• 52
    Shares

Ada banyak alasan kenapa saya begitu mencintai perempuan yang sekarang menjadi pacar saya. Dia baik hati, manis, pengertian, sabar, pandai memasak, cerdas, dan yang paling penting, tidak mempermasalahkan tampang saya yang kusut, jauh dari cakep, dan sangat menganggu kamtibmas ini.

Dari sekian faktor yang ada pada dirinya, kecerdasan menjadi faktor yang paling utama kenapa saya begitu mencintainya.

Saya lelaki bodoh, mangkanya memacari (dan Insya Allah) menikahi perempuan yang cerdas tentu saja adalah investasi terbaik. Setidaknya, itu bisa menjadi jalan bagi saya untuk bisa belajar agar ikut cerdas.

Pacar saya seorang penulis, ia aktif menulis tentang isu-isu sosial dan keperempuanan. Ia berkali-kali diundang menjadi pemateri dalam banyak forum diskusi keilmuan. Tiap kali ia memajang poster acara di mana ia menjadi pematerinya, tiap itu pula saya merasa bangga sebab pemateri itu adalah pacar saya.

Namun, benar apa kata seseorang. Terkadang, kekaguman kita pada sosok atas hal tertentu acapkali rusak oleh sesuatu yang sangat sederhana.

Dan itu ternyata terjadi juga pada saya. Beberapa kali pacar saya menunjukkan pada saya bahwa ternyata, pada titik tertentu, ia bisa menjelma menjadi sosok yang jauh dari kata cerdas. Bahkan berubah menjadi sosok yang begitu bodoh dan konyol. Jauh lebih bodoh ketimbang kebodohan-kebodohan yang pernah saya buat.

Kebodohan soal motor, misalnya.

Dulu, sewaktu pertama kali mencoba menggunakan motor, saya pernah menghabiskan waktu yang lama hanya untuk berusaha ngeslah starter kaki biar motor hidup. Saya sudah coba berkali-kali ngeslah dengan tenaga yang luar biasa kuda, namun mesin motor tak jua mau hidup.

Belakangan baru saya tahu kalau ternyata penyebab motor tidak bisa hidup karena saya ngeslah tanpa ngegas stang motornya.

Kekonyolan itu saya lakukan di depan banyak orang, dan tentu saja cukup membuat saya malu.

Namun, kalau membandingkannya dengan apa yang pernah dialami oleh pacar saya, rasanya saya merasa jauh lebih punya wibawa.

Lha gimana tidak. Dulu, saat awal-awal pacar saya menggunakan motor, ia pernah tidak bisa membuka jok motornya saat akan mengisi bensin di Pom bensin. Jok motornya tidak bisa dibuka. Diangkat dengan tenaga sebesar apa pun, tidak mau terangkat, padahal kunci pembuka sudah diputar dengan benar. Ia sampai hampir nangis.

Usut punya usut, ternyata saat membuka jok, yang diangkat oleh pacar saya adalah ujung jok bagian depan, bukan belakang.

Kekonyolan yang lain adalah kekonyolan soal pulsa.

Saya tak ingat kapan, namun kejadian itu berlangsung belum lama ini.

Suatu malam, ponsel saya berdering agak keras, rupanya ada panggilan video call wasap yang masuk, tentu saja dari mbak kesayangan.

Saya menerimanya dengan wajah sumringah, sedikit memastikan tampang saya tidak berantakan sebelum berhadapan dengan wajahnya di ujung jauh sana.

Kami ngobrol agak lama, walaupun sepanjang obrolan, yang kami bicarakan hanya basa-basi semata. Bahkan sesekali kami diam dan sama sekali tak bicara. Hanya saling menatap satu sama lain sambil senyam-senyum sendiri.

Hingga kemudian, setelah lima belas menit berlalu, panggilan video call kami tiba-tiba berhenti.

Ia lantas mengirimkan pesan text di wasap.

“Mas, maaf, kuotaku mau habis, gantian mas yang nelpon video call, ya?”

Saya langsung diam. Semacam gabungan antara dongkol dan geli.

Saya hanya membatin: perempuan ini sedang lola apa gimana, sih? Lha ini kan video call wasap, yang nelpon sama yang ditelpon kan sama-sama kesedot kuotanya.

Duh Gustiiii, padahal selama ini saya membangga-banggakan dia oleh sebab kecerdasan dan kekritisannya.

Ah, tapi ya mau bagaimana lagi, untung saya sudah kadung cinta.