Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Orang Indonesia Meremehkan Komik Sementara Tsubasa dan Doraemon Mengubah Dunia

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
28 Januari 2019
A A
Tsubasa dan Doraemon MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Komik Doraemon dibawa ke ranah politik secara serampangan. Dasar politikus “ngising”. Tidak tahu makna luhur yang dibawa Doraemon (dan Kapten Tsubasa).

Chusnul Mar’iyah, eks Komisioner KPU membuat blunder. Chusnul berkata: “Apakah leaders mampu melakukan itu kalau bacaannya Doraemon? Kita membutuhkan pemimpin yang bisa membaca.”

Ketika berkata seperti itu, Chusnul sedang pidato di sebuah acara yang diadakan di Padepokan Pencak Silat TMII. Ketika “berkampanye” itu, Chusnul mengkritik pemerintahan saat ini yang seharusnya bisa memenuhi amanat konstitusi. Dan, beliau menegaskan kalau pemimpin jangan hanya membaca Doraemon.

“…Kalau kita menginginkan ada pergantian pemerintahan di 2019, kita perlu kembali ke visi kebangsaan kita. Melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Apakah sudah sekarang ini? kadaulatan negara ini diserahkan dengan sukarela tanpa malu oleh rezim ke asing.”

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami. Pertama, semua hal, yang dipaksakan masuk ke dalam politik memang menjadi busuk. Jadi jelek. Ya seperti situasi kampanye di Pilpres 2019. Tidak ada pelajaran politik yang indah untuk masyarakat. Yang ada hanya saling serang tanpa memedulikan akibat yang bisa ditimbulkan.

Kedua, jangan-jangan Chusnul Mar’iyah tidak pernah baca komik. Mantan Komisioner KPU yang pernah dituntut 3 tahun 6 bulan karena pencemaran nama baik Roy Suryo pada tahun 2007 ini seperti mengecilkan kekuatan sebuah komik. Apalagi, secara spesifik, beliau berkata: “Apakah leaders mampu melakukan itu kalau bacaannya Doraemon? Kita membutuhkan pemimpin yang bisa membaca.”

Doraemon, adalah salah satu komik legendaris dari Jepang. Kalau kamu kelahiran 80 dan 90an dan ditanya komik apa yang paling berbekas pasti terselip Doraemon di sana. Ini memang komik anak-anak, tetapi kandungan makna yang terdapat di dalamnya bukan main.

Lewat kemalasan dan kemalangan Nobita, kita diajari untuk pantang menyerang, mengasihi sesama tanpa memandang latar belakang, hingga rasa setia kawan. Lewat Giant, kita belajar arti setia kawan secara penuh. Ia memang jahil. Namun, ketika temannya terancam bahaya, Giant akan berdiri di depan untuk melindungi.

Doraemon? Ia mengajari kita semua hal tentang kebaikan. Kesetiaan, kesabaran, dan pengasih. Bukankah semua kebaikan itu perlu dimiliki pemimpin?

Saya pasti lebih suka pemimpin saya gemar membaca Doraemon dan menerapkan segala kebaikannya ketika memimpin. Apalagi dibandingkan pemimpin yang bacaannya sebuah novel fiksi dan menjadikan kontennya sebagai bahan kampanye. Akhirnya, ia hanya menyebarkan ketakutan dan kabar bohong.

Ini kita baru sedikit menyinggung satu komik, Doraemon, tetapi sudah kelihatan kalau Chusnul sudah bikin kesalahan besar. Biar makin kelihatan blunder, mari kita bahas soal Kapten Tsubasa.

Tahukah kamu, komik Kapten Tsubasa sudah terjual 82 juta kopi di seluruh dunia. Berdasarkan polling TV Asahi pada 2005, serial anime Kapten Tsubasa duduk di peringkat 41 daftar 100 serial anime paling populer. Artinya apa? Artinya sepak bola yang menjadi latar cerita komik remaja ini mampu menjamah segala penjuru dunia.

Dan, tidak terkecuali, Kapten Tsubasa menjamah anak-anak remaja di penjuru dunia dengan bakat sepak bola sundul langit. Mulai dari Alessandro Del Piero, Fernando Torres, Andres Iniesta, hingga Lionel Messi. Saya yakin, pembaca tulisan ini sudah paham betul soal fakta tersebut, bahwa Kapten Tsubasa menginspirasi pemain-pemain kelas dunia di kala remaja.

“Saya ingat saat masih kanak-kanak, kami tidak dapat menangkap sinyal televisi dengan baik [di rumah], namun semua orang di sekolah sedang ramai membicarakan serial kartun Jepang tentang sepakbola. Saya mulai bermain bola karena (kartun ini) … saya suka sekali kartun tersebut,” aku Torres.

Iklan

Narasi besar komik Kapten Tsubasa adalah pantang menyerah dalam segala situasi dan mengajak para remaja untuk bermimpi besar. Dua narasi itulah yang menjadi wajah karier seorang Lionel Messi.

Ia, yang menderita kelainan hormone, diprediksi tidak akan bisa meneruskan kariernya ke jenjang profesional. Biaya berobat yang mahal, menjadi alasan keluarga Messi tak bisa menghadapi situasi itu.

Lewat pengorbanan dengan meninggalkan rumah sejak kecil untuk bergabung dengan Barcelona, rasa sakit ketika menjalani terapi, Messi menjadi “dewa” di Spanyol dan dunia. Perjuangan tak kenal lelah, pantang menyerah dengan keadaan, dan berani bermimpi besar dari sosok Kapten Tsubasa terlihat di setiap jenjang karier Messi.

Saya ingatkan sekali lagi. Seorang pemimpin, selalu membutuhkan sikap pantang menyerah dan mau bermimpi besar untuk bangsanya. Ia tidak boleh kalah dengan keadaan. Apalagi kepada oposisi yang narasinya begitu negatif terhadap segala sesuatu.

Ia harus memberi contoh kepada warganya bahwa dirinya tak mudah tunduk dengan keadaan. Penuh determinasi, solutif, tegar, dan masih banyak lagi, bisa kamu temukan lewat sebuah komik Doraemon dan Kapten Tsubasa.

Tsubasa membuat Torres dan Messi di kala remaja bisa tetap bermimpi. Apa jadinya Messi tanpa Kapten Tsubasa? Bisa jadi, kita tidak akan pernah bisa menikmati keajaiban-keajaiban pemain asal Argentina tersebut. Sebuah komik, yang diadaptasi menjadi anime, mengubah dunia.

Dear kalian yang sedang bertarung di panggung politik. Tidak semua hal yang seharusnya baik kalian bawa ke ranah politik untuk menyerang lawan. Apalagi membawa komik secara serampangan ke dalam dunia busuk kalian.

Jangan dekat-dekat dengan komik. Sudah cukup hal yang kalian rusak dengan propaganda dan narasi-narasi penuh ketakutan.

Komik, terlalu luhur bagi kalian. Kalau menghargai Doraemon (dan Kapten Tsubasa) saja tidak bisa, bagaimana kalian akan menghargai hal-hal yang lebih “tinggi”? Misalnya soal toleransi, pemenuhan hak, dan kesetaraan. Dasar NGISING!

 

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2019 oleh

Tags: doraemonkpuPilpres 2019tsubasa
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Selamat tinggal Doraemon di RCTI. MOJOK.CO
Catatan

Doraemon dan RCTI Akhirnya Berpisah, Terima Kasih Telah Temani “Inner Child” Saya yang Terluka

7 Januari 2026
kpps bantul.MOJOK.CO
Ragam

Curhat Petugas KPPS Bantul, Gaji Sehari Lumayan tapi Hadapi Saksi Galak dan Tekanan di TPS Lebih Menantang  

11 Februari 2024
Rantis Maung, Spesifikasi Tunggangan Prabowo Gibran ke KPU (foto kompas.com:Nirmala Maulana A)
Politik

Rantis Maung Mengantar Prabowo dan Gibran ke KPU, Ini Spesifikasi Kendaraan Buatan Pindad Itu

25 Oktober 2023
Partai Baru Tidak Bisa Ikut Menyumbang Dana Kampanye MOJOK.CO
Kotak Suara

KPU Ingatkan Partai Baru Tidak Bisa Ikut Menyumbang Dana Kampanye Capres dan Cawapres

13 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.