• 29
    Shares

MOJOK.CO – Pada intinya adalah kerja cerdas supaya tidak menjadi miskin. Maka, kerja politik dinasti Ratu Atut di Banten adalah sebuah inspirasi yang segar dan akurat.

Ratu Atut dan keluarganya itu revolusioner. Kita saja yang tidak bisa menangkap makna kerja cerdas mereka untuk menjadi kaya. Betul, seperti kata Arman Dhani dalam artikelnya yang berjudul, “Pengantar Memahami Logika Sandiaga Untuk Para Ahoker” bahwa sumber masalah di Jakarta adalah miskin.

Ini sudah 2019, sudah bukan waktunya lagi bekerja keras, tapi kerja cerdas supaya terhindar dari kemiskinan. Bagaimana caranya? kalau di Indonesia, supaya cepat kaya, salah satunya ya dengan masuk ke panggung politik. Mau nyaleg, boleh. Mau jadi pendana tokoh partai, boleh. Mau jadi penguasaha dan main mata dengan politisi, ya boleh banget. Intinya adalah menginduk di bawah ketiak “politik”. Tentu politik yang jahat.

Nah, kalau berasal dari keluarga yang sudah punya cengkeraman politik di daerah tertentu, kamu akan jauh lebih mudah untuk melestarikan politik dinasti. Punya ibu yang berpengaruh meski berstatus narapidana dan bapak yang legendaris, maka melanjutkan usaha keluarga adalah keputusan yang bijak. Sebuah bentuk kepatuhan kepada warisan keluarga. Kamu akan menjadi anak yang berbakti.

Politik dinasti adalah langkah instan menjadi kaya, atau setidaknya menjaga nominal tabungan keluarga tetap menyenangkan ketika ditengok lewat layar ATM. Contohnya bagaimana aksi nyaleg ramai-ramai dari adik, anak, dan menantu Ratu Atut di Banten. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang kompak, saling membantu. Keluarga Ratu Atut keluarga yang kompak. Contohlah keluarga Ratu Atut.

Baca juga:  Ketika Tentara Salib Turun di Banten

Untuk Pemilihan legislatih (pileg) 2019 di Banten nanti, keluarga koruptor Ratu Atut bakal mengirimkan komposisi pemain yang nampaknya andal. Sang menantu, Ade Rossi Chaerunnisa, istri Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, dan putri kandung Ratu Atut, Andiara Aptilia akan berlaga di babagan Dapil 1 Pendeglang dan Lebak.

Jadi, untuk warga Pandeglang dan Lebak, catat nama di atas baik-baik dan coblos nanti pada waktunya. Niscaya, politik dinasti akan tetap lestari. Membantu sebuah keluara kaya raya namun terasa tidak mampu adalah berkah. Tidak mengapa Pandeglang dan Lebak tetap masuk kategori daerah tertinggal, asal keluarga Ratu Atut sejahtera Sentosa.

Perlu kamu ketahui, Kabupaten Pandeglang dan Lebak termasuk daerah tertinggal dan diprioritaskan oleh Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) untuk dinaikkan statusnya. Dengan kerja cerdas politik dinasti Ratu Atut, Pandeglang dan Lebak bisa naik status dari daerah tertinggal menjadi daerah agak berkembang dengan penurunan desa tertinggal sebanyak 0,05 persen.

Daerah-daerah tertinggal seperti Pandeglang dan Lebak menjadi sasaran empuk bagi politik dinasti karena tingkat pendidikan yang rendah dan minimnya literasi politik. Kombinasi pendidikan yang rendah dan minimnya literasi politik sungguh mujarab. Masyarakat yang di-pressing kombinasi dua atribut tersebut menjadi lebih mudah dikibuli, apalagi dengan iming-iming uang. Inilah kerja cerdas politik dinasti keluarga Ratu Atut.

“Jadi politik dinasti ini kan dia selalu berkorelasi dengan tingginya tingkat toleransi terhadap politik uang. Nah daerah daerah yang terbekakang rata-rata toleransinya terhadap politik uang masih tinggi sekali,” kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar, seperti diberitakan detik.com.

Jadi, ketimbang bisnis penerbitan buku yang rawan bangkrut, buka warung makan yang berisiko tinggi, atau jadi redaktur situsweb kafir dan liberal, sudah saatnya bersama-sama kita masuk ke gelanggang politik. Sudah bukan zamannya pula menjadi politikus yang bersih, sehat, jujur, tegas, amanah, merakyat, sederhana, membumi, bla bla bla.

Baca juga:  Jangan-Jangan, FaceApp Hadir Sebagai Protes Terhadap Penggugat Evi Apita?

Ingat, pada akhirnya, jika tidak ingin miskin dan menderita, mari membangun politik dinasti. Niscaya…

  • 29
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles