• 265
    Shares

MOJOK.CO – Para pendukung Prabowo di media sosial untuk Pilpres 2019 dicurigai sebagai Cyber Troops. Benarkah demikian? Berikut lima ciri-ciri pasukan siber.

Media sosial memainkan peran yang sangat krusial di setiap kontestasi politik. Tidak terkecuali Pilpres 2014 dan berlanjut ke Pilpres 2019. Media sosial menjadi celah, jalan pintas, bagi setiap kontestan untuk bertemu dengan calon pemilih mereka secara “langsung”.

Oleh sebab itu, “pertarungan” di media sosial terkadang jauh lebih panas ketimbang ketika bertatap muka. Di media sosial, setiap individu bisa menjadi siapa saja, memproduksi akun-akun palsu untuk kepentingan menyerang lawan capres dan cawapres yang ia dukung.

Tinggal pakai foto hasil comotan di Google, biasanya foto palsu, atau pakai foto yang berisi quote orang-orang terkenal. Ngegas ketika berdepat pun tidak masalah karena tidak bertatap muka. Ketika “terciduk” oleh polisi karena menyebarkan hoaks, sikapnya berbeda 180 derajat.

Keganasan akun-akun palsu ini sangat berguna, terutama untuk menyebarkan berita palsu dari situsweb-situsweb abal-abal. Kalau di Twitter, tinggal klik tombol Retweet, berita palsu itu tersebar luas. Apalagi ketika didukung oleh sebuah akun dengan jumlah followers besar, maka berita palsu tersebut dapat viral dengan mudah.

Sepanjang masa kampanye Pilpres 2019, pendukung Prabowo dan Sandiaga Uno di ranah media sosial dicurigai sebagai cyber troops atau pasukan siber. Kecurigaan ini didasarkan dari hasil analisis media sosial big data GDILab (Generasi Digital Indonesia).

Menurut GDILab, ada tiga indikasi pendukung Prabowo di media sosial adalah pasukan siber. Pertama, lebih banyak Retweet ketimbang unggahan orisinal. Kedua, punya koordinasi yang baik untuk mengeksploitasi isu tertentu. Ketiga, banyak akun berusia di bawah enam bulan dengan followers di bawah 50 akun.

Baca juga:  Jokowi vs Prabowo: Siapa yang Paling Mewakili Politik Genderuwo?

Nah, selain ciri khas menggunakan foto palsu, pakai avatar telur, dan nama akun dengan jejeran angka-angka, Mojok Institute mengumpulkan lima ciri-ciri cyber troops yang dicurigai sebagai pendukung Prabowo:

1. Pakai avatar nggak jelas.

Masih bersaudara dengan foto palsu, akun yang dicurigai sebagai pasukan siber Prabowo ini menggunakan avatar yang tidak jelas. Misalnya menggunakan ilustrasi satu huruf sebagai avatar. Warnanya pun mencolok mata biar mudah dikenali. Warna boleh gonta-ganti, tetapi konsep avatarnya masih sama, yaitu ilustrasi satu huruf.

2. Suka ngetweet pakai ungkapan “my lov”.

Akun yang dicurigai sebagai pasukan siber Prabowo ini sering menggunakan kode-kode tertentu. Salah satunya adalah ungkapan “my lov”. Kode ini digunakan supaya akun tersebut terlihat akrab, sedikit nakal, namun terkesan banyak akal.

“Mas, kenapa selalu menulis “my lov”, bukan “my love”?”

“Sengaja ditulis LOV, tanpa E, ini ada maksudnya. E artinya Enter, alias masuk.” Jadi, kamu akan dibawa masuk ke dalam hati junjungannya, yaitu Prabowo. Kode ini juga berarti jangan lupa masuk bilik suara dan coblos pasangan nomor 2: Prabowo dan Sandiaga Uno. Sebuah kode tersembunyi di balik centilnya akun ini.

3. Penggunaan tanda seru secara berlebihan, dipadukan dengan angka satu.

Jika kamu mencermati beberapa kicauan akun yang dicurigai sebagai pasukan siber Prabowo, ada penggunaan tanda seru dipadukan angka satu secara berlebihan.

Angka satu melambangkan pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin. Sementara itu, tanda seru merupakan ajakan untuk tidak lagi memilih mereka, yaitu mendorong viralnya tagar #2019GantiPresiden. Bentuk penegasan ini diulang-ulang di dalam beberapa tweet supaya terus relate dengan para calon pemilih di Pilpres 2019 nanti.

Baca juga:  Gerindra: Pilpres 2019 Bisa Jadi Pertempuran Terakhir Prabowo

4. Akun pasukan siber Prabowo ini suka ngetweet kode di jam-jam yang tidak biasa.

Untuk menghindari exposure yang terlalu tinggi ketika ngetweet kode-kode rahasia, si admin ngetweet pada jam-jam yang tidak biasa. Sering dijumpai, si admin ngetweet pada dini hari ketika orang kebanyakan sedang tidur nyenyak.

Kode yang si admin sebarkan di jam-jam yang tidak biasa adalah kode “kgn”. Banyak orang yang menyangka si admin sedang berbicara soal kerinduan. Kode “kgn” dianggap sebagai singkat “kangen”. Bahkan, si admin mendapat julukan “admin kgn” atau “admin kangen”.

Padahal, sebetulnya, kode “kgn” merupakan singkatan dari “Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan Sandiaga Uno”. Huruh K diambil dari nama keluarga Pak Prabowo, yaitu “Djojohadi[K]usumo”. Kata “G” dan “N” diambil dari nama Sandia[G]a U[N]o”. Nah, sekarang kamu semua tahu kebenarannya.

5. Sering mengumbar sadness secara berlebihan.

Pada momen-momen tertentu, bahkan ketika di tengah situasi gembira, si admin tetap menyuarakan sadness, ‘kesedihan’. Misalnya ketika ramai soal pernikahan dengan prosesi pedang pora, si admin ngetweet bahwa proses pedang pora itu apa, ra mashoook. Nggak bisa ikut seneng aja apa?

Apa tujuan dari kebiasaan si admin menyebarkan kesedihan di tengah kegembiraan? Tak lain, tak bukan mendorong netizen untuk terus hidup dalam kesedihan, keprihatinan, dan ujung-ujungnya menyalahkan Jokowi. Apa-apa salah Jokowi.

Nah, dari lima ciri-ciri tersebut, apakah kamu sudah bisa menebak identitasnya?