Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Ke Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford?

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
12 November 2020
A A
Ke Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford? MOJOK.COKe Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford? MOJOK.CO

Ke Manchester United, Cristiano Ronaldo Kembali Pulang? Atau Sekadar Usaha Mencari ‘Sengatan Listrik’ di Old Trafford? MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kembalinya Cristiano Ronaldo ke Manchester United bakal menjadi salah satu kepulangan paling ikonik di dunia. Ketika si anak tersayang kembali ke pelukan ibunya.

Banyak orang rela membakar uang dan membuang waktu untuk sekali lagi merasakan “sengatan listrik” ketika mengunjungi stadion. Gairah itu, luapan emosi itu, terkadang memang tidak tergantikan. Tidak ternilai, lebih mahal ketimbang lembaran rupiah dan berharganya waktu.

Iklan

Seperti candu, rasa itu sangat sulit hilang dari dalam ingatan. Menuntut mereka untuk sekali lagi merasakan “sengatan listrik” dari gairah stadion. Kalau rasa itu saja sudah menghipnotis penonton, kamu bisa membayangkan luapan emosi seperti apa dari pemain yang terlibat secara langsung.

Sir Alex Ferguson, manajer legendaris Manchester United, dalam sebuah wawancara, pernah menjelaskan betapa pentingnya 15 menit terakhir pertandingan. Terutama ketika United membutuhkan satu gol untuk menyelamatkan mereka dari kekalahan atau mencari penentu kemenangan.

“Kamu boleh bermain hati-hati, bahkan sabar selama 60 menit atau lebih. Namun, di 15 menit terakhir, kamu harus melakukan sesuatu. Saya seorang penjudi. Saya akan menjejalkan banyak pemain ke lini depan di akhir pertandingan. Memang, cara ini tidak selalu berhasil. Namun, ketika berhasil, rasanya luar biasa,” kenang Sir Alex.

“Rasanya luar biasa. Para pemain akan saling berpelukan, berbagi kebahagiaan. Rasanya seperti “sengatan listrik”. Rasanya luar biasa. Para penonton datang ke stadion untuk mendapat cerita, yang akan mereka bagikan di pub atau kepada istri dan anak mereka di rumah, tentang apa yang terjadi di Old Trafford.”

Dunia lalu mengenal kegilaan itu sebagai Fergie Time. Ketika suporter Manchester United mengumandangkan “Attack! Attack! Attack” di menit akhir, lawan akan bergetar hatinya, merinding, tertekan. Fergie Time, sebuah periode suci di mana Manchester United menjadi mesin perang yang sulit dihentikan.

Siapa yang tidak ingin merasakan pengalaman luhur itu sekali lagi?

Sir Alex Ferguson memang sudah lama pensiun. Namun, ingatan akan Fergie Time masih menempel di dinding-dinding tua Old Trafford. Pelatih boleh berganti, namun determinasi itu masih tertinggal di sana. Sebuah rasa yang tidak lagi sama, tetapi tetap ada.

Maka bukan perkara yang janggal ketika Cristiano Ronaldo, “anak kandung” Sir Alex Ferguson, memutuskan pulang ke Old Trafford. Bukan perkara aneh ketika anak yang dulu diiklaskan untuk menapaki kisah gilang-gemilang menyambut senja penghabisan di sebuah tempat yang bisa disebut rumah.

Di Old Trafford, bersama Manchester United, Cristiano Ronaldo mencapai sebuah dunia baru yang disebut katarsis. Bukan Real Madrid, apalagi Juventus. Bukan pula Nacional atau Sporting Lisbon di mana Ronaldo muda mengenal dan akrab dengan sepak bola. Di bawah rangkulan Sir Alex, Ronaldo mencapai titik terbaik sebagai pesepak bola.

Cristiano Ronaldo, 18 tahun, datang ke Manchester United sebagai remaja penuh imajinasi. Kakinya yang ramping menjanjikan gemulai tarian di sisi lapangan. Rambut ikal dan senyum manja mewarnai keberhasilannya membodohi lawan. Bahkan di laga debut melawan Bolton, Ronaldo sudah mampu menghipnotis Old Trafford.

Namun, segala imajinasi dan kecerdikan melewatkan bola di antara dua kali lawan tidak cukup untuk menjadikannya sebagai “yang terbaik”. Cristiano Ronaldo, diperkenalkan kepada etos kerja, kedisiplinan, dan tanggung jawab bersama Manchester United. Seperti katak berpesta di tengah hujan, Ronaldo menemukan katalis terbaik untuk berkembang lebih pesat.

Ronaldo belajar mengurangi imajinasi untuk menambahkan determinasi ke dalam corak permainannya. Perlahan, dia berkembang menjadi penyerang sayap yang kompatibel untuk Liga Inggris. Dia cepat, penuh tenaga, kreatif, sadar dengan tanggung jawab untuk ikut bertahan, dan paling penting: dia menjadi begitu tajam di depan kotak penalti.

Iklan

Cristiano Ronaldo berkembang menjadi predator kotak penalti bersama Real Madrid. Namun, tukang catat sejarah sepak bola akan selalu menegaskan bahwa bersama United, Ronaldo menemukan “jiwa mematikan” itu. Kasih dan perhatian Sir Alex yang menjadi dasar segala bangunan karier mewah Ronaldo bersama Madrid dan Juventus.

Ronaldo memenangi gelar pemain terbaik dunia bersama Manchester United di teater impian Old Trafford. Orang bilang bahwa yang pertama selalu paling berkesan. Menjadi yang terbaik di kolong langit untuk kali pertama menjadi semacam prasasti dari perjuangan anak muda dari Madeira di tanah asing. Seorang pemuda yang dahulu pernah khawatir akan berakhir menjadi pengedar narkoba jika tidak dikawal penuh oleh ibunya untuk mengenal sepak bola.

Maka, jika dia memutuskan untuk pulang, ke titik awal di mana segala kegemilangan karier berawal, dunia akan memaklumi. Bahkan mungkin merayakannya karena punya satu kali lagi kesempatan melihat “keajaiban” dari salah satu pemain terbaik sepanjang masa di Liga Inggris, di Old Trafford.

Atau, mungkin, Ronaldo hanya rindu dengan gairah paling murni yang bisa diproduksi stadion berisi 65 ribu pasang mata….

Stadion yang kini kosong karena pandemi. Panggung yang tidak lagi terasa magis ketika teriakan dan nyanyian fans menjadi bahan bakar ketakutan para lawan Manchester United.

Namun, terlepas dari itu semua, usaha mencari kembali kegairahan seperti “sengatan listrik” memang tidak ada salahnya. Kegairahan yang mungkin berbeda dari semua ledakan emosi di Bernabeu dan Juventus Stadium. Kita, semua penikmat sepak bola, mau kawan atau rival, bakal sangat menantikan kebenaran kabar ini.

Kembalinya Cristiano Ronaldo ke Manchester United bakal menjadi salah satu kepulangan paling ikonik di dunia. Ketika si anak tersayang kembali ke pelukan ibunya. Kembali merasakan lagi ledakan kegairahan di penghujung menit sebuah pertandingan yang dipentaskan di teater impian.

BACA JUGA Cristiano Ronaldo, 450 Gol, dan Senyum Manis untuk Juventus dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 12 November 2020 oleh

Tags: Cristiano RonaldoGGMUJuventusliga inggrisManchester UnitedMUold traffordReal MadridRonaldoSir Alex Ferguson
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura, MLSC.MOJOK.CO
Eksplor

Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura

30 Juni 2026
Harry Maguire Bek Dungu Manchester United Anti Bullying MOJOK.CO
Esai

Harry Maguire, Bek Dungu Milik Manchester United yang Mengajari Kita Makna Ketahanan Mental dan Cara Melawan Bullying

20 Oktober 2025
Untung Mohamed Salah Nggak Jadi Buruh di Indonesia MOJOK.CO
Esai

Beda Nasib Mohamed Salah dan Pekerja di Indonesia saat Menyuarakan Hak: Menghasilkan Ketimpangan yang Dinormalisasi

6 Januari 2025
Rokok Ilegal identik dengan Liga Inggris, yang Legal Liga Italia MOJOK.CO
Esai

Kenapa, ya, Rokok Legal Identik dengan klub Liga Italia, sementara Rokok Ilegal Lebih Dekat dengan klub Liga Inggris?

9 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.