Ya, saya akui, saya ini pencinta drama Korea. Itu lebih baik bagi kesehatan jiwa saya daripada saya harus menahan emosi menonton drama Indonesia yang ceritanya seputar perebutan harta, takhta, dan wanita. Belum lagi kalau tokoh utamanya amnesia, lalu istri tokoh utamanya disiksa mertuanya. Setelah itu, tokoh utamanya disuruh nikah lagi dengan calon pilihan ibunya. Sejak zaman Tersanjung, Tersayang, Misteri Gunung Merapi, sampai sinetron-sinetron Hidayah, tak ada skenario yang berubah.

Saya juga heran. Sekalinya meniru atau membeli lisensi drama Korea atau drama Asia lainnya, ending ceritanya tetap saja tak jelas. Sang sutradara tetap membubuhkan bumbu amnesia untuk tokoh utama laki-laki dan penyiksaan mama mertua terhadap tokoh utama perempuan.

Alhasil, sejak sepuluh tahun lalu saya menjadi salah satu penonton setia drama Korea. Mulai dari Endless Love, Winter Sonata, Full House, Stairways to Heaven, Boys Before Flowers, You Who Came From Another Star, Descendants of The Sun, Goblin, Fighting My Way, Defendant, dan banyak lagi. Orang-orang terdekat saya sampai sudah hafal karena saya akan berubah kalem, tak ada kabar, tak ada update media sosial, artinya saya sedang khusyuk menonton drama Korea.

Alasannya simpel. Setiap episode drama Korea selalu diakhiri dengan hal-hal yang memicu rasa ingin tahu penonton tak dapat dibendung. Ibu saya juga sampai geleng-geleng karena anaknya tak mampu begadang mengerjakan tugas, tapi bisa melek sepanjang malam untuk menamatkan satu drama Korea.

Selain alur ceritanya yang beragam, soundtrack musiknya yang catchy, dan jumlah episode yang masih bearable, favorit saya adalah para pemeran kedua utama pria dalam setiap drama Korea (atau biasa disebut second male lead character). Untuk hampir setiap drama Korea yang saya tonton, sebenarnya tak ada perbedaan yang mencolok antara pemeran utama pria dengan pemeran kedua utama pria ini. Sama-sama ganteng, kaya, baik, pintar, dan mencintai si satu pemeran utama perempuan. Bedanya, pemeran kedua utama pria tak akan pernah mendapatkan cinta si perempuan. Huft! Karena itu, berdasarkan poin-poin pembelaan terhadap second male lead characters di bawah ini, saya menuntut tim produksi drama Korea untuk sesekali berikan keadilan bagi mereka!

Tak sedikit second male lead character yang sama kayanya dengan pemeran utama, bahkan lebih kaya!

Biasanya, para pemeran utama perempuan ini digambarkan berasar dari kaum kelas menengah ngehe. Mereka mampu menghidupi diri-sendiri, tapi ketika disuruh ngirim jatah ke kampung, mereka melongo. Alhasil, kerja sampingan sebanyak apa pun mereka lakoni.

Untungnya, para pemeran utama pria tak jarang sudah lebih mapan dari sisi finansial. Bedanya, biasanya para pemeran utama pria ini lebih rumit perkara harta. Mereka memang tidak terlalu memikirkan bagian warisan mereka, tapi keluarganya itu loh, ampun! Pada rebutanlah, disangka si perempuan mau merebut hartalah, dan drama lainnya yang bisa kamu simulasikan sendiri di pikiranmu.

Baca juga:  Kereta Ekonomi: Pemersatu Hati yang Rindu, Pemisah Hati yang Tak Ingin Terpisah

Sekarang, coba kamu tengok kehidupan second male lead character. Mereka biasanya kaya juga, tapi keluarganya antara lebih peduli pada kebahagiaannya atau ya adem ayem aja dengan harta yang ada tanpa harus ada rasa insecure akan direbut oleh pihak-pihak tertentu. Mau contoh? Coba kamu tengok drama Boys Before Flowers dan The Heirs.

Second male lead character itu ganteng tapi tak banyak diperebutkan kaum Hawa!

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, para pemain utama kedua pria ini tak kalah ganteng dengan pemeran utamanya. Sebut saja Jung Yong Hwa, Choi Si Won, Yoo Ah In yang pernah menjadi korban perasaan pemain utama perempuan. Walaupun ganteng, ternyata lebih sedikit kaum Hawa yang memperebutkan mereka!

Terang saja, sang sutradara dan penulis skenario pasti ingin lebih menonjolkan pemeran utama pria sehingga yang selalu terlihat menjadi idola para perempuan bukanlah si second male lead character. Tapi, tentu saja ini adalah suatu keuntungan. Di kehidupan nyata, tentunya para perempuan tak rela jika pacarnya banyak dilirik kaum Hawa lainnya, bukan?

Second male lead character biasanya punya ibu yang lebih kooperatif

Tentu saja perselisihan antara calon mama mertua dengan calon mantu perempuan bukanlah hal luar biasa. Baik di drama maupun di kehidupan nyata yang kadang penuh drama, mama-mama mertua kurang kooperatif amat mudah ditemukan. Bedanya, di drama Korea perselisihan ini biasanya terjadi lebih intens dan lebih seru untuk ditonton.

Misalnya, calon mama mertua tiba-tiba membeli satu gedung apartemen si pemeran utama perempuan dan bersiap merobohkan unit tempat si perempuan tinggal. Atau, calon mama mertua yang tiba-tiba mendatangi keluarga pemeran utama perempuan dan melemparkan uang sekoper di depan mata kedua orang tua si perempuan. Hal paling ekstrem yang pernah saya tonton adalah calon mama mertua bahkan menyewa pembunuh bayaran untuk mencelakai si mbak pemeran utama. Serem kan?

Nah, biasanya second male lead character punya mama yang lebih kooperatif. Mama-mama ini percaya pada pilihan anaknya sedari awal sehingga tak berakibat adanya drama-drama intense. Malahan, hubungan antara calon mama mertua kooperatif dengan calon anak mantunya ini bisa kamu jadikan referensi di dunia nyata.

Sudah dapat dipastikan bahwa second male lead characters akan lebih cinta sama pemeran utama ceweknya!

Bagi kamu yang sudah menonton drama Korea She Was Pretty, You’re Beautiful, The Moon That Embraces The Sun, tentu kamu setuju bahwa para kaum Adam yang menjadi second male lead characters jauuuh lebih cinta sama pemeran utama perempuan. Mereka akan selalu ada di saat si perempuan membutuhkan pertolongan, rasa aman, atau sekadar teman bercerita.

Baca juga:  Drama Korea Terbaik 2017 Versi Redaktur Mojok

Mereka juga rela berkorban agar si perempuan bahagia. Dengan lebih sederhananya drama di dalam kehidupan mereka, mereka pun bisa lebih fokus untuk memberi perhatian penuh kepada perempuan. Nyesss. Tapi, sungguh sayang, peruntungan cinta mereka tak pernah bagus. Mereka selalu kalah dengan para pemeran utama pria yang biasanya lebih kasar, lebih cuek, dan punya mama lebih galak.

Selain itu, tim produksi drama Korea juga harus berikan sedikit ruang bebas agar para second male lead characters ini tetap bisa hidup dengan nyaman usai ditolak oleh si perempuan. Jangan biarkan mereka pindah kota, pindah ke luar negeri, atau malah kecelakaan lalu meninggal. Huhu.

Mereka kan juga berhak hidup bahagia. Tak apalah jika mereka tak mendapatkan pasangan pengganti karena jika ada pemeran baru, berarti tim produksi harus mengeluarkan budget lagi. Tapi, setidaknya biarkanlah mereka menjalani masa-masa sulit untuk move on itu dengan tenang. Janganlah tiba-tiba langsung di-cut kehadirannya lalu para penonton hanya disuguhkan ending kissing scene yang ya sudah dapat ditebaklah.

Tim produksi drama Korea juga harus melihat adanya sindrom baru di Korea, dan setidaknya Asia, tersebab betapa tak adilnya perlakuan mereka terhadap para second male lead character. Sindrom itu dinamakan SLS atau Second Lead Syndrome. Sindrom ini biasanya diderita para penonton drama Korea yang kecewa karena nasib mas ganteng pemeran utama kedua ini jarang sekali berakhir bahagia.

Bahkan, situs berita kpop asal Korea, allkpop, pernah membuka forum diskusi terkait sindrom ini dan forumnya mencapai hit tertinggi dibandingkan semua situs berita Korea lainnya.Tentu saja, harapan para netizen budiman di sana sama dengan saya: membuat para second male lead characters BAHAGIA.

Ada pula satu  situs urban dictionary yang memberikan definisi tersendiri kepada sindrom ini:

Wanting so desperately for the lead actress of a drama to end up with the better guy, but you always know that she is going to end up with the lead bad guy in the end. Usually goes with the feelings of either wanting to curl up and cry over your ramen, knock someone’s teeth in or both.”

Selain penindasan dan diskriminasi kepada second male lead character menimbulkan kekecewaan kepada para penonton yang kadung jatuh cinta pada tokoh ini, sebenarnya ada kekhawatiran bila kebiasaan tokoh utama perempuan di drama Korea akan terbawa pada kehidupan penonton sehari-hari. Cobalah sista-sista renungkan, pernah nggak kalian mengesampingkan (baca: menjebak dia dalam friendzone) cowok yang lebih kaya, punya mama kooperatif, lebih baik, lebih sering berada di sampingmu, hanya karena kehidupannya less drama dan ada cowok lain yang, okelah, ganteng sih, tapi hubungan kalian malah lebih banyak dramanya?

Komentar
Add Friend
No more articles