• 56
    Shares

Dalam beberapa waktu terakhir, lagu “Selow” yang dibawakan oleh Wahyu tampil menjadi lagu yang begitu digemari. Terbukti dengan banyaknya orang-orang yang menggunakan lagu tersebut sebagai backsound di TikTok.

Lagu Selow menjadi lebih otoritatif sebagai sebuah hits tatkala lagu tersebut dikoplokan oleh Via Vallen. Maklum, di Indonesia ini, parameter sebuah lagu dikatakan populer itu bukan berdasarkan top chart, melainkan bersadarkan sudah dicover sama Via Vallen atau belum.

Selow, dalam waktu singkat menjadi salah satu lagu Indonesia yang paling banyak diputar di Youtube. Versi Wahyu dilihat 43 juta kali, sedangkan versi Via Vallen terpaut tipis, 40 juta kali. Irama reggae berbalut dengan pop yang berpadu dengan lirik yang sangat milenial membuatnya menjadi lagu yang mudah dihafal dan easy listening.

Namun sayang, kedahsyatan lagu Selow menjadi tidak sempurna karena ada satu cela pada salah satu liriknya.

“Menyakitkan, tapi tak kurasakan, kupasrahkan semua pada Tuhan…”

Lirik tersebut dianggap menyalahi aturan semiotis, logis, medis, dan psikologis.

Menyakitkan, tapi tak kurasakan. Secara logika, bagaimana mungkin ia bisa bilang menyakitkan ketika dirinya bahkan tidak merasakannya?

Di twitter, protes akan bagian lirik lagu tersebut diutarakan oleh beberapa anak muda milenial. Membaca protes tersebut, saya merasa sangat optimis dengan nasib generasi muda, sebab mereka masih peduli dengan printilan-printilan kecil yang sangat mengganggu nalar logis mereka.

Itulah salah satu bentuk disiplin berpikir yang cukup bisa diandalkan.

Generasi yang lebih lawas juga pernah merasakan hal tersebut. Bedanya, generasi lawas bertarung dengan lagu-lagu Dewa 19.

Lirik yang melawan kaidah kelogisan pada lagu Dewa 19 ada pada “Risalah Hati”. Dalam lagu tersebut, ada sepotong lirik: “Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta, kepadaku”

Haiiiish, itu maksudnya gimana, coba? Membuat jatuh cinta mesti tak cinta. Not enter. Ra mashoooook.

Itu satu. Yang kedua masih ada lagi, ma;ah lebih disturbing, yakni pada lagu Roman Picisan.

Dalam lagu tersebut, ada lirik “Tatap matamu bagai busur panah, yang kau lepaskan ke jantung hatiku.”

Lirik tersebut jelas mengandung sebuah kesalahan kultural dan struktural. Dari jaman Jayakatwang, yang dilepaskan itu ya anak panahnya, bukan busur panahnya.

Yah, setiap generasi memang punya pertarungannya sendiri melawan rezim lirik lagu.

Untuk generasi yang lebih tua, pertarungannya adalah melawan lagunya The Mercy’s yang berjudul “Usah Kau Harap”.

Dalam lagu tersebut, ada lirik berikut: “Usah kau kenang lagi sayang, masa yang telah silam…”

Nah, ini juga salah. Arti kata Usah menurut kamus adalah “perlu”, padahal maksud lirik tersebut adalah menyuruh untuk tidak perlu mengenang masa lalu. Jadi lirik yang benar harusnya “Tak usah kau kenang lagi…”

Ah, kenapa saya jadi mikirin lagu orang lain begini, sih…

  • 56
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles