MOJOK.COKabar soal Audrey yang ditawari kerjaan oleh Jokowi itu hoaks. Kebohongan, berita bohong, tak perlu diterjemahkan jadi hoaks membangun segala.

Kekuatan media memang tidak main-main. Ohh betul, kamu pun bisa menambahkan kata “sosial” di belakang kata “media”. Satu entitas saja sudah punya kekuatan sedemikian besar, ditambah “sosial” di belakangnya, jika bisa memaksimalkan alat ini dengan benar, kamu akan punya senjata pemusnah massal 4.0.

Media dan media sosial, tambahkan hoaks di dalamnya, kamu mungkin bisa menguasai dunia. Well, setidaknya menguasai grup-grup wasap keluarga dan alumni dulu. Berkembang semakin menyedihkan ketika ada yang menciptakan istilah “hoaks membangun”. Hmm…mungkin yang orang ini maksud adalah “white lie”, kebohongan putih yang punya efek positif.

Saya kasih tahu, my love, yang namanya hoaks, ya sebuah kebohongan. Kebohongan, tidak punya akhir manis. Bahkan ketika hidup si korban menjadi lebih baik, ia tetap menjadi korban. Lebih parah, karena ia tidak berkuasa atas hidupnya. Ia baru merasakan hidup “yang lebih baik” ketika menjadi “pemakan bangkai”. Yang namanya bangkai, baunya tetap busuk.

Perdebatan inilah yang berkembang menjadi begitu wagu ketika kebenaran soal Audrey dikupas oleh publik. Kamu tahu Audrey, bukan? Sosok perempuan jenius yang katanya mendapat tawaran istimewa dari Jokowi untuk bekerja di BPPT. Bahkan, saking jeniusnya, Audrey didorong menjadi menteri Jokowi.

Liku-liku hoaks soal Audrey ini cukup menarik. Melibatkan media besar, media sosial, influencer, buzzer, dan di ujungnya, nama Jokowi dipakai untuk mendulang exposure.

Pemberitaan soal Audrey sudah dimulai sejak 7 Juli 2019. Pembicaraan dimulai dari media sosial. Beberapa “fakta” yang diungkap adalah Audrey pernah ditolak ketika mendaftar TNI, lalu tidak ada kampus yang mau menerimanya karena dianggap terlalu muda, bekerja di NASA dengan gaji 200 juta per bulan, ketemu Jokowi di KTT G20, dan netizen ramai-ramai mendorong nama Audrey masuk ke dalam kabinet Jokowi sebagai menteri.

Baca juga:  Skor Seri: Jokowi Salah Sebut Al-Fatihah, Prabowo Salah Sebut Gelar Kanjeng Nabi

Fakta bohong Audrey dan diseretnya nama Jokowi

Fakta bohong itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Kalau Audrey diterima NASA, sudah sejak dulu media-media di Indonesia menjadikannya headline. Lha wong media-media di Indonesia itu latah. Pun buzzer/influencer Jokowi pasti sudah menggoreng isu ini dan dijadikan contoh kesuksesan pemerintahan Jokowi.

Namun, apakah sebelumnya kamu sudah mendengar Audrey yang kerja di NASA dan dapat gaji 200 juta per bulan? Paling mentok soal Audrey di Pontianak yang menjadi korban penganiayaan. Nggak perlu munafik, kalau ada anak keturunan, ditolak masuk TNI pun bakal jadi bahan panas untuk digoreng kubu oposisi. “Wah, nggak bener ini pemerintahan Jokowi. Diskriminatif.” Jadilah cebong vs kampret jilid ke-73939383.

Sebenarnya, berita soal anak jenius bernama Audrey ini sudah ada sejak 2018. Yes, Audrey memang anak jenius dan masuk ke dalam 72 Ikon Berprestasi Indonesia. Berita soal ini naik lagi ketika Alex Frits mem-forward berita lama lewat Twitter pribadinya. Mungkin tendensi Alex hanya sekadar berbagi. Ada anak jenius yang ditolak banyak kampus karena terlalu muda.

Menjadi ruwet ketika akun @nithasist ikut menyebarkan berita itu lewat sebuah thread. Naq Twiter banget nih. Ismail Fahmi, founder Media Kernels Indonesia membuat kronologi persebarann hoaks Audrey yang menyeret nama Jokowi ini.

Twit dari @nithasist mendapat RT hingga 19 ribu kali. Media besar mulai mencium “mangsa klik”. Tidak lain, tidak bukan, Tribunnews yang punya hidung tajam. Siang hari setelah @nithasist membuat thread, Tribunnews memproduksi, mendaur ulang, menyebarkan berita itu lalu meneruskannya lewat jejaring Tribun di Pekanbaru, Palembang, Manado, Lampung, Jambi, Kupang, Jabar, Kupang lagi, Batam, Wartakota, lalu Manado lagi.

“Dari siang hingga malam, berita tentang Audrey Yu ini dicicil oleh Tribunnews. Sedikit demi sedikit, dengan judul yang berbeda-beda meski isinya mirip. Dan bergantian dari situs lokal satu ke situ lokal lainnya yang masih dalam satu sindikasi situs Tribunnews.” Tulis Ismail Fahmi.

Baca juga:  Kekecewaan Kampret terhadap Rekonsiliasi

“Meski sudah ada klarifikasi, Tribunnews masih tetap berusaha menampilkan Audrey Yu pada hari berikutnya di situs lokal mereka di: Malang, Lampung lagi, Jateng, Kaltim, Jambi, Lampung lagi, Bangka.” Lanjut Ismail Fahmi.

Dimangsa heina media sosial

Well, kamu pasti sudah paham cara kerja Tribunnews. Kalimat SPOK, tinggal diubah menjadi POKS, KOSP, OPSK, OPKS, KSPO, dan lain sebagainya dengan teknik penulisan ulang. Sungguh rajin, ya. Nama Audrey, disandingkan dengan Jokowi, TNI, dan NASA, berubah menjadi kata kunci yang menarik untuk dieksploitasi.

Dari berita nasional, diproduksi ulang lewat media sosial, masuk ke media besar, dan dikuatkan lagi oleh buzzer dan influencer seperti @AdityaWisnu, @MurtadhaOne, @PANDHITADHYASA1, dan lain sebagainya.

Klarifikasi sudah dilakukan oleh beberapa orang, bahkan oleh keluarga Audrey sendiri yang membantah Jokowi menawari pekerjaan. Bahkan Jokowi pun sudah minta kasus ini diusut tuntas.

Namun, yang namanya “bangkai” ini, dimangsa oleh “hyena-hiena media sosial”. Jadi bahan perdebatan antara cebong vs kampret.

Kampret berargumen, kalau hoaks dari kubu Prabowo pasti langsung diciduk, tapi kalau dari kubu Jokowi pasti didiamkan. Sementara itu, cebong memandang ini “haoks membangun”. Ya mohon maaf, kali ini kampret ada benarnya.

Mojok sering dianggap menjadi media Jokowi karena sering menyerang pendukung Prabowo. Ya gimana ya, pendukung Prabowo yang selama ini lebih lucu. Nah, kali ini kami membuktikan kalau ada hoaks dari pendukung Jokowi, ya harus diusut dan diciduk juga. Apalagi, yang namanya buzzer politik itu memang menyebalkan, kok. Diakui saja.

Hoaks membangun itu bukan hal baik. Argumen “Ini bisa jadi motivasi anak-anak muda untuk jadi lebih pintar” itu goblok betul. Apa ya anak-anak Indonesia masih kurang dorongan untuk jadi anak pintar? Kemiskinan, tuntutan orang tua, cita-cita yang justru dirancang orang tua itu sudah jadi beban berlebihan untuk anak muda, kok.