• 1
    Share

[MOJOK.CO] Olahraga catur tidak dianggap sebagai olahraga, bahkan dianggap haram oleh Ustaz Abdul Somad. Benarkah demikian?

Lewat sebuah ceramahnya pada bulan Januari 2018 yang lalu, Ustaz Abdul Somad menyampaikan bahwa menurut Mazhab Hanafi, catur itu haram. Seperti yang disampaikan ustaz berusia 40 tahun tersebut, ada dua alasan yang membuat catur itu haram, bersanding dengan permainan dadu.

Alasan pertama, permainan catur membuat orang melalaikan salat. Walaupun azan sudah berkumandang, para pemain catur tidak akan menggubris dan akan tetap “Skak mat!”, seperti penurutan Ustaz Abdul Somad.

Alasan kedua, permainan catur “menghilangkan waktu berhari-hari”. Mungkin ini main catur sambil ngaspal jalan dari Jalan Kaliurang, lewat Malioboro, lewat Keraton Jogja, ketemu Panggung Krapyak, dan berujung di Pantai Parangkusumo, sesuai garis imajiner yang dipercaya di Yogyakarta ini, maka butuh berhari-hari untuk selesai main skak ini.

Ustaz Abdul Somad juga berpendapat bahwa dirinya tidak setuju jika permainan catur disebut sebagai olahraga. Masih menurut beliau, saya kutipkan sama persis:

“Saya masih sampai saat ini saya belum setuju kalau catur dimasukkan olahraga. Olah. Raga. Lari? Oke. Lempar lembing? Oke. Renang? Oke. Tapi (ter-) menung sampai tiga jam…Ha itu bahwa ketua Persatuan Catur marah sama saya terserahlah. Tapi saya tidak setuju (kalau catur disebut olahraga). Menghabiskan waktu itu!”

Ustaz Abdul Somad juga menambahkan bahwa masih banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan ketimbang menghabiskan waktu untuk main catur. Misalnya, memikirkan politik negeri Indonesia ini atau memikirkan anak-anak. Bukan malah memikirkan “Cemana pion-pion ini bisa selamat!”

Kalau pembaca tertarik, silakan simak video di bawah ini:

Menggunakan logika dari Ustaz Abdul Somad, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada banyak kegiatan yang juga sebetulnya haram karena “menghilangkan waktu berhari-hari”. Kalau pembaca main ke kantor Mojok, bisa didapati kru Mojok suka main game Ball Bricks Breaker. Sampai berjam-jam itu, Masyaallah! Sungguh un-faedah, meskipun nyatanya seru tiada terkira.

Ada juga game Mobile Legend, AOV, Onet, Harvest Moon, Feeding Frenzy, yang sama juga menghabiskan waktu!

Lho, kalau bicara menghabiskan waktu, jagongan sambil ngopi dan ngeteh nasgitel, yang meskipun bisa meringankan hati yang tengah tertekan cicilan utang, juga sama haramnya. Bisa berjam-jam itu kalau jagongan.

Ya sudahlah, soal haram, tak perlu kita perdebatkan di sini. Nanti dikira tausiyah, padahal ini rubrik Tangkas, apalagi saya masih kafir.

Nah, yang menarik dari pernyataan Ustaz Abdul Somad adalah catur itu bukan olahraga. Catur bukan olahraga. Sebuah klaim yang sebenarnya sudah menjadi bahan perdebatan selama berabad-abad. Sama seperti telur atau ayam duluan.

Sebenarnya, sudah banyak ahli dan penelitian yang mengungkapkan bahwa catur termasuk olahraga. Pola pikir bahwa olahraga harus selalu berkeringat itu pun tidak selamanya berlaku. Pun, duduk tiga jam bermain catur bisa membuat orang berkeringat, kok.

Mengapa bisa begitu? Catur termasuk olahraga mental, atau bisa juga disebut sebagai olahraga pikiran karena yang bekerja paling dominan adalah otak manusia. Jangan salah, berpikir juga bisa menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan, apalagi jika dilakukan dalam rentang waktu yang relatif lama. Yang pernah berpikir pasti pernah merasakannya.

Catur membutuhkan konsentrasi penuh hanya untuk menggerakkan satu bidak catur. Ketika menggerakkan pion atau kuda, misalnya, si pemain harus mengantisipasi begitu banyak kemungkinan. Sebelum memutuskan melangkah, setidaknya si pemain menganalisis kemungkinan serangan lawan, serangan selanjutnya yang perlu dilakukan, dan apakah langkah tersebut berdampak kepada pertahanan bidak caturnya.

Energi yang dikeluarkan untuk kerja otak yang kompleks selama satu jam, menurut sebuah penelitian, sama seperti mendayung perahu sendirian sejauh satu kilometer di atas permukaan air yang tenang.

Kalori yang terbakar ketika bermain catur, kurang lebih sama seperti bermain sudoku, yaitu tercatat hingga 90 kalori rata-rata. Berpikir begitu keras tentu membutuhkan energi yang besar. Nah, energi besar tersebut didapat dari membakar kalori. Kalau membakar ban namanya demonstrasi.

“Otak kita membutuhkan 0,1 kalori setiap menitnya untuk bisa bekerja. Saat melakukan hal yang menantang otak dan membuatnya berpikir keras seperti bermain sudoku kita bisa membakar 1,5 kalori setiap menitnya,” kata Tim Forrester, peneliti dari Cannyminds.com.

Seperti dilansir viva.co.id, otak terdiri dari jutaan sel saraf yang disebut neuron. Neuron menyampaikan pesan dari otak ke seluruh organ tubuh. Neuron pula yang memproduksi zat kimia yang disebut neurotransmitter, yang berguna untuk menyampaikan pesan ke seluruh tubuh.

Untuk menghasilkan neurotransmitter dibutuhkan glukosa, kalori dan oksigen. Ketika melakukan permainan yang menantang otak seperti sudoku atau catur, otak akan banyak membakar glukosa dan kalori dalam tubuh untuk menghasilkan neurotransmitter.

Ketika kalori terbakar, keringat juga akan diproduksi. Jika sudah begitu, apakah catur masih dianggap bukan olahraga? Ya kalau menurut Ustaz Abdul Somad, sih, bukan. Haram lagi.

  • 1
    Share


Tirto.ID
Loading...

No more articles