MOJOK.CODitinggal pergi jauh oleh pasangan bukanlah hal yang mudah, ada kesedihan yang siap merambat di dalam dada. 

Beberapa hari yang lalu, Kalis istri saya sibuk mengisi form aplikasi fellowship dari salah satu lembaga Internasional Amerika. Sejak lama, dia memang sudah mempersiapkan diri untuk ikut seleksi fellowship tersebut.

“Kalau fellowship ini tembus, aku punya kesempatan untuk belajar ke India,” kata istri saya.

Melihat wajahnya yang begitu sumringah itu, tentu saja saya ikut bahagia. Gaya hidup menonton film-film India memang membuat istri saya menjadi tergila-gila dengan India. Kepada saya, ia kerap menceritakan tentang keindahan alam India yang sering ia lihat di scene-scene film India yang ia tonton itu.

“Seandainya kamu lolos, kamu bakal ke India berapa lama?”

“Ini sebenarnya program fellowship tahunan, kayak ada rentang waktunya gitu, Mas. Jadi ke India-nya ya nggak nggak lama sebenarnya, paling dua atau tiga minggu.”

Mendapatkan jawaban tersebut, tentu saja muncul sedikit ketakutan kecil dalam diri saya.

Sejak pacaran, saya hampir tak pernah jauh dengan kekasih saya itu. Kami kos di tempat yang tak jauh, jarak kos kami tak sampai satu kilo, semata agar mudah bagi kami untuk bertemu setiap hari.

Setelah menikah, kebersamaan kami tentu saja semakin lekat. Selayaknya suami-istri pada umumnya. Kebersamaan yang sudah terlalu lekat itulah yang kemudian membuat kami merasa berat jika salah satu dari kami harus pergi ke luar daerah selama berhari-hari.

Baca juga:  Memang Kenapa Kalau Aksi 212 Minta Diliput yang Baik-Baik Saja?

Jika ditinggal ke luar daerah saja rasanya sudah sangat aneh dan berat, apalagi ditinggal ke luar negeri. Pastilah rasanya jauh lebih berat.

Saya pernah merasakan tiga kali momen berat itu. Pertama saat saya ditinggal ke Malaysia saat Kalis mengikuti semacam kelas kesetaraan gender internasional di sana. Dua minggu saya ditinggal ke negeri jiran. Saya berasa seperti lelaki-lelaki desa yang istrinya harus kerja sebagai TKW ke Malaysia.

Yang kedua saat saya ditinggal Kalis ke Jepang karena ia harus mengikuti semacam program pertukaran pemuda-pemudi yang entah apa namanya.

Yang ketiga, yang paling nyesek, saya ditinggal Kalis ke Israel agak lama sebab ia mendapat semacam undangan dari salah satu lembaga internasional Israel yang lagi-lagi saya juga tak tahu apa namanya.

Nah, jika aplikasi program fellowship yang diisi oleh istri saya beberapa hari lalu itu tembus, maka saya akan ditinggal ke luar negeri untuk keempat kalinya.

Pengalaman ditinggal ke luar negeri ini memang membuat saya sedikit banyak tahu pola kesedihan yang saya rasakan.

Begitu saya ditinggal, maka yang terjadi pada saya saat menjalani hari-hari awal tanpa pasangan tentu saja adalah sedih tak terkira. Duduk di rumah, sendirian, bingung mau memeluk siapa. Menonton acara yang lucu pun jadi tak terasa lucu. Ada senyap yang begitu getir. Hidup menjadi terasa sangat tak sempurna. Orang yang biasanya berbaring di sebelah kini tak ada.

Baca juga:  Kasus Bunuh Diri Siswa SMP, Depresi, dan Media Sosial yang Membuatnya Kompleks

Namun, Tuhan tampaknya memang baik hati. Perasaan sedih itu pada kenyataannya hanya muncul lima atau enam hari pertama. Setelah itu, entah kenapa, justru perasaan bebas dan bahagia yang muncul. Saya berasa menjadi remaja lagi. Menjadi bujangan lagi. Bisa tidur di mana saja, di kantor, di tongkrongan, atau di mana pun. Bisa pulang kapan saja, bisa main selarut yang saya suka. Hal yang tentu tak bisa saya lakukan saat istri ada di rumah.

Nah, fase bahagia ini kelak akan berakhir setelah minggu kedua. Setelah dua minggu, kebahagiaan yang sempat membuncah itu akan kembali menjadi kesedihan karena perasaan rindu yang menyala-nyala.

Dari sedih, bahagia, menjadi sedih lagi. Sialnya, kesedihan yang terakhir ini tidak akan berubah menjadi bahagia. Ia akan terus bertahan menjadi kesedihan sampai akhirnya pasangan kita benar-benar pulang.

Saya tak tahu apakah hal ini hanya berlaku pada diri saya atau juga berlaku pada banyak orang, namun yang jelas, saya punya beberapa kawan yang merasakan hal yang serupa.

Iqbal Aji Daryono, penulis kondang asal Bantul itu pernah saya tanya tentang perasaannya saat dirinya harus ditinggal istri tercintanya ke Norwegia untuk sekolah S2.

“Asal kowe ngerti, Gus, biyen pas aku ditinggal bojoku sekolah neng Norwegia, seminggu pertama ki aku isone mung nangis, nangis, karo nangis,” ujarnya.

Baca juga:  5 Cara Menghadapi Pacar yang Gila Game

Kawan saya yang lain, sebut saja Alvianto juga demikian. Di hari-hari pertama ia ditinggal istrinya ke Tunisia untuk mengajar, ia mengaku sangat berat dan sedih.

Bedanya, setelah beberapa hari, ia mengaku bahwa kesedihannya tak berkurang.

“Tetep abot, Gus,” ujarnya sambil melahap mie ayam kesukaannya.

Saya ingin mempercayai apa yang ia katakan, namun melihat tampangnya yang tampak amat rakus saat mengunyah mie ayam sambil sesekali prengas-prenges itu, saya tak yakin dengan apa yang ia katakan.

“Kowe jarene sedih, lha kok iso mangan mie ayam telap-telep ndemenake ngono kuwi?”

“Hati itu satu hal, Gus. Dan lidah adalah hal yang lain.”

Mashoooooook.