Cita-cita adalah hal yang unik dan kerap dibangun oleh alasan yang unik pula.

Ada yang bercita-cita menjadi tentara karena terkagum-kagum sama Rambo yang punya body sterek kayak pelatih fitnesss dan bisa menang melawan sekompi pasukan musuh sendirian. Ada yang bercita-cita menjadi PNS karena ingin mudah mendapat restu dari calon mertua. Juga ada yang bercita-cita menjadi guru BP karena ingin balas dendam sebab dulu saat sekolah sering dipanggil oleh BP dan rambut gondrongnya sering dicukur paksa dengan model cukuran yang tidak estetique.

Alasan yang lebih aneh dan lebih receh lagi tentu saja masih banyak, misal ada yang bercita-cita menjadi astronot karena ingin membuktikan benar atau tidak kalau dulu Neil Amstrong mendengar lantunan azan saat mendarat di bulan, atau bercita-cita menjadi polisi lulusan Akpol karena merasa itu jalan terbaik untuk bisa mendapatkan gadis lulusan Akper, atau bisa juga bercita-cita menjadi YouTuber hanya karena ingin rumahnya digrebeg sama Ria Ricis dan diajak collab sama Atta Halilintar.

Nah, dari sekian banyak cita-cita yang sering keluar dari mulut anak anak-anak di Indonesia, pengusaha ternyata merupakan salah satu cita-cita yang tidak terlalu diidam-idamkan.

Dari hasil survei Litbang Koran Sindo beberapa waktu yang lalu, dari 10 besar cita-cita yang umum ingin dicapai oleh anak-anak Indonesia, pengusaha menempati urusan yang paling buncit, alias urutan nomor 10.

Urutan pertama ditempati oleh dokter, urutan kedua polisi, urutan ketiga guru, kemudian diikuti oleh pilot, tentara, artis, presiden, astronot, pengacara, baru pengusaha.

Bagi banyak orang, pengusaha bukanlah pilihan yang menjanjikan. Selain karena penuh dengan risiko, menjadi pengusaha bagi banyak orang dianggap tidak mampu menghasilkan penghasilan yang instan dan stabil. Itu pula kenapa banyak orang yang lebih suka menjadi pegawai ketimbang pengusaha.

Jika dilihat pada titik tertentu, ini tentu saja merupakan sebuah ironi tersendiri. Maklum saja, pengusaha adalah elemen penting yang mampu mengangkat ((( perekonomian negara ))).

Tanpa mengecilkan profesi-profesi yang lain, tak dapat dimungkiri bahwa pengusaha adalah profesi yang ikut membantu negara untuk menciptakan lapangan-lapangan kerja baru.

Padahal, kalau mau ditelaah dengan cermat, hampir semua profesi orang-orang terkaya di dunia adalah pengusaha. Bukan polisi, bukan PNS, bukan astronot, bukan pula tentara.

Nah, di jaman sekarang, menjadi seorang pengusaha seharusnya bukan lagi menjadi sebuah momok yang bikin jiper banyak orang, sebab dukungan dan jalan untuk menjadi pengusaha di era serba digital seperti sekarang ini memang terbuka amat lebar.

Banyak hal yang memungkinkan kemudahan bagi banyak orang untuk menjadi pengusaha.

Pertama, semakin banyak ceruk usaha yang bisa digali. Sekarang ini, banyak hal yang bisa dijadikan sebagai peluang usaha.

Maklum, di Indonesia ini, hampir semua hal bisa dijual, dari mulai tokek, plafon, kanopi, sedotan stainless, jenglot, bahkan sampai agama.

Kehidupan juga semakin hari semakin kompleks. Dengan kondisi yang demikian, maka jenis usaha juga semakin beragam. Ada banyak usaha-usaha unik yang mungkin sepuluh atau lima belas tahun lalu tidak pernah kita bayangkan ia akan ada, misal jasa laundry sepatu, jasa bom like, jasa menaikkan isu menjadi trending topic, jasa penyediaan pasangan palsu saat wisuda, jasa organisir pelayat bayaran (yang konon semakin kelihatan sedih pelayatnya semakin besar pula honornya) sampai jasa milik Zarry Hendrik yang beberapa waktu terakhir cukup heboh: jasa pembuatan caption.

Semua itu tentu saja adalah peluang bisnis yang sangat menjanjikan.

Kedua, mencari modal usaha sekarang tidak sesulit dulu. Kalau dulu untuk bisa mendapatkan modal usaha minimal harus punya aset yang bisa dijadikan agunan, maka sekarang, hal itu sudah tidak lagi berlaku. Sekarang, mendapatkan modal usaha bisa dilakukan dengan banyak cara kreatif.

Saat ini, banyak platform ataupun forum yang mampu mempertemukan calon-calon pengusaha dengan calon-calon pemodal. Iklim bisnis yang semakin kreatif membuat banyak investor berlomba-lomba untuk mencari start up-start up baru yang bisa mereka modali.

Selain itu, sekarang ada banyak program kompetisi kewirausahaan dengan hadiah berupa modal usaha yang tidak kecil nilainya. Diplomat Success Challenge (DSC), misalnya.

Program yang sudah berjalan sejak sepuluh tahun lalu ini rutin memberikan modal usaha dan pendampingan bagi para calon-calon pengusaha baru.

Di tahun yang kesepuluh ini, program DSC kembali dihelat. Had ahnya tak main-main, yakni hibah modal usaha dengan nilai total 2 miliar rupiah dan pendampingan usaha serta mentoring dari mentor-mentor bisnis pilih tanding.

Para calon pengusaha yang punya ide bisnis yang bagus dan menarik bisa mengirimkan proposal bisnisnya ke DSC melalui situs diplomatsukses.com. Nantinya dari seluruh proposal yang masuk, akan terpilih beberapa proposal terbaik yang akan mendapatkan hibah modal usaha.

Ketiga, skill untuk mendukung usaha sekarang sangat mudah didapatkan. Kini orang bisa dengan gampang belajar fotografi, video editing, digital marketing, dan skill-skill lainnya yang mana bisa menjadi modal dasar yang sangat penting untuk membuka usaha.

Tak perlu kursus mahal-mahal, sebab semua ilmu di atas bisa didapatkan melalui video-video YouTube atau tutorial-tutorial di internet yang bisa diunduh secara gratis.

Hampir semua tutorial bisa didapatkan di YouTube, dari tutorial nggambar, tutorial ngarit, tutorial merangkai kertangkes, sampai tutorial menonton tutorial. Semuanya ada.

Nah, dengan banyaknya kemudahan yang sudah dijelaskan di atas, maka seharusnya tak ada lagi alasan bagi banyak orang untuk enggan menjadi seorang pengusaha.

Ingat, menjadi pengusaha bukan hanya membantu orang lain yang belum punya pekerjaan, namun juga membantu Pak Jokowi yang semakin hari tampak semakin tua dan lelah karena terus-menerus dipaksa untuk bisa mengurangi jumlah pengangguran.

Dalam kondisi yang demikian, boleh dibilang, menjadi pengusaha adalah jihad dan jalan pedang.

Lagipula, kalau sudah jadi pengusaha sukses, kan enak, nanti bisa naik pangkat jadi motivator yang omongannya selalu dipercaya.

Kalau kata orang bijak dari seberang, “Orang kalau belum sukses, maka ia tak layak menjadi motivator, sebab orang-orang akan menganggap apapun yang kau katakan tentang kesuksesan tak lebih dari sebuah kentut. Tapi jika kau sudah sukses, jadi motivator terasa mudah, sebab orang sukses itu, bunyi kentutnya pun bisa terdengar seperti sebuah motivasi.”

Bagaimana? Siap menjadi pengusaha? Sudah ditunggu Jokowi, lho.

diplomat sukses