Ke Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford? MOJOK.COKe Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford? MOJOK.CO
Ke Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford? MOJOK.CO

Ke Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford?

MOJOK.COKembalinya Cristiano Ronaldo ke Manchester United bakal menjadi salah satu kepulangan paling ikonik di dunia. Ketika si anak tersayang kembali ke pelukan ibunya.

Banyak orang rela membakar uang dan membuang waktu untuk sekali lagi merasakan “sengatan listrik” ketika mengunjungi stadion. Gairah itu, luapan emosi itu, terkadang memang tidak tergantikan. Tidak ternilai, lebih mahal ketimbang lembaran rupiah dan berharganya waktu.

Seperti candu, rasa itu sangat sulit hilang dari dalam ingatan. Menuntut mereka untuk sekali lagi merasakan “sengatan listrik” dari gairah stadion. Kalau rasa itu saja sudah menghipnotis penonton, kamu bisa membayangkan luapan emosi seperti apa dari pemain yang terlibat secara langsung.

Sir Alex Ferguson, manajer legendaris Manchester United, dalam sebuah wawancara, pernah menjelaskan betapa pentingnya 15 menit terakhir pertandingan. Terutama ketika United membutuhkan satu gol untuk menyelamatkan mereka dari kekalahan atau mencari penentu kemenangan.


“Kamu boleh bermain hati-hati, bahkan sabar selama 60 menit atau lebih. Namun, di 15 menit terakhir, kamu harus melakukan sesuatu. Saya seorang penjudi. Saya akan menjejalkan banyak pemain ke lini depan di akhir pertandingan. Memang, cara ini tidak selalu berhasil. Namun, ketika berhasil, rasanya luar biasa,” kenang Sir Alex.

“Rasanya luar biasa. Para pemain akan saling berpelukan, berbagi kebahagiaan. Rasanya seperti “sengatan listrik”. Rasanya luar biasa. Para penonton datang ke stadion untuk mendapat cerita, yang akan mereka bagikan di pub atau kepada istri dan anak mereka di rumah, tentang apa yang terjadi di Old Trafford.”

Dunia lalu mengenal kegilaan itu sebagai Fergie Time. Ketika suporter Manchester United mengumandangkan “Attack! Attack! Attack” di menit akhir, lawan akan bergetar hatinya, merinding, tertekan. Fergie Time, sebuah periode suci di mana Manchester United menjadi mesin perang yang sulit dihentikan.

Siapa yang tidak ingin merasakan pengalaman luhur itu sekali lagi?

Sir Alex Ferguson memang sudah lama pensiun. Namun, ingatan akan Fergie Time masih menempel di dinding-dinding tua Old Trafford. Pelatih boleh berganti, namun determinasi itu masih tertinggal di sana. Sebuah rasa yang tidak lagi sama, tetapi tetap ada.

Maka bukan perkara yang janggal ketika Cristiano Ronaldo, “anak kandung” Sir Alex Ferguson, memutuskan pulang ke Old Trafford. Bukan perkara aneh ketika anak yang dulu diiklaskan untuk menapaki kisah gilang-gemilang menyambut senja penghabisan di sebuah tempat yang bisa disebut rumah.

Di Old Trafford, bersama Manchester United, Cristiano Ronaldo mencapai sebuah dunia baru yang disebut katarsis. Bukan Real Madrid, apalagi Juventus. Bukan pula Nacional atau Sporting Lisbon di mana Ronaldo muda mengenal dan akrab dengan sepak bola. Di bawah rangkulan Sir Alex, Ronaldo mencapai titik terbaik sebagai pesepak bola.

Cristiano Ronaldo, 18 tahun, datang ke Manchester United sebagai remaja penuh imajinasi. Kakinya yang ramping menjanjikan gemulai tarian di sisi lapangan. Rambut ikal dan senyum manja mewarnai keberhasilannya membodohi lawan. Bahkan di laga debut melawan Bolton, Ronaldo sudah mampu menghipnotis Old Trafford.

Namun, segala imajinasi dan kecerdikan melewatkan bola di antara dua kali lawan tidak cukup untuk menjadikannya sebagai “yang terbaik”. Cristiano Ronaldo, diperkenalkan kepada etos kerja, kedisiplinan, dan tanggung jawab bersama Manchester United. Seperti katak berpesta di tengah hujan, Ronaldo menemukan katalis terbaik untuk berkembang lebih pesat.

Ronaldo belajar mengurangi imajinasi untuk menambahkan determinasi ke dalam corak permainannya. Perlahan, dia berkembang menjadi penyerang sayap yang kompatibel untuk Liga Inggris. Dia cepat, penuh tenaga, kreatif, sadar dengan tanggung jawab untuk ikut bertahan, dan paling penting: dia menjadi begitu tajam di depan kotak penalti.

Cristiano Ronaldo berkembang menjadi predator kotak penalti bersama Real Madrid. Namun, tukang catat sejarah sepak bola akan selalu menegaskan bahwa bersama United, Ronaldo menemukan “jiwa mematikan” itu. Kasih dan perhatian Sir Alex yang menjadi dasar segala bangunan karier mewah Ronaldo bersama Madrid dan Juventus.

Ronaldo memenangi gelar pemain terbaik dunia bersama Manchester United di teater impian Old Trafford. Orang bilang bahwa yang pertama selalu paling berkesan. Menjadi yang terbaik di kolong langit untuk kali pertama menjadi semacam prasasti dari perjuangan anak muda dari Madeira di tanah asing. Seorang pemuda yang dahulu pernah khawatir akan berakhir menjadi pengedar narkoba jika tidak dikawal penuh oleh ibunya untuk mengenal sepak bola.

Maka, jika dia memutuskan untuk pulang, ke titik awal di mana segala kegemilangan karier berawal, dunia akan memaklumi. Bahkan mungkin merayakannya karena punya satu kali lagi kesempatan melihat “keajaiban” dari salah satu pemain terbaik sepanjang masa di Liga Inggris, di Old Trafford.

Atau, mungkin, Ronaldo hanya rindu dengan gairah paling murni yang bisa diproduksi stadion berisi 65 ribu pasang mata….

Stadion yang kini kosong karena pandemi. Panggung yang tidak lagi terasa magis ketika teriakan dan nyanyian fans menjadi bahan bakar ketakutan para lawan Manchester United.


Namun, terlepas dari itu semua, usaha mencari kembali kegairahan seperti “sengatan listrik” memang tidak ada salahnya. Kegairahan yang mungkin berbeda dari semua ledakan emosi di Bernabeu dan Juventus Stadium. Kita, semua penikmat sepak bola, mau kawan atau rival, bakal sangat menantikan kebenaran kabar ini.

Kembalinya Cristiano Ronaldo ke Manchester United bakal menjadi salah satu kepulangan paling ikonik di dunia. Ketika si anak tersayang kembali ke pelukan ibunya. Kembali merasakan lagi ledakan kegairahan di penghujung menit sebuah pertandingan yang dipentaskan di teater impian.

BACA JUGA Cristiano Ronaldo, 450 Gol, dan Senyum Manis untuk Juventus dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.