[MOJOK.CO] Jika Lacazette dan Aubameyang bisa menemukan chemistry yang dibutuhkan, musim depan, lini serang Arsenal akan sangat berbahaya.

Bergabungnya Pierre-Emerick Aubameyang di bulan Januari dikhawatirkan akan membatasi menit bermain Alexandre Lacazette. Namun, dari kemenangan Arsenal atas Stoke City, Gooners seharusnya paham bahwa keberadaan keduanya justru saling melengkapi. Pada titik tertentu, Lacazette dibutuhkan untuk membuka kotak potensi Aubameyang.

Perdebatan paling panas di bulan Januari yang lalu adalah siapakah yang akan dimainkan Arsene Wenger sebagai ujung tombak, Lacazette atau Aubameyang? Kebiasaan Wenger untuk memainkan satu striker menjadi latar belakang. Apalagi setelah Olivier Giroud dilepas ke Chelsea. Hanya ada tiga penyerang juga menyiratkan kebijakan tersebut.

Aubameyang diprediksi untuk menjadi pilihan utama karena kedekatannya dengan Henrikh Mkhitaryan, pemain baru Arsenal lainnya. Selain itu, banderol pemain asal Gabon tersebut juga menjadi dasar argumentasi. Apalagi, sosoknya dianggap yang paling mendekati cara bermain Thierry Henry. Situasi yang akan selalu melekat kepada penyerang anyar Arsenal yang punya spesifikasi tertentu.

Wenger pun langsung memberikan debut kepada mantan pemain Borussia Dortmund tersebut. Bahkan, Aubameyang menjawabnya dengan langsung mencetak gol dan asis. Ditambah cedera yang menimpa Lacazette, posisi Aubameyang sebagai striker utama semakin kuat. Pun, di bangku cadangan hanya ada Danny Welbeck, yang nama tengahnya adalah “inkonsistensi”.

Kebuntuan dan tanpa arah ketika mengalahkan Stoke City

Arsenal, seperti Welbeck, juga punya wajah inkonsistensi. The Gunners seperti bermain tanpa arah ketika melawan Stoke, terutama di babak pertama. Buntu, Arsenal kesulitan mencipta peluang. Para pemain, terutama penghuni lini serang, cenderung statis dan kekurangan ide untuk mencari cara memprogresikan bola ke dalam kotak penalti.

Aubameyang seperti bermain tanpa dukungan. Sebenarnya, jarak antar-pemain tidak terlalu jauh. Jadi, Aubameyang bisa selalu mendapatkan opsi mengumpan di wilayah lawan. Namun, ketika mendekati sepertiga akhir, laju bola terlalu lambat sehingga mudah diantisipasi oleh Stoke. Memang, Arsenal selalu bermasalah dengan ketika menghadapi tim dengan pertahanan rendah dan justru bermain tanpa intensitas dan urgensi yang jelas.

Welbeck tak banyak membantu Aubameyang untuk bisa melakukan penetrasi atau kombinasi umpan datar cepat di depan kotak penalti lawan. Pada saat-saat tertentu, misalnya seperti melawan AC Milan, Welbeck bisa bermain seperti penyerang kelas dunia. Tapi pada titik tertentu, beliau bisa seperti pesepak bola tarkam sewaan untuk acara 17 Agustus-an.

Baca juga:  Review Test Drive Toyota All New Rush: Lebih Mewah, Lebih Nyaman

Arsene Wenger, mengambil keputusan yang cukup langka, yaitu melakukan pergantian pemain sebelum menit ke-70. Adalah Welbeck yang ditarik, dan digantikan Lacazette pada menit 61. Sebuah langkah yang jitu dari manajer asal Prancis tersebut.

Masuknya Lacazette meningkatkan intensitas lini depan

Pada dasarnya, lini depan Arsenal hampir selalu butuh pergerakan cepat, baik penetrasi maupun dengan umpan datar, untuk masuk ke kotak penalti lawan. Berdasarkan alasan tersebut, Wenger sangat jitu ketika memasukkan Lacazette dan menginstruksikannya untuk bermain berdekatan dengan Aubameyang.

Meskipun berposisi lebih tinggi ketimbang Aubameyang, Lacazette cukup sering turun ke bawah untuk menjadi jembatan antara lini tengah dan depan. Pergerakan-pergerakan yang tidak nampak di babak pertama ini membuat Stoke harus mengubah pendekatannya.

Keberadaan dua penyerang, yang punya kecepatan dan olah bola yang baik, yang posisinya tidak sejajar, cukup sulit untuk diantisipasi. Apalagi, ketika menggunakan garis pertahanan rendah, sehingga tercipta banyak ruang di depan para bek. Penempatan diri Lacazette sangat menguntungkan Arsenal.

Setelah pertandingan, Steve Bould, asisten Wenger mengungkapkan bahwa Lacazette bukan hanya striker yang bisa mencetak gol saja. Penyerang asal Prancis tersebut punya kemampuan mengkreasikan peluang dan menjadi jembatan lini depan dan depan. Pernyataan Bould tersebut memang menggambarkan kemampuan Lacazette sebenarnya.

Ketika berada dalam performa terbaik, Lacazette bisa bermain sebagai pemantul bola sekaligus bermain lebih mobile untuk mencari ruang di lini depan.

Kemampuan Lacazette untuk bermain sebagai pemantul didukung oleh low center of gravity dan postur yang kokoh. Pesepak bola dengan low center of gravity menjadikannya lebih mudah menurunkan kecepatan lari, bergeser untuk mengantisipasi perubahan posisi lawan, dan menaikkan kecepatannya dalam sekejap.

Ketika hendak menerima umpan vertikal, Lacazette cukup sering mengulurkan tangan ke belakang seperti gerakan memeluk untuk memeriksa posisi bek lawan yang menempelnya dengan ketat.

Baca juga:  Kemarahan Xhaka dan Cara Emery Menumpuk Bangkai di Gudang Arsenal

Ketika mengulurkan tangan ke belakang, Lacazette akan merendahkan tubuh, menekuk lutut, membuat bek lawan kesulitan menggeser posisi berdirinya. Ia “menancapkan kaki” ke dalam tanah. Tubuh yang kokoh mendukung aksi ini.

Pada momen ini, ia melakukan aksi yang kompleks, yaitu mengukur jarak dengan bek, menguatkan posisi berdiri, fokus ke bola, sekaligus mengamati situasi sekitar.

Ketika umpan dilepas, Lacazette akan melentingkan badan dengan cepat untuk menerima umpan. Akibatnya, tercipta celah antara dirinya dan bek lawan. Celah yang tercipta tidak lebar, hanya dua atau tiga meter saja. Namun, celah tersebut sudah cukup bagi mantan penyerang Lyon tersebut untuk mengalirkan bola dengan urgensi dan intensitas tinggi.

Kemampuan ini dibutuhkan Aubameyang untuk berakselerasi dari sisi kiri lapangan. Ketika Lacazette menerima umpan vertikal di depan kotak penalti, Aubameyang akan cukup punya waktu untuk menyelinap masuk ke kotak penalti untuk menantikan umpan terobosan. Sebuah situasi yang jarang ia dapatkan ketika bermain dengan Welbeck, yang justru bermain terlalu statis.

Aubameyang juga diuntungkan dengan kemampuan Lacazette untuk mencari ruang dan melakukan penetrasi dari lini kedua. Olah bola dan teknik menggiring penyerang dengan tinggi badan 175 sentimeter tersebut memang sangat baik. Beberapa kali, penetrasinya dari lini kedua mengundang pelanggaran lawan.

Namun, ada potensi yang lebih besar dari cara bermain ini. Pergerakan penyerang berusia 26 tahun ke lini kedua memungkinkan Mesut Ozil atau gelandang serang lainnya untuk masuk ke depan kotak penalti sehingga Arsenal menang jumlah pemain di ruang-ruang tersebut. Pun, keberadaan Ozil, misalnya, membuat Aubameyang tidak terisolasi di sisi kiri.

Keberadaan pemain untuk melakukan kombinasi umpan yang cepat sangat penting dari cara bermain Arsenal saat ini.

Jika Aubameyang dan Lacazette bisa mencapai level kesepahaman bermain paling maksimal, Arsenal berpotensi mendapatkan kembali duet legendaris Henry dan Dennis Bergkamp. Keberadaan masing-masing justru saling melengkapi. Sikap Aubameyang yang mau berbagi ketika dirinya sudah mencetak dua gol juga menjadi indikasi yang positif.

Sekali lagi, jika keduanya bisa menemukan chemistry yang dibutuhkan, musim depan, lini serang Arsenal akan sangat berbahaya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles