MOJOK.COBahkan komodo yang nggak anarko pun tahu kalau investor di mari sebodoamat dan sepurba itu caranya. Mau saingan primitif-primitifan yak?

Apa ejekan ke para cowok tukang ngewe yang nggak pernah modal? Yak, betul, Komodo: Kodal Montol Doang.

Tapi, serius, komodo itu sebetulnya hewan paling keren. Coba, misalnya, mana ada spesies kadal lain ukurannya segigantis mereka di dunia fana ini? Beratnya aja bisa sampe 100 kilogram. Kalo abis ngunyah rusa atau kebo, pasti tambah berat.

Apalagi kalo mereka kesel karena tanahnya dirampas manusia atas dalih pariwisata, bisa ditelen itu truk pasir sekalian sama sopirnya. Tungguin aja, beberapa bulan lagi paling ada beritanya.

Selain ukurannya yang gigantis, hal keren lain dari komodo adalah misteri tentang mereka. Hingga kini, misalnya, asal muasal mereka masih rada simpang siur. Riset Dr. Claudio Ciofi di majalah Scientific American edisi Maret 1999 yang berjudul “The Komodo Dragon”, menyebut kadal gigantis ini berasal dari Australia.

Kesimpulan itu berdasarkan penelitian para ahli genetika molekuler yang membandingkan sekuen DNA dan struktur kromosom spesies-spesies dari keluarga varanid—kadal prasejarah yang dipercaya sebagai nenek moyangnya komodo.

Sementara dua ahli biologi dari University of Alberta, Kanada, Alison Murray dan Rob Holmes, menyebut bahwa komodo memiliki leluhur spesimen Varanus purba Afrika yang ditemukan di bekas dasar sungai atau danau kecil di Afrika.

Riset mereka menjelaskan bentuk tulang belakang kadal Afrika dari 33 juta tahun lalu dan komodo yang baru muncul 700 ribu tahun itu menjadi bukti adanya hubungan kekerabatan di antara kedua spesies ini. Adapun riset lainnya menyebutkan jika reptil suka menjilat ini memang hewan endemik Indonesia.

Biar lebih dramatis, dan tulisan ini memang dimaksudkan bukan untuk menjelaskan secara ilmiah silsilah keluarga komodo, mari kita anggap saja kadal ini berasal dari Afrika.

Pertanyaan utamanya: bagaimana mungkin komodo bisa sampai ke Asia, jika sekitar 100 juta tahun lalu saja Afrika masih amat terisolir dari dunia luar?

Murray menjawabnya dengan teori yang menarik, sekalipun belum terbukti: adanya lempengan mikro atau massa dataran kecil yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa binatang di dalamnya berpindah tempat. Tapi saya tidak setuju dan lebih percaya kalo mereka kepengin ikutan Masterchef demi nambah pengalaman baru.

Baca juga:  Tiga Kemungkinan Kenapa Fahri Hamzah Ditolak Kedatangannya di NTT

Ketika kemudian komodo itu tiba di Australia, terjadi tumbukan antara daratan Sahul (Australia-Papua) dengan Sunda (Indo-Malaya). Dari tumbukan itu muncul, lah, kepulauan Indonesia. Belom jadi NKRI harga mati sih. Dan tentunya belom ada spesies lintah bernama bajersaurus cebongensis.

Singkat cerita, sindikat komodo di Australia tadi memperluas persebaran mereka hingga ke Pulau Timor. Pinter melihat peluang bisnis komodo-komodo ini ternyata.

Long story short, muncul periode Zaman Es yang mengakibatkan terbentuknya semacam jembatan penyambung antar-daratan. Komodo kurang ajar ini bukannya menyelamatkan diri, eh, malah menyebar ke seluruh Nusa Tenggara.

Ketika Zaman Es berakhir dan kepulauan Indonesia kembali terpecah, sindikat komodo yang ada di Australia terpisah dengan yang di Nusa Tenggara.

Tragisnya, seluruh populasi komodo yang di Australia punah diperkirakan akibat perubahan iklim. Tapi ada juga yang menyebut kepunahan mereka dimulai sejak bangsa Melanesia tiba di daratan Sahul pada 90.000 tahun yang lalu.

Alhasil, yang tersisa sekarang, ya, cuma yang ada di Taman Nasional Komodo itu.

Kalo ada yang nanya selain nebeng lempengan, gimana cara komodo-komodo jatmika itu bisa bermigrasi dari Afrika sampe ke Australia. Mungkin menggunakan kapal Titanic atau nyamar jadi perompak Somalia, saya nggak tau dan nggak pengen tau.

Terus apakah ketika di Australia mereka jadi anak tongkrongan Absel, Aborigin Selatan, yang doyan ngomong “licereli” sambil mainan bumerang? Saya juga nggak paham. Tapi kayaknya, sih, iya.

Nah, publikasi ilmiah lain menyebutkan, spesies komodo di Australia itulah yang berukuran gigantis. Panjangnya mencapai 7-8 meter dan diberi nama Megalania Prisca—namanya keren, deh, kaya gitaris band death metal.

Kemudian mereka berevolusi hingga menjadi seukuran sekarang yang hanya 2-3 meter. Ketika masih berukuran raksasa, mangsa favorit komodo ini adalah gajah kerdil yang disebut Stegodon.

Ebentar. Gajah kerdil tapi namanya Stegodon, kok kurang mashoook yha?

Saya jadi penasaran terus iseng nyari ide nama yang imut untuk gajah. Eh, beneran ada yang bikin, dong: 215 Cute and Funny Baby Elephant Names.

Ya Allah, mana jumlahnya juga spesifik banget, 215. Harus segera diungkap ini, sekte sesat macam apa yang bikin daftar nama tersebut.

Di antara ke-215 itu ada nama Cubby, Cherry, Elsa, Joey, Frosty, Caramel, Bubbles, sampe Jellybean. Ah, nggak seru, nama redneck semua. Ntar gajahnya milih Trump, deh, terus dikit-dikit khotbah soal fake news.

Nama buat gajah, mah, yang simpel-simpel aja. Saya usul Kosim atau Ropikoh. Kesan membuminya kuat, tapi juga terdengar sangat aesthetic.

Etapi bentar, zaman dulu kok aneh banget, ya? Ada komodo raksasa, tapi gajahnya kerdil. Jangan-jangan platypus yang sekarang adalah soang yang dulu kena kutuk. Atau kuda nil sebetulnya adalah kuda pegasus yang divonis diabetes. Atau bisa jadi kalo ikan sapu-sapu di Madura disebutnya ikan pu-sapu.

Baca juga:  Jika Benar Gili Lawa Terbakar Karena Foto Prewedding, Bagaimana Perasaan Calon Mempelai?

Hm, teori konstipasi menarik ini.

Balik lagi. Sejak spesies komodo raksasa itu punah, maka yang tersisa tinggal komodo sekarang yang mendominasi pulau-pulau di sebelah barat Flores.

Dahulu komodo jenis ini memangsa hewan-hewan yang lebih kecil dari stegodon, termasuk tikus-tikus besar yang juga menjadi mangsa Homo Floresiensis pada 40.000 sampai 25.000 tahun yang lalu.

Sekarang katanya udah muncul spesies komodo vegan yang kalo ketemu orang selalu ngomong “namaste” gitu. Terus cita-citanya ngevlog keliling dunia naek campervan bareng pacar dan anjing kesayangan mereka.

Bener nggak, sih? Kalo betul, keren juga bisa ketemu komodo blonde lagi nyetir di jalan terus diajak latihan yoga bareng.

Saya, sih, setuju aja komodo hidup bebas ke mana mereka mau. Mau ke Korea Utara, silakan. Ke Cilincing, boleh. Ke Rangkasbitung, nggak masalah. Mau ikut demo anti-Omnibus Law, juga asyik-asyik aja.

Ketimbang mereka bertahan di pulau yang sekarang lagi mau disulap jadi “Jurassic Park” itu. Lama-lama nama komodo nanti diganti jadi komoditi. Kan, susah bikin plesetannya kalo gitu.

Ah, tapi siapalah yang peduli jeritan hati komodo.

Soal ini, kawan saya di pesbuk sempet bikin status: “manusia aja nggak didengar, apalagi komodo.”

Kawan saya namanya Bilven Sandalista dan saya nggak ngerti status itu ditujukan ke siapa. Saya cuma berharap Bilven jadi Ketua Komodoholic chapter Cibeunying Kaler. Siapa tahu di bawah arahan kakanda Bilven, komodo-komodo itu bisa paham pentingnya meraih kemerdekaan 100 persen.

Caranya? Tentu dengan mengikuti kata mutiara pensohor pada masa lampau bahwa, “Meski komodo tidak bisa memilih yang terbaik, tapi komodo bisa mencegah yang terburuk berkuasa.”

 

View this post on Instagram

 

A post shared by gregorius afioma (@gregoriusafioma) on

BACA JUGA Air Mata Buaya, Sebuah Lambang Kesedihan Palsu dan tulisan Eddward S. Kennedy lainnya.