MOJOK.COGame simulator Yesus Kristus bukan penistaan, tetapi justru mengajari orang Katolik ilmu tertinggi, yaitu cinta kasih. Apalagi menjelang Natal.

Desember satu tahun yang lalu sempat ramai sebuah foto yang diunggah di Twitter oleh akun @maurianusadi. Sampai saat ini, Desember 2019, foto itu masih bisa kamu temukan.

Tweet dari akun bernama @maurianusadi itu betul-betul menggoncang. Menggoncang perut saya karena tertawa. Wording tweet yang berbunyi “Saya Katolik aliran extreme sport” sukses mengocok perut.

Sebagai orang Katolik, salib dengan Yesus yang terpaku adalah simbol penuh makna. Apakah itu penistaan agama? Saya, dan kebanyakan orang yang membalas tweet tersebut justru bisa bersenang-senang dengan materi komedi yang menyenangkan.

Meskipun sebagian besar orang yang membalas twit tersebut selow saja, tetap ada beberapa yang merasa tersinggung. Mereka merasa salib adalah sebuah simbol suci. Lantaran suci, sudah sepantasnya kalau patung Yesus yang hampir lepas dari salib itu tidak dipakai sebagai bahan bercandaan. Bahkan ada yang menilai twit itu sebagai penistaan agama.

Sebetulnya twit dengan patung Yesus yang hampir jatuh itu hal yang biasa. Jika dipandang dari sisi kemanusiaan. Tiap-tiap manusia punya meteran komedi yang berbeda, bukan? Pun dengan cara tiap-tiap manusia beragama.

Ada yang memandang Yesus sebagai pendengar yang baik, ada pula yang menganggap Sang Juru Selamat sebagai Tuhan Maha Kudus dan kudu diperlakukan selayaknya kata “kudus” itu. Katolik memandang kedua hal itu secara baik, artinya nggak salah. Menjadi terasa “mengganggu” ketika dua hal baik itu dipertentangkan. Dari sana lahir kekolotan dan kebencian kepada sesama. Padahal ya, semuanya benar.

Di bulan Desember yang fitri ini–eh kok kebetulan ya kejadiannya di bulan yang sama–pernah kejadian twit Yesus Bungee Jumping, lalu sebentar lagi Natal, terus sebuah perusahaan game di Polandia mengeluarkan game yang bikin kamu jadi seperti “tuhan”. Game itu diberi judul “I’m Jesus Christ”.

Baca juga:  Simfoni Yahudi, Kristen, dan Islam di Andalusia

Game ini modelnya FPS (First Person Shooting) dan berjenis simulasi. Kamu akan merasakan pengalaman membuat mukjizat, berdoa untuk meminta special power dari langit, lalu melawan setan di padang gurun. Seperti kisah kehidupan Yesus, kamu akan memberi makan bagi mereka yang kelaparan, menyembuhkan mereka yang buta, dan menenangkan badai di laut lepas.

Semua peristiwa di dalam game ini merupakan narasi dari Kitab Suci Perpanjian Baru. Sungguh “nganu” sekali. PlayWay sendiri juga perusahaan game yang “nganu” juga. Dikutip dari Kumparan, dulu, PlayWay pernah meluncurkan game simulator aneh. Misalnya simulator petani, Santa Claus mabuk, kepala sekolah, presiden Amerika, hingga jadi mekanik kendaraan.

Huft, untung game simulasi ini temanya kehidupan Yesus Kristus, bukan yang lain. Hehehe…misalnya jadi Lia Eden gitu, atau Penyembah Teko kayak di India. Bisa repot kalau simulasinya cuma berdoa dan menyembah teko. Nggak ada geregetnya kayak Yesus tarung lawan setan di padang gurun di game “I’m Jesus Christ”.

Game ini baru akan terbit di 2020. Apakah akan masuk ke Indonesia? Kayaknya sih bisa, karena game ini udah ada di halaman Steam. Lalu, apakah akan menjadi kontroversi? Kayaknya sih enggak.

Saya rasa orang Katolik di sini bakal memandang game itu seperti haramnya ucapan Natal. Kamu harusnya sudah tahu kalau muslim nggak boleh mengucapkan, kan? Di Banyuwangi, sebuah hotel nggak boleh pasang atribut Natal. Biasa itu. Muslim mengucapkan selamat Natal bisa dianggap kafir. Dah biasa.

Terkadang, orang Katolik malah menjadikannya sebagai bahan guyon belaka. Nggak cuma ketika ngumpul sama saudara seiman. Bahkan ketika lagi nongkrong di cakruk bareng orang muslim. Misalnya beberapa waktu yang lalu ketika saya nongkrong di angkringan dekat rumah.

Baca juga:  Karena Natal Itu Peringatan tentang Perjuangan Pembebasan

Salah satu tetangga saya lagi asyik makan ketika tiba-tiba diajak ngobrol yang jualan angkringan. “Mas, dapat salam. Katanya selamat Natal,” kata bakul angkringan.

Tetangga saya ini pemeluk Kristen. Sembari mengunyah, dia bertanya, “Dari siapa, Pak?”

“Dari Haram, nih. Baik banget ya si Haram. Natal masih jauh udah ngucapin selamat Natal.”

Kami bertiga tertawa singkat. Si bakul angkringan lagi sibuk lihat-lihat kiriman foto di grup wasap ketika menemukan sebuah foto yang bunyinya: “Haram Mengucapkan Selamat Natal”. Tetangga saya yang Kristen menambahkan: “Salamin balik, Pak. Bilang makasih.” Tawa kami yang tadinya singkat menjadi lebih panjang. Tiba-tiba tahu bacem di angkringan terasa lebih nikmat.

Bakul angkringan di dekat rumah saya itu pemeluk Islam. Beliau sering menegur saya yang malah asyik udud di angkringan di hari Sabtu atau Minggu sore. “Kok nggak ke gereja?” Tanyanya dengan nada agak guyon.

Dari satu adegan kecil di atas, saya selalu percaya kalau kemanusiaan itu jangan pernah dibalut apa saja. Baik agama, ras, kepercayaan, dan lain sebagainya. Terkadang, biarkan kemanusiaan itu berdiri sendiri. Sebagai kesadaran tertinggi manusia untuk saling mencintai. Kalau sudah rukun dan saling mencintai, bukankah kita sudah mengamalkan ajaran agam?

Yesus bungee jumping, haramnya Natal, dan game simulasi I’m Jesus Christ adalah dinamika kemanusiaan. Ada baiknya kita memandang kejadian manusia itu dengan kaca mata manusia. Menjadi bahan guyon menemani kopi dan teh panas.

Toh Tuhan tak pernah minta dibela. Tuhan, mungkin, lebih suka kalau diajak guyon. Besok saya tanyakan langsung kalau ketemu, di akhir zaman.

BACA JUGA McJesus dan Yesus Bungee Jumping: Bukti Katolik Indonesia Lebih Santai atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.