Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mengenang Nasib dari Susu Murni Nasional

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
12 April 2019
A A
susu murni nasional

Susu Nasional, karena jinglenya yang khas, orang mengenalnya dengan Susu Murni Nasional. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tiap kali saya dengar suara jingle Susu Murni Nasional yang suaranya sangat legendaris itu, ingatan saya kerap terlempar ke masa lalu. Terlempar pada sosok gadis kecil yang dulu adalah tetangga dekat saya.

Sebuah fragmen yang melibatkan dirinya dan juga Susu Murni Nasional itu rasanya tak akan pernah saya lupakan. Fragmen tentang kemiskinan dan perputaran nasib yang serba rahasia.

Gadis kecil itu berlari sekencang-kencangnya tatkala mendengar suara jingle susu murni nasional dari speaker yang terpasang di gerobak penjual susu murni nasional.

“Susu murniiiii nasionaaal…” begitu bunyi jingle itu.

Ratih, sebut saja gadis berusia 10 tahun namanya begitu. Si gadis kecil itu, berlari untuk memberitahu ayahnya bahwa penjual susu murni sedang melintas. Ia memang sangat sudah lama ingin sekali bisa minum susu murni nasional seperti teman-temannya.

Bukan sekali-dua saya melihatnya penuh rasa cemburu pada teman-temannya yang asyik menyeruput susu murni sedangkan dirinya mungkin hanya bisa menelan ludah..

Entah sudah berapa kali ayahnya menolak untuk membelikan Ratih susu kemasan yang saat itu hargaya seribu lima ratus rupiah. Tentu saja alasannya karena uang. Bagi keluarga Ratih, uang seribu lima ratus bukan uang yang sedikit.

Maka, ketika suatu saat ayahnya berjanji akan membelikan Ratih satu cup susu murni nasional, Ratih girang bukan kepalang. Gadis kecil itu pun kemudian mulai rajin memasang telinganya baik-baik. Berharap agar ia tidak ketinggalan saat si penjual susu lewat di jalan dekat gang rumahnya yang mungil.

“Paaaaak, bakule susu murni lewaat!!!” teriaknya.

Saya mendengar dengan jelas teriakan yang bercampur gembira itu.

Ayah Ratih keluar dari rumah. Ratih langsung menggeret tangan ayahnya, berharap agar sang ayah berjalan lebih cepat.

“Cepet, Pak. Cepet, Pak…”

“Iyooo, sabar, bakule ora bakal adoh, kok”

Penjual susu kemudian dipanggil. Susu pun dibeli. Wajah Ratih semringah. Wajah bapaknya jauh lebih semringah.

Iklan

Ratih kemudian meminum susu kemasan itu dengan sangat hati-hati. Sesruput demi sesruput. Setipis mungkin. Seirit mungkin. Berharap agar susunya tidak cepat habis.

Wajah penuh kegembiraan itu rasanya susah untuk saya lupakan. Wajah yang mungkin akan susah saya lihat lagi sebab tak berapa lama kemudian, ia sekeluarga pindah karena rumahnya dijual pada orang lain.

Bertahun-tahun berselang, beberapa bulan yang lalu, dalam acara resepsi pernikahan adik saya, Ratih datang. Saya pangling setengah mampus. Ratih yang dulu saya kenal sebagai gadis kecil itu kini sudah besar dan sudah berkeluarga. Parasnya cantik, senyumnya menawan, pakaiannya begitu modis. Ia tumbuh dengan sangat baik, dan bertemu dengan pria yang baik pula.

“Cepet nyusul adike, Mas Agus,” ujarnya pada saya sembari tersenyum.

Siang tadi, penjual Susu Murni Nasional lewat di jalan depan kantor. Harganya sekarang tiga ribu rupiah per cup. Saya beli dua. Satunya saya minum, satunya lagi ingin saya kasih ke Ratih, tapi karena hal itu tak mungkin, maka saya taruh di kulkas saja.

Terakhir diperbarui pada 12 April 2019 oleh

Tags: kenangansusu murni
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co
Kepala Suku

Setoples Belalang Goreng dan Kenangan tentang Ibu

16 Maret 2021
es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres
Kepala Suku

Kenangan Bergema Lebih Keras dari Sebelumnya

19 April 2020
dirindukan
Pojokan

Kenangan Memang Menyebalkan, Bahkan Keburukan Pun Bisa Dirindukan

3 Desember 2018
Pojokan

Kenapa Harus Quarter Life Crisis Padahal Ramalan Zaman SD Punya Jawabannya?

17 Oktober 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.