• 1.9K
    Shares

Debat Keempat Capres Pilpres 2019 yang mempertemukan Prabowo dan Jokowi memang sudah selesai sedari kemarin malam. Namun debat sebenarnya yang mempertemukan cebong dan kampret masih dan terus berlangsung sampai sekarang.

Setidaknya, itulah yang bisa dilihat di temlen sosial media kita.

Bagi para pendukung Prabowo, tentu saja argumen-argumen yang disampaikan oleh Prabowo diterima sebagai argumen unggulan dan bermutu yang dianggap mengalahkan Jokowi secara telak. Pun sebaliknya, bagi para pendukung Jokowi, argumen Jokowi dianggap mampu membacok argumen-argumen Prabowo.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dalam debat capres semalam, pemenangnya bukan Jokowo atau Prabowo, tapi para pendukungnya yang bebas mengglorifikasi “kemenangan” idola mereka.

Dan seperti biasa, dalam perdebatan tentang pertarungan debat oleh para cebong dan kampret, selalu saja muncul kebodohan-kebodohan dasar yang bikin dongkol siapa saja yang membacanya.

Di temlen saya, misalnya, muncul postingan dari seorang pendukung Prabowo dengan follower puluhan ribu yang berisi video saat Jokowi menjelaskan tentang indeks persepsi korupsi.

“Perlu saya sampaikan kepada Pak Prabowo bahwa korupsi kita di tahun 98 itu negara kita terkorup di Asia. Index persepsi korupsi kita saat itu adalah 20. Saya ingat betul. KPK mengatakan itu.”

Pernyataan Jokowi tersebut oleh si empunya postingan dinarasikan sebagai sebuah kebohongan.

“Hahahaha bohong lagi Pak, KPK berdiri tahun 2002,” ujarnya. Ia mengira bahwa KPK tidak mungkin mengatakan data tentang tahun 98 sebab ia baru lahir pada tahun 2002.

Postingan tersebut diretweet dan dilike oleh ribuan orang.

Tentu saja saya prihatin. Betapa penalaran berpikir yang bodoh ternyata bisa dengan mudah diikuti dan diamini oleh banyak orang.

Mengatakan Jokowi pembohong hanya karena menyebut KPK (yang lahir tahun 2002) memberitahunya data tentang Indeks persepsi korupsi Indonesia tahun 98 tentu saja adalah hal yang bukan hanya bodoh, tapi guobloknya minta ampun.

KPK tentu saja tak perlu lahir sebelum tahun 1998 kalau hanya untuk tahu data tentang index persepsi korupsi tahun 1998.

Logikanya begini. Saya punya buku RPUL. Di dalamnya ada daftar juara All-England dari tahun 1900. Padahal RPUL saya itu terbitan 1998. Apakah lantas RPUL saya bohong?

Atau contoh yang lebih ekstrem. Al-Quran menceritakan kisah tentang Nabi Adam. Padahal Al-Quran baru turun di masa Nabi Muhammad. Apakah itu berarti Al-Quran adalah kitab pembohong? Tentu saja tidak.

Sayang, logika berpikir sederhana seperti itu ternyata sulit dimengerti oleh banyak orang. Kebencian pada salah satu capres memang menjadi penghambat besar pada arus kecerdasan seseorang.

Hal tersebut juga terjadi pada para pendukung Jokowi.

Pernyataan Prabowo yang mengatakan bahwa dirinya belajar ilmu perang ribuan tahun ternyata diolok-olok.

“Goblok, Masak belajar ilmu perang ribuan tahun, memangnya lu hidup berapa tahun, Wooooo?”

Sekali lagi, ini bukti betapa masih banyak masyarakat kita yang masih susah untuk mengolah informasi tekstual.

Tentu saja yang dimaksud Prabowo adalah ilmu perang ribuan tahun yang ia pelajari. Misal ilmu perang sejak jaman kerajaan China kuno sampai sekarang. Bukan belajarnya yang ribuan tahun.

Namun sekali-lagi, kebencian pada salah satu capres memang menjadi penghambat besar pada arus kecerdasan seseorang.

Cebongnya pekok, kampretnya goblok. Dan kita mau tak mau harus hidup berdampingan dengan mereka. Atau yang lebih buruk, kita terancam menjadi bagian dari salah satunya.

Ah, Pilpres makin dekat. Tapi akal sehat kita makin jauh.