MOJOK.COReal Madrid atau Barcelona akan mendapatkan Neymar, cepat atau lambat, dengan beragam cara. Keputusan yang akan menjerat kaki mereka sendiri.

Ambisi Real Madrid dan Barcelona kepada Neymar sudah tidak sehat. Saga ini seperti pernikahan mahal yang harus diadakan hanya karena gengsi. Malas dengan omongan tetangga, malas dengan anggapan tidak mampu, malas menjadi bahan ledekan orang lain. Dua klub dari Spanyol ini seperti menjerat kaki sendiri hanya demi Neymar.

Per Jumat (16/8), harian Sport melansir berita kalau Florentino Perez, Presiden Real Madrid, berhasil menurunkan pinjaman senilai 200 juta euro dari Bank Santander. Kabar inilah yang membuat saga Neymar kembali menyeruak.

Pini Zahavi, agen super yang dahulu membawa Neymar ke Paris Saint-Germain (PSG) disebut berhasil menyakinkan Perez kalau kliennya sudah siap kembali ke Spanyol. Tak main-main, PSG pun disebut hanya mau menjual Neymar ke Real Madrid, bukan Barcelona. Hubungan baik yang terjalin di antara petinggi Madrid dan PSG menjadi latar belakang.

Sementara itu, Barcelona hanya bisa menawarkan model transfer uang plus pemain. Barcelona akan memasukkan nama Philippe Coutinho, Ivan Rakitic, dan Arturo Vidal plus duit 100 juta euro. Sampai saat tulisan ini naik tayang, PSG mau uang tunai saja senilai 200 juta atau 140 juta plus pemain. Model transfer yang belum mendapat respons dari petinggi Barca.

Membaca dinamika yang terjadi sampai saat ini, saya memperkirakan 70 persen Neymar akan ke Real Madrid. Florentino Perez adalah negosiator tangguh. Beliau adalah sosok yang tidak mau mendengar kata “tidak” selama masih ada jalan. Keberanian menurunkan pinjaman senilai 200 juta, kalau kabar itu benar, hanya langkah awal. Kabar ini terdengar cocok dengan niat Zinedine Zidane meminjamkan Luka Jovic karena gagal memukau selama laga-laga pra-musim.

Baca juga:  Katalunya Bersiap Merdeka Melalui Referendum

Sementara itu, yang dilakukan Barcelona seperti kapal layar yang sedang di “bawah angin” dan berusaha untuk masuk ke “atas angin”. Berada di bawah angin membuat Barca tidak punya kontrol penuh terhadap kecepatan kapal layar. Mereka hanya akan menyesuaikan dengan langkah Madrid dan PSG dahulu.

Neymar wajah sepak bola industri

Saya sangat setuju dengan pendapat Mahir Pradana, mantan jurnalis Football Tribe Indonesia yang mukim di Spanyol. Mahir memandang ini soal persaingan off field saja, karena untuk urusan on field, baik Real Madrid maupun Barcelona sama-sama tidak membutuhkan Neymar.

Ohh, kalian pasti sudah paham. Neymar bukan saja akan menyuntikkan kualitas di lini depan. Pemain asal Brasil itu akan membawa nama besar, merek yang mahal, dan wajah yang sangat menjual. Ia akan menjadi duta besar bagi siapa saja yang berhasil membeli dirinya. Dan potensi yang ia bawa di lantai bisnis sangat besar.

Mengintip daftar 100 artis dengan bayaran tertinggi dari Forbes, Neymar duduk di peringkat tujuh. Ia hanya kalah dari Taylor Swift, Kylie Jenner, Kanye West, Lionel Messi, Ed Sheeran, dan Cristiano Ronaldo. Sementara itu, dari daftar 10 atlet dengan bayaran tertinggi tahun 2019, Neymar di posisi ketiga di bawah Ronaldo dan Messi.

Merek raksasa yang menggunakan jasa Neymar terbentang dari Beats Electronics, DAZN, Electronic Arts, Gillette, Mastercard, McDonald’s, Nike, Red Bull, hingga TCL. Neymar juga menjadi wajah laki-laki metroseksual, trend-setter, dan modern. Potensi off field yang akan ditawarkan sangat besar. Penjualan jersey pasti meningkat tajam.

Sepak bola adalah industri raksasa. Industri ini tidak akan berpikir dua kali untuk memakan “sejarah” demi revenue, cash flow, dan profit. Real Madrid pernah menjadi korbannya ketika menjalankan proyek gagal bernama “Los Galacticos”. Mereka pernah bangkit dari citra gagal itu, meskipun harga diri dan kebencian kepada rival tetap saja menuntun klub ini ke arah proyek yang sama.

Baca juga:  Real Madrid vs Manchester City: Pencarian Jati Diri Luka Jovic yang Sesungguhnya

Eden Hazard, lalu Neymar. Florentino Perez yang punya sentuhan midas itu, tidak akan membiarkan sinar emas Real Madrid ditelan oleh bayangan “el clasico” di segala bidang. Ya di atas lapangan, ya di meja perundingan transfer. Real Madrid boleh kalah dari Getafe dua kali, tapi jangan sampai bertekuk lutut kepada Barcelona. Bagaimanapun caranya.

Ke mana hilangnya harga diri Barcelona?

Saya dibuat heran ketika Barcelona hendak memulangkan Neymar. Mau diapakan pemain ini ketika di dalam skuat sudah berjejalan pemain lini depan? Apa ya pemain seperti Antoine Griezmann dan Ousmane Dembele cuma mau dijadikan brand ambassador jualan kaos?

Saya memahami, beberapa pemain Barca ingin manajemen memulangkan Neymar. Kedekatan pemain seperti saya rasa berbahaya. Memang benar, mereka sedang berusaha menjual Coutinho, Rakitic, dan Vidal. Namun, apakah memang harus sampai mencegah Real Madrid begitu rupa demi Neymar?

Hristo Stoichkov, legenda Blaugrana, khawatir Neymar hanya akan jadi bom di ruang ganti. Ini pendapat yang tidak boleh disepelakan. Ketika ada beberapa pemain yang ingin pemain itu kembali, artinya ada beberapa pemain yang netral atau mungkin tidak setuju. Apakah Barca tidak belajar dari sejarah kelam Real Madrid ketika di dalam skuat terbentuk dua faksi: Pavones vs Zidanes?

Mungkin kekhawatiran saya saja yang berlebihan. Mungin saja semua pemain Barca seia sekata untuk memulangkan Neymar. Tapi kok rasanya tidak mungkin. Di dalam hati kecil Dembele, Rafinha, bahkan mungkin Griezmann, pasti terbentuk riak kecil. Sebuah kekhawatiran akan menit bermain mereka yang terpangkas. Memendam bara seperti tidak pernah berakhir baik, ya di kehidupan ya di sepak bola.

Real Madrid atau Barcelona akan mendapatkan Neymar, cepat atau lambat, dengan beragam cara. Di hari tanda tangan itu dibubuhkan, dua klub raksasa ini menjerat kaki mereka sendiri. Mengikatnya dengan rantai bara, yang akan menyengat kulit pada saatnya.