fbpx

MOJOK.COMasalah Manchester United bukan cuma Ole Gunnar Solskjaer dan membeli pemain. Masalah mereka adalah ada pertandingan dan ikut Liga Inggris.

Mukti Entut, Standup Comedian dari Jogja itu mengemukakan teori yang menarik perihal kekalahan Manchester United. Mukti ngetwit begini: “Penyebab MU kalah semalam ya gara-gara ada pertandingan.”

Pada titik tertentu, teori dari Sir Mukti ada benarnya. Terkadang saya berpikir, sebaiknya Manchester United nggak usah berpartisipasi di Liga Inggris saja. Lebih baik mereka membubarkan diri. Coba jadi ormas atau karang taruna saja di Inggris sana saya rasa malah lebih berfaedah ketimbang rutin mengirim fansnya masuk goa setiap minggunya.

Masalah Manchester United sudah semakin menumpuk. Kini, masalah mereka bukan saja soal keberadaan Ole Gunnar Solskjaer saja. Pun, masalah-masalah yang ada tidak akan selesai hanya dengan membeli pemain dengan harga mahal. Masuk akal, sih, kalau Bruno Fernandes lebih sempat memilih memperpanjang kontraknya bersama Sporting CP ketimbang menerima tawaran Manchester United di musim panas yang lalu.

Bruno mungkin tahu kalau dirinya hanya akan menjadi bagian dari masalah. Terutama ketika tidak bermain baik dan para pengikut Setan mulai mengeluh. Apalagi kalau jadi bergabung, Manchester United perlu mengeluarkan dana lebih dari 50 juta paun. Price tag dan performa yang tak kunjung bagus bakal jadi penderitaan bagi pemain.

Bagi pemain mana saja yang bergabung ke Manchester United. Ekspektasi di sana sudah tidak masuk akal. Pada titik tertentu, kondisi mereka sama seperti Arsenal. Dua klub yang limbung dan kehilangan pijakan di empat besar Liga Inggris. Masalah mereka tidak akan selesai hanya dengan membeli pemain.

Ole Gunnar Solskjaer cedera mental?

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh manajemen Manchester United adalah kondisi mental Ole Gunnar Solskjaer. Saya tidak tahu persis isi hatinya ketika tersenyum ketika kalah. Robin van Persie mungkin menyampaikan kebenaran ketika dirinya prihatin melihat sikap Ole Gunnar Solskjaer.

Tersenyum ketika kalah di depan wartawan, meski dipoles dengan kata-kata manis, tidak akan terdengar merdu di telinga pemain. Pemain yang kalah perlu dikuatkan hatinya. Terkadang, tamparan justru terasa nikmat ketimbang buaian kalimat manis. Sir Alex Ferguson sudah mengajarkan caranya, sedangkan Ole Gunnar Solskjaer melupakannya.

Bagi saya, “cedera mental” bakal sulit disembuhkan. Cedera mental akan mengendap di dalam otak dan akan disemburkan oleh tubuh ketika si pemain berada dalam tekanan. Rasa cemas akan kalah, rendah diri, merasa dirinya “kecil” di depan lawan. Kalau pelatih gagal meresonansikan rasa percaya diri, selamanya Manchester United tidak akan konsisten.

Baca juga:  Lionel Messi Sudah Betul Inginkan Marcus Rashford Ketimbang Neymar Tukang Gelinding

Bicara soal manajemen, fans Manchester United lebih paham ketimbang saya. Manajemen adalah biang masalah juga. Untuk mengobati “penyakit” ini tentu sudah berada di luar jangkauan banyak fans.

Gagal memperbaiki kekurangan pemain

Masalah lain dari Manchester United yang sudah mengendap soal lama adalah keberadaan David De Gea. Saya rasa, De Gea bukan lagi salah satu kiper terbaik di dunia. Dua gol Burnley memang bukan sepenuhnya salah De Gea. Namun, jenis tembakan dua pemain Burnley itu adalah jenis tembakan yang text book dipelajari kiper di lapangan latihan.

Perlu kamu ketahui, De Gea punya masalah dengan tiang dekat. Tirto sudah menganalisisnya sejak tahun lalu. De Gea seperti mendapat kutukan dengan tembakan ke tiang dekat.

Matt Pyzdrowski, mantan kiper profesional, sekaligus analis The Athletic, menjelaskan penyakit kiper Manchester United itu. Masalah penampilan buruk De Gea ketika melawan Crystal Palace tahun lalu bukan soal kutukan, tapi penempatan posisi yang tidak konsisten.

Ketika mengadang sepakan Ross Barkley di laga kontra Chelsea, De Gea mampu memosisikan dirinya cukup tegak saat berdiri di tiang dekat. “Tubuh bagian atas tegap dan sejajar dengan bola, kakinya bengkok dan sedikit lebih lebar dari lebar bahunya, dan tangannya setinggi pinggang. Posisi ini memungkinkan De Gea bisa mengadang tembakan dengan kaki maupun tangan,” kata Matt.

Sepakan mendatar Barkley bisa digentikan De Gea dengan kakinya. Namun, ketika menghadapi Palace, De Gea tidak menempatkan diri di posisi ideal “Ketika menghadapi tembakan van Aanholt dalam laga kontra Palace, posisi berdiri De Gea tanggung. Dia berdiri dengan sedikit membungkuk dan posisi kaki yang lebih lebar dari postur lazimnya,” tulis Pyzdrowski.

Kenapa kekurangan De Gea ini saya sebut sebagai masalah? Karena dua hal. Pertama, tim analisi Manchester United gagal mengidentifikasinya. Hasilnya, kekurangan itu tidak dikoreksi. Kedua, ketika tidak dikoreksi, kekurangan kiper Manchester United itu menjadi salah satu biang kekalahan. saya rasa, Ole Gunnar Solskjaer pun luput menemukan masalah ini. Atau, sebetulnya sudah tahu, tetapi tidak mengoreksinya.

Manchester United gagal melindungi pemainnya

Masalah lain yang sangat merepotkan Manchester United adalah penanganan cedera. Masalah ini akhirnya meledak setelah Marcus Rashford akan absen dalam waktu lama karena cedera punggung. Cedera yang sudah lama dia rasakan, tetapi tidak ditangani dengan baik oleh tim medis Manchester United.

Baca juga:  Arsenal, Barcelona, dan Manchester United Menderita Dalam Transisi

James Ducker, jurnalis The Telegraph menuding Manchester United gagal melindungi Rashford. Sebelum melawan Wolves, Rashford sudah mengeluhkan punggungnya yang semakin sakit. Selama ini, pemain asal Inggris itu bermain dengan pain killer karena Manchester United begitu membutuhkan dirinya.
Satu hari setelah melawan Norwich, Rashford dan Ryan Giggs merekam proses wawancara dengan jurnalis di Hotel Football. Ketika proses merekam itu, Rashford sudah mengeluh karena punggung terasa sangat sakit. Bahkan, selama proses syuting itu dirinya tidak bisa duduk. Dia harus berdiri selama proses wawancara.

Beberapa jam sebelum melawan Wolves, dia sudah mengeluh kepada tim medis. Namun, Ole Gunnar Solskjaer tetap membawa Rashford. Bahkan, Ole Gunnar Solskjaer memainkan Rashford di babak kedua.

Setelah tabrakan dengan Matt Doherty, pemain Wolves, Rashford tidak bisa berdiri. Setelah pemeriksaan ditemukan double stress fracture di punggungnya. Sebelum laga, Rashford sudah diperingatkan oleh Robin van Persie untuk beristirahat. Dulu, van Persie pernah mengalami cedera yang sama.

United dan Ole Gunnar Solskjaer dituduh gagal memberikan perlindungan yang layak kepada pemainnya. Setelah insiden itu, diketahui kalau Rashford sudah bertahun-tahun menggunakan mesin penyembuh cedera yang berkaitan dengan patah tulang atau sobek otot bernama Melmak. Rashford selalu memakai mesin itu di rumah dan sebelum pertandingan untuk meredakan rasa sakit di punggungnya.

Selain masalah di punggung, sudah lebih dari 11 bulan Rashford bermain dengan “floating bone” di ankelnya. Karena cedera yang menumpuk dan tidak ditangani secara ideal itu, Rashford akan absen selama tiga bulan.

Saya rasa, Rashford sendiri menyadari kalau dirinya kesakitan. Namun, Manchester United membutuhkan dirinya. Seakan-akan, rasa sakit di punggungnya disebabkan oleh memanggul Manchester United dan Ole Gunnar Solskjaer di punggungnya dalam waktu yang lama.

Mulai dari masalah mental Ole Gunnar Solskjaer, skema bermain United yang tidak konsisten, kegagalan memperbaiki kekurangan pemain, dan penanganan cedera yang begitu buruk. Masalah Manchester United menumpuk menjadi gunung. Sudah benar kalau mereka bubar saja. Mungkin ini azab karena menyembah setan.

BACA JUGA Manchester United, Klub yang Bahagia Memelihara Para Medioker atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.



Tirto.ID
Loading...

No more articles