• 639
    Shares

MOJOK.COEmak-emak yang sedang senam artisitik di MRT di-bully banyak orang, dibilang seperti monyet karena bergelantungan. Ini sungguh kurang ajar dan nggak tahu adab.

Rasa penasaran manusia itu, kalau tidak diarahkan secara positif, memang bisa berbahaya. Apalagi ketika manusia itu “ber-KTP Indonesia”. Rasa penasaran rang Indonesia itu nggak ada tandingannya.

Lha wong ketika ada teroris, berdatangan pedagang kacang rebus, rokok ketengan, dan kopi keliling. Selain penasaran melihat teroris didor, mereka sekalian berjualan. Ini kalau Thanos turunnya di Banjarnegara, orang-orang bukannya lari, tapi buka lapak dawet ayu.

Maka jangan heran, apalagi menyalahkan emak-emak yang “bertingkah aneh” ketika mencoba MRT, moda transportasi anyar yang disebut sebagai “budaya baru” oleh Jokowi. Ada emak-emak yang malah naik ke atas kursi plastik yang terlihat masih kinyis-kinyis. Ada yang malah bergelantungan di pegangan tangan, ada pula yang malah pinik makan bersama ketika mengantre.

Ini semua sudah betul. Ini budaya Indonesia, lho. Masak kamu nggak menghargai budaya Indonesia. Memangnya apa sumbangsihmu untuk Nusantara? Bisanya kok malah mem-bully. Sok-sokan ngefotoin emak-emak itu. Bukannya dinasihati baik-baik, malah dijepret, diunggah ke Twitter. Kalian cuma mau nyari followers, kan? Ketebak. Dasar tipikal.

Gini lho, emak-emak dengan bawahan semacam rok panjang bermotif loreng itu bukannya norak atau kurang ajar. Beliau sedang menguji kekuatan bangku plastik yang dipakai sebagai tempat duduk MRT. Kalian memperhatikan nggak sih, di depan si emak loreng itu ada petugas MRT? Nah, mari berbaik sangka, mungkin si emak disuruh si bapak petugas untuk quality control.

Coba bayangkan, kelak ketika MRT sudah dibuka untuk umum, ada penumpang yang lelah sehabis kerja, ingin segera duduk. Yang ia dapatkan adalah bangku yang tiba-tiba jebol. Pecahan bangku plastik menusuk pantat di penumpang. Kalau sudah begitu, memangnya kamu mau tanggung jawab mengusuri biaya berobatnya? Saya kok yakin pantat bolong kena pecahan bangku plastik itu belum di-cover BPJS.

Baca juga:  Perjalanan Politik Amien Rais Sampai Disebut Gerindra Cuma Sebagai Lucu-lucuan

Yang dilakukan si emak loreng itu sungguh mulia. Ya sama seperti suporter sepak bola Indonesia di Stadion GBK tempo hari. Ketika dikasih bangku individu, yang nyaman, mereka malah memakainya untuk pijakan kaki dan berdiri. Kurang ajar? Ya enggak, lah. Kan itu budaya kita. Mereka itu sedang quality control. Kamu aja yang sok gelisah. SJW ya?

Lalu ada emak-emak yang sedang senam artistik. Kamu tahu apa yang dibilang netizen ketika melihat emak-emak senam artistik? Emak-emak dibilang “monyet” karena bergelantungan. Astagfirullah. Kasar sekali. Sama emak-emak kok kasar betul. Ini justru bukan budaya Indonesia. Rang Indonesia itu lembut, jauh dari omongan kasar, toleran, pemaaf.

Kamu tau istilah mens sana in corpore sano? Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang juga sehat. Emak-emak yang bergelantungan di MRT dan kamu sebut monyet itu justru lebih sadar kesehatan. Ia memanfaatkan ruang dan waktu dengan tepat.

Emak-emak ini melihat gerbong MRT sebagai taman kesehatan. Maklum, jumlah taman dan ruang terbuka hijau di perkotaan sudah semakin sedikit. Emak-emak beradaptasi, mimikri dengan lingkungan sekitar. Emak-emak ini mimikri untuk melindungi diri dari lingkungan yang keras dan bikin nggak sehat.

Ketika menunggu di dalam MRT, mereka bisa sambil berolahraga. Senam artistik langsung terpikirkan ketika melihat pegangan tangan mirip alat senam di olimpiade. Ini sangat cerdas. Pola pikir yang sangat 4.0. Coba kalau milenial atau generasi Z ingusan yang nunggu di dalam MRT, yang mereka lakukan malah sibuk main hape, main PUBG. Dukung gerakan PUBG haram! Sudah sangat individual, enggak bikin badan sehat pula.

Baca juga:  5 Penderitaan Kita Kalau Prabowo Beneran Gagal Jadi Presiden

Selain senam artistik, saya kok yakin emak-emak ini punya ide olahraga lain di MRT yang nggak bakal kamu pikirkan. Misalnya tiang di sebelah pinggir, bisa dipakai untuk pole dance. Ketika gerbong sepi penumpang, dengan panjang gerbong mencapai 20 meter, emak-emak bisa olahraga anggar atau kalau mau ramai-ramai: tarik tambang. Kreatif! Seratus kali naik MRT, langsung jadi atlet olimpiade.

Bagaimana dengan emak-emak yang malah makan lesehan ketika menunggu antrean?

Ini emak-emak memang radikal. Coba pikirkan masak-masak. Perhatikan foto itu lekat-lekat. Deretan emak-emak yang makan ini sangat terpola, seperti sudah sangat direncanakan sejak lama. Betul, yang emak-emak lakukan ini sebetulnya adalah demo, sebuah kritik sosial.

Apa tujuan demo mereka? Mereka ingin pemerintah sadar sendiri kalau harga makanan di kereta itu mahal. Sudah mahal, banyak yang nggak enak pula. Nasi goreng 35 ribu, rasanya seperti nasi dikasih kecap saja. Sudah begitu porsinya sedikit sekali. Ini sungguh tidak masuk dalam hitung-hitungan rumah tangga dan anak kos.

Emak-emak tidak ingin makanan mahal dan nggak enak juga dijajakan di MRT atau di stasiun-stasiun kereta mana saja. Mereka menunjukkannya dengan demo, dengan sebuah kritik sosial yang sungguh Indonesia, yaitu ke mana-mana harus bawa camilan, nggak berhenti mengunyah, dan kalau bisa bawa tikar untuk makan bersama, lesehan.

Ketimbang demo bakar ban ala-ala anak kampus dan bikin macet, emak-emak di MRT lebih cerdik. Kayak gitu masak kamu nggak paham. Dasar udik.

  • 639
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles