Curhat

Dear Mas Agus yang baik, aku mau curhat… langsung saja, ya.

Jadi begini, Mas Agus. Aku punya mantan, sebut saja namanya Lidya, kami bekerja satu perusahaan.

Beberapa hari yang lalu ada yang memberi kabar bahwa dia sudah tunangan. Jujur, mendengar kabar tersebut, ada semacam gejolak dalam hati yang tidak bisa aku pungkiri. Gejolak rasa tidak ikhlas, rasa tidak adil.

Ada perasaan bahwa dia tidak pantas jika langsung bahagia seperti itu sebelum dia mendapat karma atas semua perbuatannya padaku dulu. Ketulusanku, pengorbananku, kesabaranku ketika menghadapi sikapnya semua serasa tiada berguna. Menguap begitu saja.

Dulu, sewaktu aku masih bersama dia, aku selalu berusaha memperlakukan dia dengan perlakuan yang baik. Aku berusaha menjadi lelaki yang bisa diandalkan. Kalau dia pulang kampung, aku yang belikan dia tiket pulang-pergi, pas hari raya, aku pun belikan dia beberapa baju, pas dia butuh sesuatu, aku pun selalu ada untuk dia.

Namun ternyata, balasan yang dia berikan seringkali justru menyakitkanku. Dia seolah tak menganggapku sebagai kekasih, bahkan pernah suatu kali ia jalan dengan orang lain, ia berdalih bahwa ia hanya jalan sebagai teman, tapi tetap saja aku sebagai pasangannya merasa malu dan marah.

Pada akhirnya aku putus dengan dia. Ketika putus dia mengatakan bahwa dia akan melanjutkan hubungan dengan lelaki dari kampung halamannya. Aku mencoba merelakannya, toh kita memang sudah putus, aku tak berhak lagi atas dirinya. Lagipula, tak terlalu masalah buatu jika ia menjalin hubungan dengan lelaki dari kampung halamannya.

Baca juga:  Wahai Adik Perempuan Sedunia yang Punya Kakak Perempuan, Kuatkan Hatimu!

Namun apa yang terjadi?  Tak disangka, dia ternyata justru merajut hubungan dengan lelaki yang masih satu perusahaan dengan kami, hanya berbeda divisi. Jujur hatiku malu bercampur jengkel.

Saking jengkelnya, aku sampai pernah mengeluarkan sumpah serapah padanya, “suatu saat kamu akan merasakan apa yang aku rasakan, suatu saat kamu akan dipermalukan, disaat kamu sudah percaya, bahkan mungkin sudah dilamar, tapi akhirnya kamu dicampakkan, disaat hari itu tiba, kamu akan merasakan rasa sakit dan malu yang dulu juga aku rasakan”.

Aku sadar menyimpan dendam itu tak baik, tapi aku tak bisa memungkiri,  ada rasa tidak adil jika hidupnya langsung bahagia.

Kira-kira, apa yang harus saya lakukan, Mas Agus yang baik hatinya.

~Submarine Navy

 

Jawab

Dear Mas Submarine Navy, atau biar lebih gampang, saya panggil Yusub saja ya, sama-sama ada “sub”-nya kok.

Mas Yusub, sebagai sesama lelaki, saya paham betul apa yang sampeyan rasakan. Diperlakukan tidak mengenakkan oleh orang yang sudah kita perlakukan dengan baik. Rasanya pastilah gemes-gemes jengkel, terlebih jika dia adalah mantan kekasih kita sendiri. Menjadi lebih jengkel lagi jika ternyata di mata kita, dia malah terlihat bahagia, padahal kita berharap, ia mendapat karma atas perlakuan buruknya kepada kita.

Namun begini, Mas. Ada satu hal mendasar tentang perlakuan baik. Bahwa perlakuan baik tak selalu punya korelasi dengan balasan yang baik pula. Itulah sebabnya muncul lirik lagu “tak tandur pari, jebul tukule malah suket teki”, kutanam padi, tapi yang tumbuh malah rumput teki. Idealnya, menanam padi pasti akan tumbuh padi, idealnya, berbuat baik akan mendapatkan balasan yang baik. Namun kita harus selalu ingat, hidup tak selalu ideal.

Baca juga:  Jogja Berhati Mantan

Pada akhirnya, perlakuan dan sikap yang baik hanya menjadi perkara kualitas. Perlakuan baik sampeyan kepada Lidya adalah soal kualitas sampeyan, sedangkan perlakuan tidak menyenangkan Lidya terhadap sampeyan adalah perkara kualitas Lidya.

Nah, dari sini, jika benar apa yang sampeyan katakan, maka sudah terlihat jelas bagaimana kualitas Lidya, sampeyan harusnya senang bisa putus dengannya. Sebab sampeyan layak mendapat wanita yang punya kualitas lebih dari Lidya.

Yang harus sampeyan lakukan tentu saja adalah bersyukur, sebab sampeyan terhindar dari wanita yang tidak bisa mengapresiasi perlakuan baik sampeyan.

Tetaplah menjadi lelaki yang tangguh, cari perempuan lain, dan perlakukan ia sama baiknya (atau bahkan lebih baik) seperti sampeyan memperlakukan Lidya. Buat dia istimewa.

Bekerjalah dengan giat, bangun karir sampeyan. Sebab tak ada yang tahu, barangkali, Tuhan ingin menjatuhkan Lidya serendah-rendahnya ketika sampeyan berada di posisi yang sedang tinggi-tingginya.

Ingat, karma itu selalu ada, tapi kita tak pernah tahu kapan ia hadir menyapa.

Oh ya, btw, boleh saya minta kontak Lidya mantan pacar sampeyan itu? Saya pengin juga ikut-ikutan mengirimkan sumpah-serapah kepadanya.

Bangsaaaaaat.

Komentar
Add Friend
No more articles