MOJOK.COSandiaga Uno cemberut setelah kalah di quick count KPU, Prabowo dapat nol suara di 61 TPS di Boyolali, dan sebuah punchline manis dari kekalahan PSI.

Selayaknya kompetisi, selalu ada yang menang, selalu ada yang kalah. Kalau remis itu main catur. Ya meskipun begitu, sebelum hasil quick count dari KPU resmi diumumkan, kita punya dua calon yang sama-sama “menang”. Jokowi dengan 55 persen, sedangkan Prabowo dengan 62 persen. Nggak ada yang kalah, nih?

Ya mana mungkin bisa. Selalu ada yang kalah dari sebuah perlombaan. Meski terkadang kekalahan itu menjadi “kekalahan yang dibutuhkan”, atau menjadi semacam balas dendam yang manis atas sebuah kesalahan. Berikut pola pikir warga net soal fragmen kekalahan yang beredar di media sosial dalam dua hari ini.

Prabowo nol suara gara-gara “tampang Boyolali”

November tahun lalu adalah bulan yang menyenangkan bagi pandukung Jokowi. Terutama ketika punchline Prabowo soal tampang Boyolali gagal total. Di hadapan para simpatisan posko pemenangan, Prabowo menyodorkan realitas pahit ketimpangan sosial negeri ini—isu andalan beliau.

Capres 02 itu menyinggung betapa Pemprov Jakarta terus memberi izin bagi pendirian hotel-hotel mewah bintang lima, yang dia sebut di antaranya adalah St Regis, Waldorf Astoria, dan Ritz Carlton. Sementara masih banyak rakyat miskin pontang-panting menjalani hidup.

“…dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (“Betul!” sahut hadirin yang ada di acara tersebut). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya, tampang orang Boyolali ini.”

Kita semua tahu kalau Prabowo hanya bercanda. Punchline yang ia tembak di akhir kalimat mungkin mengundang tawa berderai di antara ratusan massa yang hadir. Namun, ketika sampai ranah media sosial, Ketum Gerindra itu dibantai habis.

Ada warga Boyolali yang tersinggung. Adalah Dakun, warga Boyolali berusia 47 tahun yang melaporkan Prabowo ke polisi.

Lelaki yang berasal dari Kecamatan Teras, Boyolali, merasa tersinggung dan terlecehkan karena pidato tersebut seolah-olah menggambarkan bahwa warga Boyolali adalah warga yang miskin dan tidak pernah masuk mal atau hotel mewah.

“Jadi saya sebagai warga Boyolali merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo bahwa orang Boyolali itu terkesan miskin dan tidak pernah masuk mal atau hotel, padahal yang namanya hotel di Jakarta ini saya sendiri contohnya sering,” ujar Dakun.

Baca juga:  Ujian Politik Presiden Jokowi

Dakun mengatakan bahwa apa yang diucapkan oleh Prabowo sangat tidak pantas, terlebih diucapkan oleh seorang calon Presiden. “Sekalipun di Boyolali ada orang miskin tapi mbok jangan begitu, jangan begitu. Ucapannya harus dijaga, lidah harus dijaga, penting itu,” terangnya.

Pelaporan itu dianggap berlebihan. Namun, begitulah Indonesia. Ketika bercanda itu begitu susah, banyak rambu. Kena semprit kalau kebablasan, padahal sebetulnya nggak. Ini Prabowo baru bawa tampang, coba kalau beliau bawa agama sambil masak sesuatu.

Pelaporan oleh satu orang itu dianggap berlebihan. Itu betul. Namun, pembalasan yang dilakukan oleh warga Boyolali yang memenuhi syarat untuk ikut pemilu sungguh manis. Ada 61 TPS yang 100 persen memberikan suara untuk Jokowi. Prabowo dapat nol! Tanpa bikin gegeran, warga Boyolali menghukum dengan cerdik.

Ini jenis kemenangan yang tuntas bagi warga. Jenis kemenangan yang menggambarkan suara rakyat adalah suara Tuhan. Mau tak mau perlu diakui, nol suara di 61 TPS di Boyolali tentu berpengaruh di kekalahan Prabowo secara umum. Sebuah pengingat bagi politikus bahwa jika mau, suara rakyat itu menentukan segalanya. Silakan ngomong ngawur, silakan korupsi, pada akhirnya karma buruk akan selalu menguntit manusia.

Fragmen murungnya Sandiaga Uno

Ketika melakukan deklarasi kemenangan, Prabowo tidak didampingi oleh Sandiaga Uno. Padahal, bromance keduanya terasa sangat kental selama debat capres/cawapres berlangsung. Sontak, rumor beredar. Banyak yang menyebutkan bahwa ada friksi di antara keduanya. Bahkan, klaim sebuah situsweb, Sandiaga Uno diusir dari koalisi karena menolak deklarasi kemenangan.

Ketika “situasi agak mendingin”, Sandiaga Uno muncul. Tepatnya di deklarasi kemenangan yang ketiga. Ketika Prabowo dan para pengiringnya deklarasi penuh gairah, berdiri di sisi kiri, Sandiaga Uno murung. Tatapannya kosong. Konon, beliau baru sakit. Cegukan seharian penuh, dari pukul 10.00 pagi sampai malam, kata tim BPN ketika ditemui wartawan.

Kekalahan yang telak terlihat sangat jelas di muka “politikus muda” itu. Sandiaga Uno dianggap tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun, bukankah kesedihan itu tidak boleh disimpan lama-lama?

Patah hati tidak boleh dipelihara, harus diekspresikan. Jadi curiga, jangan-jangan di malam deklarasi itu, Pak Sandiaga Uno sedang nangis tergugu karena kalah, pun sudah habis modal dalam jumlah besar. Yah, apapun itu, karier Pak Sandiaga Uno masih panjang. Meski memang, hadir di “deklarasi kemenangan Prabowo” itu sedikit berisiko. Hhe hhe hhe…

Baca juga:  5 Alasan Prabowo dan Sandiaga Uno Harus Menang Pilpres 2019

Fragmen kekalahan paling manis: punchline PSI!

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dibenci banyak orang. Sebagai partai baru, PSI dianggap ingin melejit secara instan dengan menjilat penguasa. Betul, PSI adalah salah satu “attacking dog” Jokowi paling rajin. Mereka muda dan jago orasi. “Terbuka, dan progresif” tulis PSI sebagai jargon di situsweb mereka.

Namun, sayangnya, mereka yang begitu militan itu gagal ke DPR menurut quick count. Tak butuh waktu lama, Ketum PSI, Grace Natalie mengakui kekalahan dengan “jantan”. Hmm…istilah “dengan jantan” itu kok agak aneh, ya.

“Menurut quick count, PSI mendapat 2 persen. Dengan perolehan itu PSI tidak akan berada di Senayan lima tahun ke depan. Tapi inilah keputusan rakyat melalui mekanisme demokrasi yang harus kami terima dan hormati. Tidak ada penyesalan. Sama sekali tidak ada penyesalan.”

“Tak ada suara terbuang, tak ada suara yang sia-sia. Saya ucapkan terima kasih kepada sekitar 3 juta rakyat Indonesia yang telah mempercayai PSI. Kita akan terus memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini. Kami siap menjadi partner Pak Jokowi menjalankan program-program kerakyatan yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. PSI akan kembali menyapa rakyat. Bukan lima tahun lagi, tapi besok! We shall return, soon!” Tegas Grace.

Diplomatis dan terasa pas. Nah, yang menarik adalah wording yang mereka gunakan di akun Twitter resmi. Begini bunyinya:

“Banyak yang bertanya, kenapa PSI bisa “mendeklarasi”-kan kekalahan dengan cepat dan lapang dada? Karena sejak awal tujuan kami bukan berkuasa, tapi menumbuhkan benih toleransi dan antikorupsi sebanyak-banyaknya. Sudah tumbuh tiga juta. Dan akan terus berlipat ganda.”

Ayolah, kalau membaca wording di atas, kalian pasti tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Ketimbang “tampang Boyolali”, punchline PSI ini lebih menohok. Buat calon penulis Mojok di masa depan, beginilah cara membuat konten satire yang akurat.

Itulah tiga fragmen soal kekalahan. getir, delusi, manis, semuanya campur aduk. Namun, kekalahan yang paling paripurna tetap diderita oleh rakyat, oleh mereka yang bertugas di TPS, menghitung suara hingga diri hari, tapi tetap dicacat oleh politikus bajingan. Dianggap seharusnya bisa lebih “quick”.

Politikus itu tidak merasakan langsung menghitung ratusan surat suara, bahkan sampai ada yang meninggal karena kelelahan. Sebuah kondisi yang menegaskan pameo: Mau Jokowi, mau Prabowo yang menang, yang kalah tetap rakyat.



Loading...



No more articles