Komodo

Jurassic Park “Komodo” di Pulau Rinca adalah Bukti Indonesia Serius dalam Perkara Teknologi

Usaha pemerintah Indonesia dalam membangun sarana dan prasarana pendukung pariwisata ala-ala Jurassic Park di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo mendapatkan perlawanan yang sengit dari berbagai pihak. Program pembangunan yang diproyeksikan menjadi bagian dari program wisata premium tersebut dianggap bakal membahayakan dan mengancam ekosistem habitat komodo di sana.

Aksi penolakan terhadap proyek di Pulau Rinca pun digalang. Foto seekor komodo berhadapan dengan truk yang sedang mengangkut material pun langsung viral setengah mampus dan menjadi salah satu materi visual yang cukup berhasil mengamplifikasi gerakan penolakan proyek tersebut.

Pemerintah sendiri berdalih bahwa proyek tersebut dibangun dengan perencanaan yang penuh pertimbangan terhadap aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Pemerintah juga mengaku bahwa pembangunan “Jurassic Park” di Pulau Rinca tersebut sekaligus menjadi bagian dari usaha konservasi terpadu komodo di sana. Hal itu dibuktikan dengan cetak biru pembangunan gedung riset yang diperuntukkan untuk para peneliti.

Walaupun mendapat penolakan yang masif, namun, selayaknya banyak proyek pemerintah, pembangunan Jurassic Park Rinca tersebut tetap berjalan.

Sebagai rakyat yang selalu berbaik sangka pada pemerintah, tentu saja saya meyakini bahwa pembangunan Jurassic Park di Pulau Rinca tersebut bukan untuk menggusur masyarakat apalagi mengganggu ekosistem komodo di sana seperti yang banyak dituduhkan. Saya meyakini bahwa pembangunan proyek Jurassic Park di Pulau Rinca tersebut sejatinya merupakan usaha pemerintah Indonesia untuk membuktikan bahwa Indonesia sedang sangat serius untuk menjadi negara yang terdepan dalam urusan teknologi.

Ingat, selama ini, Indonesia selalu diremehkan dalam urusan teknologi. Tak terhitung berapa komentar dengan template “Negara lain sudah bisa… (isi sendiri), Indonesia masih sibuk… (isi sendiri).”

Karena itulah, rencana pembangunan Jurassic Park yang lengkap dengan pusat riset dan penelitian di Pulau Rinca menjadi titik pijak upaya pemerintah untuk merangsek sebagai salah satu negara yang terdepan dalam urusan riset.

Ini serius. Pemerintah tampaknya memang tengah mempersiapkan Nusa Tenggara Timur sebagai daerah rintisan teknologi. Jurassic Park di Pulau Rinca tentu bukan yang pertama. Sebelumnya, berdirinya Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur telah memicu Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) untuk merancang program exoplanet yang bertujuan untuk mencari tempat layak huni di luar bumi. Tak hanya itu, program exoplanet tersebut juga bertujuan untuk mencari kehidupan makhluk lain atau alien di tata surya.

Tentu saja itu adalah program yang sangat luar biasa. Selama ini, persaingan yang berkaitan dengan antariksa hampir selalu beririsan dengan negara-negara seperti Amerika, Cina, Rusia, dan negara-negara maju lainnya. Tak pernah terbayangkan bahwa Indonesia pada akhirnya akan ikut serta dalam kompetisi tersebut.

Berkaca dari hal itulah, siapa tahu, dari pusat penelitian komodo di Pulau Rinca tersebut, kelak akan lahir penemuan-penemuan biologi yang menggemparkan dunia. Jangan heran jika kelak akan muncul spesies-spesies lama yang kemudian hidup lagi selayaknya kelahiran dinosaurus-dinosaurus di film “Jurassic Park” yang kesohor itu.

Indonesia punya kesempatan untuk dikenal sebagai salah satu negara terdepan dalam dunia rekayasa genetik.

Selama ini, fenomena-fenomena unik terkait dunia genetika di Indonesia hanya sebatas pada lirik lagu, misal buah semangka berdaun sirih dalam lagu “Aku begini engkau begitu”-nya Rinto Harahap atau bibit padi berbuah rumput dalam lagu “Suket Teki”-nya Didi Kempot. Belum sampai pada tahap kenyataan.

Nah, hadirnya pusat penelitian komodo yang menjadi bagian dari Jurassic Park di Pulau Rinca yang sedang dibangun sekarang ini bakal menjadi tonggak untuk mewujudkan produk-produk rekayasa genetik yang bukan hanya berupa lirik lagu, melainkan dalam bentuk yang sebenarnya.

Sejarah akan mencatat, bahwa di masa depan, serangan makhluk-makhluk imajiner seperti Godzilla atau Kaiju bakal selalu diidentikkan dengan kota-kota di Indonesia seperti Mataram dan Kupang, bukan lagi Manhattan atau Washington.

Masyarakat sudah seharusnya mendukung megaproyek di Pulau Rinca itu, bukan malah menolaknya. Ingat, ini semata demi harga diri bangsa Indonesia.

Sudah saatnya bagi Indonesia untuk tampil menjadi ujung tombak penelitian makhluk purba, sebab Indonesia memang punya potensi yang besar dalam hal itu.

Salah satu bukti nyatanya adalah Indonesia saat ini menjadi satu-satunya negara yang punya spesies makhluk purba luar biasa. Spesies omnivora ini sangat spesial, sebab selain bersifat endemik, spesies ini juga punya naluri untuk tidak mau peduli dengan pendapat sesama spesiesnya meskipun diprotes terus-menerus.

Spesies tersebut, sesuai dengan sifatnya, punya nama latin Oraurus parlementis.

BACA JUGA Komodo Nggak Bisa Milih yang Terbaik tapi Bisa Memilih yang Terburuk Berkuasa dan artikel Agus Mulyadi lainnya.