolah yang mengangkut pasien baru ramai berlalu lalang. Hampir tiada henti. Apalagi di pagi dan sore hari. Menurut informasi dari salah seorang perawat, di sore hari sebelumnya saja jumlah pasien baru yang akan dirawat di fasilitas ini berjumlah sekitar 300-an orang. Hampir sepertiganya adalah anak-anak.

“Bisa dibayangkan jumlahnya. Di Menara 5 saja, ada 130 orang anak-anak yang masuk. Usianya beragam tentu saja, dan hanya balita atau yang berumur di bawah 10 tahun yang kami fasilitasi. Jika dirata-ratakan, ada 4 menara yang sekarang ini digunakan untuk perawatan,” Widya yang juga relawan sosial dari BNPB ikut menambahkan. Makanya logistik untuk kegiatan anak-anak pun tidak mencukupi.

Saya pastinya tidak punya data tentang jumlah pasien anak-anak penderita Covid-19 di fasilitas ini. Namun jika berkeliling di Wisma Atlet kala pagi dan sore hari, orang-orang dewasa yang ditemani oleh anak-anak pun jumlahnya tidak sedikit.

Pagi hari itu sepertinya jumlahnya semakin banyak. Tentu saya berharap lagu Baby Shark itu tidak lagi terdengar di Wisma Atlet. Pasien anak-anak itu sembuh dan tidak ada lagi pasien anak-anak yang datang. Namun, belum ada yang bisa memastikan kapan pagebluk penyakit ini akan bisa diatasi dengan maksimal.

—

Iklan

Seri Liputan “Cerita Pasien Covid-19 di Wisma Atlet”

  1. Jumat Kedua di Wisma Atlet
  2. Lantai 12 Wisma Atlet Pelepas Suntuk
  3. Pasien Anak-anak, Baby Shark dan Kertas Gambar yang Tersisa

 

[Sassy_Social_Share]

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2021 oleh

Tags: Pasien Covid-19Wisma Atlet
Armin Hari

Armin Hari

Artikel Terkait

ilustrasi Nggak Ada Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kasus Rachel Vennya kabur dari Wisma Atlet mojok.co
Pojokan

Nggak Ada Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kasus Rachel Vennya kabur dari Wisma Atlet

14 Oktober 2021
Perawat di rumah sakit yang kelelahan karena banyak pasien
Jogja Bawah Tanah

Sibuknya Perawat di Masa Gawat Covid-19

15 Juli 2021
Liputan

Cerita Perawat di Masa Gawat

1 Februari 2021
Cerita Pasien Covid-19 : Jumat Kedua di Wisma Atlet
Liputan

Cerita Pasien Covid-19 : Jumat Kedua di Wisma Atlet

18 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Festival Jamu Nusantara di Pasar Ngasem, Kota Jogja: ruang regenerasi dan edukasi konsumen muda MOJOK.CO

Festival Jamu Nusantara di Kota Jogja: Sadarkan Anak Muda Jamu Bukan Minuman Kuno, Tapi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi

6 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Cerita Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju MOJOK.CO

Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality

4 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.