Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Kenangan Bergema Lebih Keras dari Sebelumnya

Puthut EA oleh Puthut EA
19 April 2020
A A
es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kenangan mengembalikan kesadaran bahwa tak ada kepastian dalam hidup kita. Masa lalu memastikan kepada kita bahwa hidup tak selamanya baik-baik saja.

Sudah dua minggu ini saya intens mengikuti akun medsos beberapa teman yang setiap hari dipakai untuk mengunggah barang lawasan yang dibongkar dari gudang rumah mereka. Berbagai barang dipotret dan diunggah disertai cerita. Barang tua, baik itu potret, lukisan, kaset lagu, buku, dan banyak yang lain, mendadak hidup lagi. Bangkit dari tidur panjang mereka, dan bersuara.

Mungkin karena bosan di rumah, setiap orang berusaha menyibukkan diri. Ada yang mulai berkebun di lahan sempit sekitar rumah. Ada yang bersih-bersih rumah, mulai mengepel, mengecat, sampai menata ulang barang-barang. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah ketika sebagian dari teman saya mengunggah barang lama, yang didapat dari gudang mereka. Setiap barang, menyimpang kenangan, setiap kenangan yang dituturkan atau dituliskan, menjadi punya kisah. Memorabilia.

Suasana pun menjadi latar yang mengesankan. Situasi pandemi yang mencekam. Dalam keterancaman apakah kita termasuk orang yang bakal lolos dari lubang maut atau tidak. Apakah kita bakal bisa bertahan dalam ancaman perekonomian yang makin tidak menentu. Dan hal lain semacam itu, menyusun sebuah lagu latar yang mengalun sendu. Musik yang bergema di rongga kepala dan dada.

Dunia digital mendadak bisa menyambungkan banyak hal. Sebuah peristiwa semacam menonton film atau teater, atau membaca buku dengan cara yang berbeda. Seorang teman membongkar sebuah kardus di gudang rumahnya lalu menemukan sebuah potret lawas. Potret itu difoto ulang oleh kamera yang tertanam di hapenya, lalu diunggah dari sana ke akun media sosialnya lewat jaringan internet yang ada di hape tersebut, diberi narasi kisah, kemudian saya baca dalam suasana yang sendu, yang kesenduan itu menyusun sebuah lagu. Terciptalah pertunjukan itu. Mungkin itu dulu yang dimaksud dengan diorama di museum. Tapi peradaban membuatnya lebih canggih lagi tanpa harus mengunjungi museum. Mempertemukan subjek-pencerita dengan subjek-penikmat dalam relasi yang lebih anggun.

Ada kolaborasi yang lebih rumit antara subjek-pembuat atau produsen atau kreator, dengan subjek-penikmat atau audiens atau reseptor, di era digital, dan di situasi ketika sedang pandemi seperti ini. Hingga sebuah “karya” jadi lebih punya daya magis, setelah konon modernitas menghabisi “magisme”. Setelah era semua hal tampak profan. Mungkin bayang kematian dan kesakitan, juga penderitaan karena berbagai ancaman yang disebabkan pandemi ini, menyirami lagi semua bibit purba di diri manusia sehingga berkecambah lagi.

Relasi manusia dengan barang, yang ditaut-eratkan oleh kenangan, dikreasi oleh “diri yang sedang terancam dan menderita”, tampak punya daya gedor yang halus tapi menusuk. Sublim sekaligus subtil.

Diri yang selama ini berkelana keluar dari rumah, baik rumah fisik maupun psikologis, mencari dan mencari, bekerja dan bekerja lagi, mendadak harus pulang lagi. Mudik. Lalu membongkar barang dan membiarkan kenangan bekerja lebih optimal lagi. Mendadak gudang yang sebelumnya tak kentara pentingnya, masa lalu yang absen, sensibilitas yang nyaris tak pernah terpakai, membuat banyak orang tercenung di depan gerbang masa lalu yang megah.

Apa nasib kehidupan tanpa kenangan? Bagaimana bisa paradaban tanpa masa lalu? Apakah diri manusia hanya tersusun dari harapan dan masa depan? Atau sikap kita terhadap masa lalu yang terlalu buram. Hanya kenal sesal. Merasa diri belum bekerja dan belajar maksimal. Mengambil tindakan-tindakan yang gegabah dan keliru. Atau hal-hal semacam itu. Hingga masa lalu hanya kenangan gelap dan cerita buruk.

Pada hari kesekian puluh ketika pandemi menyerbu umat manusia, kenangan menampilkan dirinya dalam wajah yang lebih segar dan punya daya betot. Bersuara dengan cara yang berbeda. Meninggalkan gema yang lebih kuat dari sebelumnya. Lalu kita semua masuk ke pintu-pintu masa lalu, berjalan di sana. Memasuki gudang tua yang biasanya hanya kita bongkar ketika hendak pindah rumah atau kontrakan, dan masuk ke gudang baru. Tanpa pernah benar-benar kita buka dan perhatikan. Kadang kita lempar ke pasar loak atau kita berikan ke tukang rongsok. Sebab kita tak butuh masa lalu. Kita hanya butuh memastikan masa depan supaya terjamin dan baik-baik saja.

Kenangan mengembalikan kesadaran bahwa tak ada kepastian dalam hidup kita. Masa lalu memastikan kepada kita bahwa hidup tak selamanya baik-baik saja. Kita, suatu saat nanti, hanyalah bisa dikenang orang setelah kita, hanya lewat memorabilia. Itu pun kalau mereka sempat membongkarnya.

BACA JUGA Ketika Sedih Saja Tidak Cukup dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.

Terakhir diperbarui pada 19 April 2020 oleh

Tags: kenanganmemorabiliawabah corona
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co
Kepala Suku

Setoples Belalang Goreng dan Kenangan tentang Ibu

16 Maret 2021
luhut ppkm level 3 mojok.co
Kilas

Luhut Panjaitan Ditunjuk untuk Mengawal Penanganan Pandemi di Provinsi-provinsi Rawan Corona

15 September 2020
Tugas Airlangga Hartarto Memang Mengkritik Anies Baswedan dan Menolak PSBB psbb mojok.co
Esai

Tugas Airlangga Hartarto Memang Mengkritik Anies Baswedan dan Menolak PSBB

12 September 2020
es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres
Kepala Suku

Mungkin Sekarang Saatnya Jokowi Melakukan Reshuffle Kabinet

6 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sunflower Angel di Candi Prambanan saat pagi. MOJOK.CO

Simbol Perjalanan Cinta Sepasang Kekasih asal Jakarta-Jogja dalam Karya Seni “Sunflower Angel” di Candi Prambanan

11 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Lima daerah di Jawa Tengah jadi pilot project BPOM Pusat untuk produk jamu aman demi menjaga citra obat tanaman herbal warisan UNESCO MOJOK.CO

Merawat Citra Jamu di Jateng sebagai Warisan Sehat dan Aman, Campuran Bahan Kimia Bisa Merusaknya

9 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
5 tips dapat tiket murah untuk liburan keluarga di Pantai Pandawa Bali MOJOK.CO

5 Tips Dapat Tiket Murah untuk Liburan Keluarga di Pantai Pandawa Bali

11 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.