Rekomendasi Makan Pagi di Jogja ala Javafoodie (Bagian 2)

Bagi kamu yang mengeluh menu makan pagi di Jogja cuma itu-itu saja, tunggu dulu. Jogja di pagi hari bukan hanya gudeg dan soto. Menu tongseng kambing dan mie ayam bisa jadi pilihan untuk sarapan. Yamadipati Seno dari Mojok dan Dadad Sesa, owner Javafoodie memberikan rekomendasi tempat makan pagi di Jogja agar makan pagimu tidak biasa-biasa saja.

Esok harinya, kami janjian untuk sarapan pagi di tongseng kambing Pak Tumijo di depan Pasar Lempuyangan. “Buat banyak orang Jogja, sarapan kambing itu masih terasa aneh. Beda sekali dengan orang Solo, misalnya. Nah, salah satu jujugan sarapan kambing ya ke Pak Tumijo,” terang Dadad.

Sate Pak Tumijo sudah siap berjualan sejak pukul 06.00 pagi. Dulu, kalau tidak datang mruput atau lebih pagi, kamu bisa tidak kebagian tongseng. Menjelang pukul 08.00 biasanya sudah habis. Paling banter cuma tinggal menu satenya saja.

Seiring waktu, Pak Tumijo mungkin menyadari bahwa penggemar tongseng racikannya sudah sedemikian banyak dan militan. Kini, jika daging untuk tongseng sudah habis, Pak Tumijo akan menelepon ke rumah untuk minta stok lagi. Dengan begitu, “gerobak dorong” Pak Tumijo bisa buka sampai agak siang. Pelanggan yang rela datang jauh-jauh tidak kecele.

Salah satu aspek yang menyenangkan dari cara memasak Pak Tumijo adalah beliau masih menggunakan arang dan setiap porsi dimasak satu per satu. Bapak yang begitu ramah ini tidak pernah pelit soal bumbu. Oleh sebab itu, tongseng hasil karyanya bisa begitu medog dan kental dengan daging yang empuk. Bau prengus khas daging kambing tidak terasa.

Buat kamu yang tidak begitu menggemari jeroan bisa memesan khusus daging. Saya memerhatikan Pak Tumijo selalu bertanya dulu kepada pelanggannya, mau campur jeroan atau full daging. Kayaknya Pak Tumijo sadar bahwa daging kambing itu baik adanya tetapi jeroannya bisa “jahat” kepada pelanggan yang menderita kolesterol dan darah tinggi. Sungguh seorang bapak yang perhatian kepada kondisi “anak-anaknya”.

Sebetulnya, jika mau makan pagi di Jogja dengan menu daging kambing, terutama tongseng, di Jogja ini sudah banyak warung yang buka sejak pagi. Salah satu jujugan yang direkomendasikan, oleh saya sendiri sih, adalah warung Sor Talok di Bantul. Tongseng di warung ini mendapat pujian dari pakar kuliner William Wongso. Katanya, tongseng di Sor Talok adalah yang terenak di Asia Tenggara.

Yah, kalau dari pusat kota Jogja memang cukup jauh. Kalau malas menempuh perjalanan jauh, Pak Tumijo inilah primadonanya.

Baca Juga : Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner Jogja Dari Warga Setempat

Makan pagi saat itu, saya dan Dadad Javafoodie ditemani Ali Ma’ruf, videografer Mojok. Selama sarapan, kami tidak banyak bicara. Menandakan betapa tongseng Pak Tumijo memang punya daya pikat yang membuat pelanggannya konsentrasi penuh untuk makan lahap ketimbang sambil mengobrol.

Setelah menandaskan satu porsi tongseng Pak Tumijo dan mengistirahatkan perut barang sekejap, kami bergegas menuju satu lagi tempat makan pagi di Jogja yang direkomendasikan Dadad Sesa, yaitu Mie Ayam Bandung 59 di Pasar Pathuk. Kali ini, Ali tidak turut serta karena perutnya sudah terlalu penuh untuk satu menu lagi.

Perjalanan menuju Mie Ayam Bandung 59 sebentar saja karena di Kota Jogja memang tidak dikenal kata “jauh”. Sesampainya di sana, kami beruntung karena warung agak lengang. Selama pandemi ini, jumlah pengunjung yang makan di tempat memang agak menurun, berganti mereka yang makan dengan moda take away.

Sebelumnya saya memang sering makan di Mie Ayam Bandung 59. Yah, untuk urusan lidah memang masing-masing orang berbeda. Namun, bagi saya pribadi, mie ayam yang sudah punya tiga cabang ini adalah salah satu mie ayam paling enak di Jogja.

Makan pagi kali ini saya menandaskan satu porsi mie ayam asin, sementara Dadad memesan lomie kangkung. Mie Ayam Bandung 59 bertekstur tipis dan dibuat sendiri oleh empunya warung. Rasa yang dihadirkan begitu khas oriental. Berani bumbu, sesuai dengan jenis menu yang kamu pesan.

Lomie kangkung sendiri adalah perpaduan mie dengan kuah kental. Isian menu ini antara lain jamur, tauge, dan kangkung. Rasanya manis dan gurih. Rasa lomie kangkung lebih ringan jika dibandingkan olahan mie, yang lebih berani dengan bumbu.

Satu hal yang perlu mendapat apresiasi dari mie ayam Bandung 59 adalah kemampuan kokinya untuk memasak mie secara al dente. Mie dengan tekstur tipis agak tricky jika dimasak di air mendidih. Jika terlambat ditiriskan, mie akan lembek dan sudah pasti gagal membangkitkan selera.

Banyak yang tak sependapat kalau Mie Ayam Bandung 59 ini disebut “mie ayam” karena lebih cocok ke bentuk yamie. Tapi yah, saya sendiri memilih untuk tidak ambil pusing. Yang penting ada mie dan potongan ayam. Mie ayam. Simpel saja, nggak perlu diperdebatkan.

Dadad sendiri punya kenangan yang luar biasa di sini. Dadad Sesa adalah orang yang kali pertama meliput Mie Ayam Bandung 59, jauh sebelum warung ini menjadi jujugan para penggila mie ayam di Jogja. Sudah sejak belia, Dadad dan warung Mie Ayam Bandung 59 menjalin hubungan yang terlihat mesra.

Kemesraan itu begitu nyata ketika sang pemilik menghampir kami setelah selesai makan pagi. Dadad sudah mengenalnya sejak belia. Mereka terlihat sangat akrab. Bapak pemilik Mie Ayam Bandung 59 sendiri masih setia mengawal kualitas produknya setiap hari. Dia dan istri akan ikut berjibaku di dapur bersama beberapa karyawan untuk mengajikan sajian paling paripurna.

Tidak berselang lama, anak pemilik warung mendatangi kami. Sama seperti bapaknya, dia sangat ramah dan terlihat akrab dengan Dadad. Ia datang dengan sepiring bakso goreng udang, salah satu menu baru.

Ketika Dadad dan anak pemilik warung asyik mengobrol, saya sudah sibuk menghabiskan dua butir bakso goreng itu. Rasanya gurih, crunchy di luar dan lembut di dalam. Rasa udangnya tidak menonjol, tetapi pas melengkapi adonan yang digunakan. Saya rasa, ini teman paling pas untuk segala menu yang disediakan Mie Ayam Bandung 59 ketimbang kerupuk atau otak-otak.

“Mas, angka 59 itu nomor rumah?” Saya bertanya kepada anak pemilik warung setelah sibuk mengunyah bakso goreng.

Baca Juga : Penjual Makanan Keliling: Kadang Ketemu Demit, Kadang Dikira Demit

“Bukan, Mas. Itu tanda saja. Jadi dulu warung ini buka pas 2006, waktu Jogja gempa itu. Belum warung mie ayam, tapi sembako. Nah, gempa saat itu kan 5,9 skala Richter. Jadi, buat semacam tanda, angka 59 dipakai Bapak buat nama,” terang anak pemilik warung.

Saya terpesona dengan kemampuan si Bapak pemilik warung untuk menjadikan bencana sebagai pertanda “kebangkitan”. Setelah sebelumnya tidak begitu mujur ketika berdagang sembako. Sementara itu, di seberang saya, Dadad cuma melongo mendengar penjelasan anak pemilik warung. Ternyata dia juga tidak tahu fakta ini.

Kehangatan di Mie Ayam Bandung 59 memang nyata. Ternyata, setelah ngobrol beberapa lama, anak pemilik warung adalah teman SMA adik sepupu saya. Berkat fakta ini, obrolan kami di sela makan pagi semakin seru dan hangat.

Terkadang, warung makan bukan sekadar tempat untuk mengunyah makanan. Warung makan seperti sebuah sanctuary, di mana kita merasa aman untuk menyantap berbagai sajian tanpa memikirkan peliknya dinamika kehidupan. Satu porsi makanan enak bisa menjadi sumber tenaga melibas hari yang brengsek sekalipun.

Dua hari bersama Javafoodie mengingatkan saya bahwa khazanah kuliner Indonesia, wabilkhusus Jogja, memang sangat kaya. Bayangkan, menu makan pagi di Jogja saja sekaya ini, bagaimana Indonesia.

Satu hal lagi, keberanian mencoba hal baru, dalam hal ini makanan, bisa menuntunmu bertemu orang-orang hebat. Orang-orang yang bisa bikin pagimu menjadi begitu menyenangkan. Bagi Javafoodie, sarapan atau makan pagi adalah petualangan. Dan saya setuju dengan celetukannya itu yang dilontarkan ketika asyik mengunyah Bubur Yoyong.

Baca Juga Seri Liputan Makan Pagi di Jogja:

Rekomendasi Makan Pagi di Jogja ala Javafoodie (Bagian 1)

Rekomendasi Makan Pagi di Jogja ala Javafoodie (Bagian 2)