MOJOK.COPSIM terjepit, dibuat menderita oleh hal-hal non-teknis. Yoga Pratama dan para pemain menderita. Dukungan dengan aura positif yang mereka butuhkan.

Tanggalnya 30 Juli 2018. Harinya, hari Senin, PSIM Yogyakarta tandang ke rumah Blitar United. Sebagai tim tamu, PSIM berhasil pulang ke Jogja dengan nilai penuh setelah mengalahkan Blitar United dengan skor 1-3. Kemenangan heroik yang didapat setelah tertinggal terlebih dahulu memang terdengar begitu menggugah. Namun, tahukah kamu, ada satu fragmen pertandingan yang lebih dramatis, yang belum kamu tahu.

Waktu itu usia pertandingan belum genap enam menit ketika wasit meniup peluitnya. Pertandingan terhenti, pemain-pemain terpaku selama satu detik sebelum kemudian emosi itu meluap begitu saja. Wasit memberikan hadiah penalti untuk tuan rumah, untuk Blitar United. Sontak, beberapa pemain mengerubungi wasit, melakukan protes.

Wasit memberi hadiah penalti untuk Blitar United setelah pemain PSIM, Raymond Tauntu dianggap melakukan pelanggaran. Tangan gelandang tengah berusia 23 tahun itu mengenai bola di dalam daerah berbahaya. Setidaknya itulah yang terjadi di dua bola mata wasit. Protes pemain PSIM tidak mempan. Penalti tetap akan diberikan.

Para pemain PSIM sepakat bahwa Raymond tidak menyentuh bola, baik sengaja maupun tidak disengaja. Raymond hanya berusaha mengontrol bola menggunakan paha. Sayangnya, tidak ada tayangan video yang bisa menguatkan argumen para pemain Laskar Mataram. Apalagi VAR, sebuah teknologi yang masih sangat asing untuk telinga sepak bola Indonesia.

Masih berusaha untuk memprotes keputusan yang keliru ini, pemain muda PSIM, Yoga Pratama mendekat ke sang pengadil. Yoga Pratama tegas mengatakan bahwa bola tidak mengenai tangan Raymond, bahwa keputusan wasit sungguh keliru. Wasit pun menjawab protes Yoga Pratama menggunakan sebuah kalimat, alih-alih kartu kuning yang biasanya diberikan wasit kepada pemain yang protes berlebihan.

Baca juga:  Wejangan Abdul Somad dan Cak Nun Obat Mujarab Untuk Perdamaian Suporter

Seperti dituturkan oleh salah satu saksi, sore itu, wasit melontarkan kalimat bahwa pertandingan Blitar United melawan PSIM sudah tidak murni lagi. Apakah pertandingan Blitar United melawan PSIM sudah “dibeli”? Hanya wasit, Yoga Pratama, dan sang saksi yang tahu. Toh, di sepak bola Indonesia, ayo jujur saja, kejadian semacam ini masih jamak terjadi. Lihat saja proses juara Bhayangkara FC musim lalu.

Singkat kata, penalti tetap dilaksanakan dan Blitar United unggul 1-0 di awal pertandingan. Protes tidak digubris, keadilan sudah lepas. Setelah gol Blitar, para pemain PSIM terlihat berusaha menguasai emosi. Maklum, kejadian “panas” seperti ini rentan membuat mental pemain menjadi rusak dan tidak bisa bermain normal, mengeluarkan kemampuan terbaik.

Untungnya, sebelum babak pertama usai,  skuat PSIM bisa menyamakan kedudukan lewat Riskal Susanto. Kembali ke ruang ganti, peristiwa dramatis ini terjadi. Yoga Pratama, pemain yang masih berusia 20 tahun itu, tiba-tiba menangis. Yoga Pratama tidak bisa membendung emosinya setelah menahannya dengan susah payah sepanjang babak pertama.

Tim pelatih berusaha menenangkan jiwa muda Yoga Pratama yang terluka. Setelah ditanya pelan-pelan, Yoga Pratama menjelaskan. “Kami merasa tidak dihargai, coach. Perjuangan kita untuk bisa sampai seperti ini tidak mudah. Ayo, coach, buktikan pada mereka kalau kita bisa,” ujar Yoga Pratama sambil menangis.

Tim pelatih sadar bahwa kejadian ini perlu penanganan khusus. Mental para pemain coba diperkuat, semangat dipompa. Emosi yang sebelumnya tidak bisa dikontrol, diubah menjadi “semangat” untuk membalikkan keadaan di babak kedua. Erwan Hendarwanto, manajer PSIM, memang punya kelebihan menangani masalah seperti ini. Kedekatannya dengan para pemain berbuah sangat manis.

Team talk sore itu ditutup dengan instruksi pelatih agar para pemain menguasai bola selama mungkin. Jangan biarkan lawan bermain. Persempit ruang para pemain Blitar United saat bertahan supaya membuat kesalahan individu. Benar saja, babak kedua berjalan sesuai skenario PSIM. Para pemain terlihat begitu bersamangat. Tangisan Yoga Pratama sukses memacu semangat para pemain yang “dicurangi” di babak pertama.

Baca juga:  Persija 1928 Tahu Bagaimana Meneladani Long March Sultan Agung 1628

Pertandingan babak kedua berjalan 60 menit ketika Ismail Haris membalikkan keadaan, skor menjadi 1-2. Setelah itu, menit 86, Henrico memastikan kemenangan untuk PSIM. Skor 1-3 bertahan hingga pertandingan selesai. Perjuangan yang luar biasa.

Musim ini, perjuangan PSIM memang sangat berat. Parang Biru mengawali musim dengan beban minus sembilan. Sanksi minus sembilan diterima PSIM lantaran gagal membayar tunggakan gaji tiga pemain asing. Situasi yang berbahaya itu justru menjadi pemacu semangat anak-anak Kota Jogja musim ini. Hasilnya memang luar biasa, dari minus sembilan, saat ini PSIM sudah mengumpulkan 15 poin dan duduk di peringkat kelima.

Seperti penuturan sang saksi, menjadi bukti bahwa faktor non-teknis mampu dikalahkan dengan hal-hal teknis dan semangat. Keputusan pelatih untuk memilih unggul penguasaan bola sangat tepat, membuat wasit tidak leluasa melancarkan niat-niat busuknya.

Para pemain sudah bekerja, bertarung, berjuang dengan tangisan, dengan darah, dengan peluh. Para pemain PSIM, Yoga Pratama, dkk., perlu terus didukung dengan nyanyian, dengan koreo yang menawan, dengan aksi yang positif.

Aura positif itu yang mendorong para pemain untuk berlari lebih jauh, bergerak lebih cepat. Jangan dukung PSIM dengan aura negatif. Para pemain sudah cukup menderita, sudah cukup menanggung beban minus sembilan. Mari sokong dengan kebahagiaan, dengan nyanyian dukungan yang menggugah hati. Aku yakin dengan kamu (semua)!



Tirto.ID
Loading...

No more articles