Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Benar Apa Kata Jokowi, Indonesia Memang Layak Bersyukur

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
27 Januari 2021
A A
bersyukur
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pernyataan apa saja yang keluar dari mulut Presiden Jokowi, utamanya di masa pandemi seperti sekarang ini, memang akan selalu mampu menjadi sasaran serang yang empuk di mata masyarakat, lebih-lebih masyarakat di media sosial. Ia tak ubahnya seperti samsak gantung yang memang tak punya banyak pilihan selain untuk ditinju dan digampar.

Ketika pernyataan yang keluar itu adalah pernyataan yang dianggap cukup sembrono, atau setidaknya terdengar aneh, maka serangan yang hadir pastilah lebih besar.

Itu pula yang terjadi ketika Jokowi mengatakan bahwa Indonesia cukup bersyukur karena mampu mengatasi krisis pandemi.

Hal tersebut Jokowi katakan saat memberikan sambutan secara virtual pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada Senin, 25 Januari 2021 lalu.

“Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik,” kata Jokowi.

Dua krisis yang dimaksud oleh Jokowi adalah krisis kesehatan dan krisis ekonomi yang terjadi sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Pernyataan tersebut tentu langsung mengundang komentar-komentar yang resisten. Maklum saja, kondisi per-covid-an duniawi di Indonesia memang sedang gawat-gawatnya. Jumlah penambahan kasus harian selama seminggu terakhir hampir selalu di atas 10 ribu. Jumlah kasus yang tercatat sudah hampir 1 juta. Positivity rate mencapai hampir 30 persen. Dan yang paling parah, ketersediaan ruangan rumah sakit untuk pasien Covid-19 semakin memburuk.

Dengan kondisi yang demikian, pernyataan “Kita bersyukur” layak menjadi olok-olokan belaka.

Di media sosial, pernyataan Jokowi tersebut kemudian banyak disandingkan dengan pernyataan Presiden Filipina Duterde. Presiden bertampang sangar tersebut menyatakan bahwa negaranya gagal total dalam menangani pandemi. Padahal dari segala sisi, kasus Covid-19 di Filipina tidak separah Indonesia.

Lantas, apakah pernyataan Jokowi tersebut bermasalah? Boleh jadi iya. Namun kalau mau menilik lebih jauh pada pada level perenungan hakiki, apa yang dikatakan oleh Jokowi pada dasarnya adalah manifestasi sikap kultural dia sebagai orang Jawa.

Orang Jawa, tak bisa tidak, memang punya semacam konsep “Isih mending” sebagai panduan untuk meniti jalan hidup. Semacam konsep untuk terus dan tak pernah berhenti dalam bersyukur atas apa pun cobaan hidup (pacobaning urip) yang datang bertubi-tubi, sebab pada akhirnya, cobaan tersebut memang ada sebagai bentuk kasih sayang Tuhan kepada manusia.

Konsep “Isih mending” ini menjadi jalan berbaik sangka yang paling paripurna bagi seorang manusia Jawa. Bahwa seberat-beratnya cobaan yang datang, Tuhan masih tetap memberikan kebaikan bagi kita.

Orang yang melaksanakan betul konsep ini, ketika ia jatuh dari motor dan mengalami lecet, ia mungkin akan berkata “Alhamdulillah, Isih mending mung lecet, ra ngasi tugel tangane, sedino rong dino wis mari.” (Alhamdulillah, masih mending cuma lecet, tangannya nggak sampai patah, sehari dua hari juga sembuh.)

Kalau ternyata ia jatuh dari motor dan tangannya patah, niscaya ia akan berkata “Alhamdulillah, Isih mending mung tugel tangane, ora ngasi bocor ndase.” (Alhamdulillah, masih mending cuma patah tangannya, nggak sampai bocor kepalanya.)

Iklan

Kalau ternyata ia jatuh dari motor dan bocor kepalanya, niscaya ia akan berkata “Alhamdulillah, Isih mending mung bocor ndase, Gusti Allah isih sayang, iseh dikei urip.” (Alhamdulillah, masih mending cuma bocor kepalanya, Gusti Allah masih sayang, masih diberi hidup.)

Pokoknya segawat apa pun cobaannya, bersyukur tetap menjadi kebutuhan utamanya. Ia sudah bukan lagi kepantasan, melainkan semacam kebudayaan kultural.

Maka, ketika Jokowi mengatakan bahwa ia bersyukur, padahal kondisi pandemi sudah sebegitu gawat, kita memang sebaiknya memaklumi saja. Memang begitulah seharusnya.

Jokowi sejatinya sedang berusaha mengajak segenap rakyatnya untuk bersabar dan senantiasa bersyukur atas cobaan pandemi yang sedang melanda Indonesia. Sebab, memang hanya itu satu-satunya hal yang mungkin bisa dilakukan saat ini.

Jokowi bukan lagi mengambil kebijakan di level yang berkaitan dengan medis, lebih dari itu, ia sedang mengambil kebijakan di level spiritual.

Presiden lain mana bisa begini? Yang bisa begini memang hanya Jokowi. Sekali lagi, hanya Jokowi.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2021 oleh

Tags: COVID-19jokowipandemiSotar Satir
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026
Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO
Kampus

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.