Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Meminjam Duit Pasangan Itu Berat, Menagihnya Lebih berat Lagi

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
18 Maret 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Walau tabu, namun praktik saling meminjam duit antar pasangan baik pacar maupun suami-istri ternyata eksis, ia ada dan berlipat ganda.

“Mas, aku tolong isiin gopay dua ratus ya, aku mau pesen makanan, tapi gopayku habis. Nanti aku ganti,” kata pacar saya suatu ketika.

Sebagai lelaki yang siaga, terampil, lagi trengginas, tentu saja saya langsung bertindak. Saya ambil ponsel saya. Saya buka aplikasi m-banking saya, dan langsung saya isikan gopay untuk pacar saya. Heroik sekali.

Berhari-hari kemudian, di suatu siang yang tampak tenang, ada sesuatu yang mengganjal dalam perasaan saya. Sesuatu yang membuat batin saya bergejolak.

Saya berpikir keras. Kayak ada yang aneh gitu. Hidup saya kayak ada yang kurang. Apakah saya belum salat subuh? Ah, nggak ah. Perasaan tadi jam tujuh setelah saya bangun, saya langsung menunaikan salat subuh, yah, walau waktunya di waktu dhuha, tapi kan tetep saja niatnya salat subuh. Apakah saya belum makan? Ah, nggak juga. Tadi habis salat subuh, saya langsung pesen soto Pak Syamsul. Apa ya?

Setelah merenung keras, akhirnya terjawab sudah pertanyaan saya. Sesuatu yang mengganjal itu ternyata karena pacar saya ternyata belum mengganti uang gopay yang beberapa waktu yang lalu ia janjikan.

Setelah saya tahu penyebab ganjalan batin saya itu, ternyata saya bukannya lega, tapi malah semakin bergejolak.

Kini saya jadi bingung, bagaimana cara menagih uang gopay itu. Haruskah saya tagih? Kalau saya tagih, kok saya jadi tampak sangat materialistis. Masak pacar sendiri minjem duit kok sampai ditagih. Tega betul. Tapi kalau tidak ditagih, rasanya kok semakin ngganjel. Sebab akad awalnya memang pinjam-meminjam. Jadi ada kewajiban harus mengembalikan.

Aduuuuh, pucing pala Agus.

Tapi kali lain, ternyata saya yang tampaknya giliran jadi pelaku kegelisahan. Pacar saya dulu suatu ketika pernah ngomong dengan nada bicara yang sangat penuh dengan kesungkanan.

“Mas, seminggu lalu, kalau nggak salah Mas pinjem uangku kan ya?” katanya. “Kira-kira uangnya sudah ada belum ya? Mau buat tambahan bayar uang kos.”

Bagai dibacok oleh celurit peringatan, saya langsung tersadar kalau saya ternyata punya hutang yang, nilainya lumayan, lima ratus ribu.

“Masya Allah, sori, aku lupa beneran. Aku kembalikan sekarang.” Ujar saya tengsin. Saya pun langsung mengambil ponsel dan segera transfer ke nomor rekening pacar saya.

“Maaf ya, Mas. Tapi aku beneran lagi nggak ada duit. Honor nulis kemarin masih belum cair,” terangnya penuh dengan penjelasan.

Iklan

“Iyaaa, aku yang harusnya minta maaf.”

Kelak, ketika kami menikah, kami ternyata masih terjebak dalam problematika pinjam-meminjam ini. Maklum, sedari awal, kami sudah sepakat bahwa dalam kehidupan rumah tangga kami, tidak ada status penanggung jawab keuangan pada salah satu dari kami. Kami berdualah yang bertanggung jawab. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, kami patungan dengan jumlah uang yang sama. Sedangkan sisa uang yang kami punya masing-masing adalah hak masing-masing.

Kebijakan tersebut memang kemudian menghasilkan satu konsekuensi, yakni kami pada satu titik bakal meminjam satu sama lain. Apalagi kalau salah satu dari kami sedang sangat bokek.

Walau saya dan istri saya sama-sama punya pernghasilan, namun ada kalanya, salah satu dari kami mengalami defisit keuangan. Padahal status patungan harus tetap jalan. Dalam kondisi seperti itulah hutang kemudian menjadi solusi.

Pernah saya terpikir, betapa saya merasa bahwa hubungan asmara dan rumah tangga saya kok terasa sangat keterlaluan. Masak suami-istri kok masih saja saling pinjam. Harusnya kan ya diikhlaskan saja. Uang istri bisa digunakan suami, begitu pula sebaliknya.

Namun belakangan, baru saya ketahui bahwa ternyata bukan hanya saya dan istri saya yang begitu. Beberapa kawan dekat saya ternyata juga sama. Mereka terkadang masih suka meminjam uang pasangannya.

Saya seperti mendapatkan kelegaan. Semacam kelegaan kalau ternyata praktik pinjam-meminjam uang ini adalah praktik yang kebangetan, setidaknya saya tidak sendirian. Masih ada banyak pasangan lain.

Pernah saya mencoba membahas hal ini dengan istri saya. Membahas tentang kebiasaan saling pinjam ini. Saya hanya ingin tahu, jangan-jangan, dia sebenarnya keberatan dengan praktik ini, sebab ia jadi merasa cinta kita tidak tulus. Kalau cinta, ngapain masih harus ada hal yang sifatnya transaksional.

Tapi ternyata tidak. Istri saya malah memberikan kesan mendukung. Dia seperti ingin berkata bahwa sebagai suami istri memang sebaiknya sama-sama berdikari. Sama-sama punya kedaulatan atas uang. Sama-sama bekerja.

Urusan cinta itu satu hal, tapi urusan duit, itu hal lain.

“Kamu kok bisa punya punya pemikiran kayak gitu, je?”

“Aku ngikut prinsipnya bapakku?”

“Memangnya apa prinsip bapakmu?”

“Hidup itu rasanya belum menantang kalau nggak punya utang.”

Saya tertawa. Saya bahagia. Saya benar-benar tidak salah memilih istri dan memilih bapak mertua.

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2020 oleh

Tags: duitpasangan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Tips Cuan dari Kebun Mini: Lahan Sempit Bisa Jadi Duit!
Video

Tips Cuan dari Kebun Mini: Ubah Lahan Sempit Jadi Duit!

24 April 2025
pilot selingkuh.MOJOK.CO
Ragam

Memilih Selingkuh dengan Orang yang Lebih “Jelek” dari Pasangan Aslinya, Penyebabnya Impulsif hingga Butuh Variasi

8 Januari 2024
Uneg-uneg dari Perempuan yang Berkali-kali Menolak Dijodohkan: Bakal Jauh dari Jodoh?
Kilas

Uneg-uneg dari Perempuan yang Berkali-kali Menolak Dijodohkan: Bakal Jauh dari Jodoh?

29 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.