MOJOK.COMembumi dan membuat masakan Arsenal dan Barcelona tetap lezat. Bukayo Saka dan Ansu Fati “menjadi garam dan terang dunia” kedua klub tersebut.

Sebelum musim 2019/2020 dimulai, Arsenal dan Barcelona punya masalah yang kurang lebih sama. Keduanya butuh pemain baru untuk memperkuat sisi lapangan. Keduanya klub ini bukannya belum punya winger, tetapi stok yang ada dirasa tidak bisa memberikan rasa aman untuk mengarungi satu musim penuh.

Maka yang terjadi adalah musim panas yang begitu sibuk. Arsenal melepas beberapa pemain yang bisa bermain di sisi lapangan. Alex Iwobi dijual ke Everton sementara Henrikh Mkhitaryan dipinjamkan ke AS Roma. Sebagai gantinya, Arsenal mempromosikan Reiss Nelson dan Gabriel Martinelli, serta membeli Nicolas Pepe.

Sementara itu, Barcelona menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengejar tanda tangan Neymar. Negosiasi antara Barcelona dan PSG berjalan terlalu lama. Pun banyak fans Barca yang sebetulnya menolak kembalinya Neymar mengingat sikap pemain Brasil itu yang dirasa tidak mewakili mes que un club (lebih dari sebuah klub), semboyan Barcelona.

Barcelona memang punya masalah di sisi lapangan. Ousmane Dembele, pemain muda yang dianggap punya potensi mendekati Neymar dan Lionel Messi, justru tidak segera “dewasa”. Pemain asal Prancis itu malah lebih banyak cedera ketimbang bermain. Pemain baru mereka, Antoine Griezmann diprediksi akan menjadi penerus Luis Suarez yang menua dan mulai lambat.

Arsenal, yang seperti memaksa memainkan Pierre-Emerick Aubameyang di sisi kiri, masih belum bisa menarik keluar potensi Reiss Nelson. Pemain muda ini punya performa yang cukup baik ketika dipinjamkan ke Hoffenheim. Nelson, dianggap sebagai sabagai salah satu winger potensial Inggris bersama Jadon Sancho.

Ketika masalah sisi lapangan masih memusingkan, hadir dua pemain muda yang menjadi “garam dan terang” bagi Arsenal dan Barcelona. Mereka adalah Bukayo Saka (18 tahun) dan Ansu Fati (16 tahun).

Potensi Saka sudah terlihat sejak musim lalu. Ketika masih berusia 17 tahun, Saka sudah banyak dilibatkan Unai Emery untuk laga-laga di Europa League. Saka punya dasar tipe winger tradisional berkaki kiri. Maka, ia banyak bermain di sisi lapangan.

Baca juga:  MU Adalah Orang Jahat yang Jadi Baik karena Layak Disakiti

Kejutan dia tunjukkan musim ini. Saka sudah bisa tampil lebih seimbang ketika bermain di sisi kanan sebagai inverted winger, winger yang lebih modern. Saka punya semua teknik dasar menjadi pemain di sisi lapangan yang baik. Akselerasi dan kecepatan sudah pasti. Saka melengkapi dirinya dengan kemampuan menggeser titik berat tubuh untuk melakukan feint cepat.

Saka juga berkembang dari sisi playmaking. Dia tidak lagi terlalu banyak menghabiskan banyak waktu untuk membawa bola. Dua asis yang dia bikin ketika Arsenal mengalahkan Eintracht Frankfurt menunjukkan seleksi umpan dan pengambilan keputusan yang lebih baik. Gol yang Saka bikin menunjukkan dia juga sudah berhasil memperkuat end product yang sangat penting.

Sementara itu, Ansu Fati menjadi kejutan yang menyenangkan, setidaknya menutup kekecewaan ketika gagal memboyong Neymar. Pemain yang masih berusia 16 tahun ini bisa tampil tanpa rasa takut. Bermain di banyak lini, Ansu Fati menjadi satu dari banyak produk La Masia yang legendaris itu. Debut di usia 16 tahun, nama Ansu Fati pasti membuat Cules teringat pada kemunculan “juru selamat” mereka: Lionel Messi.

Messi debut di usia 16 tahun. Sejak saat itu, Messi menjadi bagian penting dari panjangnya sejarah kesuksesan Barcelona sejak dia debut. Jika dulu mendapat mentor dalam diri Ronaldinho, kini Messi giliran menjadi “kakak” bagi Ansu Fati. Aksi pelukan kedua pemain ini sukses membangunkan angan-angan Cules akan masa depan lini depan mereka yang bakal tetap cerah.

Menjadi garam dan terang dunia

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi (Matius 5: 13-14).

Bagi Arsenal dan Barcelona, Bukayo Saka dan Ansu Fati adalah “sejumput garam” dengan makna dalam. Keduanya datang dan memberi kontribusi penting ketika masing-masing klub sedang membutuhkan. Saka dan Ansu Fati membantu The Gunners dan Blaugrana “memasak menu yang gurih”. Sajian yang terhidang tetap nikmat ketika bahan-bahan mahal tidak terbeli.

Baca juga:  Idul Adha, Mesut Ozil, dan Berkurban Sesuai Kemampuan

Saka punya potensi yang lebih besar ketimbang Alex Iwobi. Dia bahkan tampil lebih percaya diri dan menjanjikan ketimbang Reiss Nelson, pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Keberadaan Saka juga (seharusnya) bisa meyakinkan Emery untuk terus memainkan Aubameyang di pos penyerang tengah.

Ansu Fati meledak ketika Lionel Messi dan Luis Suarez absen di beberapa pertandingan. Cemas, Cules cemas ketika lini depan hanya diemban oleh Griezmann. Namun, Ansu Fati datang dan sukses menjaga sauce di lini depan tetap gurih dan lezat. Kelak, di rentang usia 22 hingga 25, Barcelona bakal mendapatkan pemain dengan potensi lebih besar ketimbang Neymar sekalipun.

“Menjadi garam” dalam injil Matius juga bermakna “menjadi lambang perjanjian yang kekal”. Saka dan Ansu Fati adalah produk dari visi yang sudah terpatri kuat dalam corak warna The Gunners dan Blaugrana. Pembinaan pemain muda, tidak takut memainkan mereka, dan memberikan kepercayaan yang layak.

Bukayo Saka dan Ansu Fati menambah kelezatan dan mengawetkan visi klub. Keduanya juga “menjadi terang” ketika dunia Arsenal dan Barcelona membutuhkan. Seperti saya singgung di atas, The Gunners dan Barcelona sedang membutuhkan pemain di sisi lapangan. Dua pemain muda ini “menjadi terang” ketika membayar kepercayaan klub dengan tampil sebaik mungkin.

Kasih dalam “menjadi terang” bukan hanya soal menolong dan berbagi. Kasih juga wujud sikap iklas. Oleh sebab itu, menolong juga harus dilambari sikap iklas, juga rendah hati.

Saka dan Ansu Fati terus menaikkan level permainan mereka secara sadar dan iklas. Keduanya sadar punya kontribusi besar yang bisa ditawarkan. Bermain di banyak posisi, bekerja lebih keras untuk membantu tim, dan sadar bahwa jalan mereka masih sangat terjal dan panjang.

Membumi dan membuat masakan Arsenal dan Barcelona tetap lezat. Bukayo Saka dan Ansu Fati “menjadi garam dan terang dunia” untuk The Gunners dan El Barca.

BACA JUGA Terima Kasih Arsene Wenger, Arsenal Mulai Panen atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles