MOJOK.COSecara tidak sadar, di dalam diri Si Doel muncul sifat softboi. Kebimbangan ketika memilih Zaenab atau Sarah malah bikin susah Mak Nyak dan kita semua.

Mari kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan setelah cerita Si Doel akhirnya selesai sudah. Akhirnya, cerita yang menguras emosi ini selesai juga. Emosi, karena melihat sikap Si Doel yang plin-plin dan nggak sat set blas. Sikap seorang softboy yang bikin susah Mak Nyak, Sarah, Zaenab, dan kita semua.

Film ketiga ini dikasih judul Akhir Kisah Cinta Si Doel. Sudah naik layar sejak Kamis, 23 Januari 2020 yang lalu.

Di film ini, Doel the softboi, akan memilih antara Zaenab (Maudy Koesnaedi) atau Sarah (Cornelia Agatha). Kegembiraan tercurah kepada keluarga Doel (Rano Karno) saat Sarah kembali ke Jakarta. Tidak hanya sendiri, Sarah juga pulang bersama Dul (Rey Bong).

Walaupun ada kebahagiaan, tetap saja, kepulangan Sarah akan kembali menyeret Zaenab dan Doel ke dalam ombak cinta segitiga. Zaenab yang positif hamil berada dalam kebimbangan. Dia masih trauma pernah kehilangan buah hati di masa lalu. Belum selesai kebimbangan itu, Zaenab kini harus memilih antara tetap berada di sisi Doel, atau merelakannya demi menyatukan kembali sebuah keluarga.

Sarah juga tidak kalah pelik keadaannya. Dia harus memutuskan apakah akan mantap bercerai dengan Doel atau rujuk kembali demi Dul si buah hatinya. Waktu yang semakin mendesak membuat Doel harus cepat memutuskan ke mana hati dan raga seutuhnya berlabuh. Selain pemain di atas, aktor dan aktris lain yang bergabung di antaranya Mandra, Suti Karno, Aminah Cendrakasih, dan Ahmad Zulhoir Mardia.

Rano Karno, yang dikesankan sebagai softboi, masih akan menjadi penulis naskah dan sutradara dalam film ini, seperti dua film sebelumnya. Melansir Antara, Rano Karno merasa harus mengakhiri kisah cinta segitiga ini setelah berlangsung selama 27 tahun. “Saya harus mengakhiri walaupun pilihannya mungkin tidak menyenangkan,” kata Rano Karno.

Baca juga:  Program Tipi Bedah Rumah untuk Orang Kaya Seperti Rumah Uya

Melansir Antara, Rano Karno merasa harus mengakhiri kisah cinta segitiga ini setelah berlangsung selama 27 tahun. “Saya harus mengakhiri walaupun pilihannya mungkin tidak menyenangkan,” kata Rano Karno.

Sikap Si Doel ini yang jadi masalah. Sejak sinetronnya tayang di televisi nasional dulu, Si Doel sudah sulit menentukan pilihan. Mau Sarah atau Zaenab. Jahat ih, padahal perempuan itu bukan pilihan. Di sinetron, Mak Nyak lebih suka kalau Doel menikah dengan Zaenab. Sementara itu, Babe Sabeni yang diperankan almarhum Benyamin Sueb lebih memilih Sarah.

Sikap inilah yang membuat Si Doel jadi seorang softboi yang bikin gemas banyak orang. Merujuk Urban Dictionary, softboi itu masih satu spesies dengan fuckboi. Bedanya, softboi nggak cocky kayak fuckboi. Seorang softboi akan menunjukkan sisi sensitifnya kepada perempuan selama beberapa waktu. Tujuannya untuk membuat si perempuan jatuh cinta, mau having sex dengan dirinya, atau sampai ke pelaminan.

Softboi terbagi menjadi dua. Pertama, mereka yang sebetulnya nggak begitu peduli dengan perasaan di perempuan. Mereka bersenang-senang secara “halus” tanpa menunjukkan sisi cocky dirinya. Kedua, softboi yang kepeduliannya samar-samar, bingung memilih, dan biasanya berakhir dengan bikin sakit hati. Softboi kedua inilah yang muncul dari sisi emosi Si Doel.

Kok Si Doel bisa kayak gitu, sih?

Biasanya, di dalam hati softboi macam ini tengah terjadi pergulatan antara tega dan nggak tega. Mau memilih Sarah, tapi nanti Zaenab menderita. Begitu juga sebaliknya. Kesannya sih baik. Namun, membuat sesuatu berada di “dunia antara” itu ya ujungnya bikin sakit hati.

Baca juga:  Angkot dan Beberapa Trauma yang Ia Tinggalkan di Diri Saya

Gimana nggak bikin sakit hati, lha wong Mak Nyak saja samoai harus turun tangan. Mak Nyak sampai berpesan begini: “Dul, elu enggak boleh poligami ya.”

Sangat mungkin terjadi, Mak Nyak curiga anaknya nggak mau bikin sakit hati dengan menikahi Sarah dan Zaenab. Mak Nyak nggak mau Si Doel kena amuk aktivis anti-poligami yang bisa galak betul. Entar Si Doel jadi repot harus bikin klarifikasi lewat THREAD Twitter kayak fuckboi dari sebuah kota yang korbannya bermunculan satu per satu itu.

Padahal, kita semua tahu, bukan, kalau diduakan itu bikin sakit hati bener, apalagi dimadu. Ya ada sih yang membela dengan dasar agama dan silakan saja. Saya ngeri sendiri. Maaf, no debate (emot tangan terkatup).

Ingat, softboi bisa akan muncul di diri seseorang dengan tidak disadari. Niatnya menyelesaikan masalah tanpa menyakiti hati siapa pun. Tapi, ingatlah wahai kalian “Si Doel-Si Doel” di luar sana, terkadang kita perlu tegas untuk menyelesaikan masalah percintaan.

Terkadang, lebih baik tega untuk berkata tidak dan cukup ketimbang menggantung perasaan. Kasihan Zaenab dan Sarah lainnya di luar sana.

Ingat kata Mak Nyak: “Elu jangan poligami.” Ya kalau begitu kamu kudu memilih dengan tegas. Jangan kumis aja dipanjangin sampai kayak pikulan bakul krupuk. Si Doel perlu mencontoh kisah tragis percintaan Munaroh dan Mandra. Dear rumah produksi, tolong bikinkan side story Mandra dan Munaroh dong. Yakin, ini bakal lebih epic

Pada titik tertentu, softboi nggak lebih baik ketimbang fuckboi. Cuma beda di pendekatan dan latar belakang masalah saja.

BACA JUGA Kisah Getir Keluarga Si Doel Anak Sekolahan Jika Ditonton Sekarang atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.