MOJOK.CO Tahukah pembaca, bulan Januari lalu, Jose Mourinho hendak menjual Marouane Fellaini. Sungguh jenius.

Pertandingan tandang terakhir Arsene Wenger bersama Arsenal di Old Trafford rumah Manchester United berakhir dengan kekalahan. Namun, ini jenis kekalahan yang sudah direlakan, terutama setelah komposisi pemain dirilis oleh Arsenal. Wenger memilih menurunkan tim lapis kedua untuk menghadapi Setan, Merah.

Keputusan Wenger untuk menurunkan tim lapis kedua memang masuk akal. Jumat (4/5) dini hari esok, Arsenal akan tandang ke rumah Atletico Madrid. Leg kedua babak semifinal Liga Europa tersebut menjadi prioritas Arsene Wenger. Oleh sebab itu, kekalahan dari United di hari Minggu (30/4) tidak terasa sebagai kekalahan.

Ketika komposisi pemain dirilis, tidak ada nama-nama pemain utama Arsenal. Tidak ada Laurent Koscielny, Shkodran Mustafi, Jack Wilshere, Aaron Ramsey, Mesut Ozil, dan Alexandre Lacazette. Nacho Monreal dan Danny Welbeck pun baru masuk di babak kedua. Monreal masuk setelah Sead Kolasinac cedera dan Welbeck bermain hanya untuk menjaga kebugaran saja. Hitung-hitung jogging untuk menjaga kesehatan.

Wenger sendiri membuat kejutan dengan memainkan bek belia yang baru datang di bulan Januari lalu, yaitu Konstantinos Mavropanos. Bek berusia 20 tahun asal Yunani ini menjalani debut dengan sangat brilian. Salah satu hasil karyanya adalah “mengantongi” Romelu Lukaku dan terlihat matang ketika menguasai bola.

Catatan statistik Mavropanos juga sangat menjanjikan. Dicatat Squawka, umpan akurat Mavropanos mencapai 92 persen, dengan 4 kali sapuan, 3 intersep, 2 kali blok, dan tidak membuat pelanggaran satu kali pun. Kesempatan untuk pemain muda inilah yang sebenarnya diincar Wenger, di samping memberi waktu ngaso yang lebih panjang untuk pemain-pemain utama.

Baca juga:  Antara Ahok dan Manchester United

Tak hanya Mavropanos, beberapa pemain muda seperti Ainsley Maitland-Niles juga memuaskan. Pengalaman bermain sebagai bek kiri, lalu bek kanan membuat pemain muda asal Inggris ini matang dengan cepat. Ia tidak terlihat canggung ketika berduel dengan Paul Pogba atau Nemanja Matic. Mavropanos dan Ainsley inilah calon tulang punggung Arsenal di masa depan, selepas era Wenger berakhir.

Fellaini dan kesadaran terlambat Jose Mourinho

Sebagai tuan rumah, Manchester United sebetulnya tidak bermain sempurna. Hasil imbang 1-1 akan lebih adil, meskipun kekalahan dengan skor 2-1 ini tidak mampu melukai Arsenal. Di atas lapangan, jika pembaca menonton jalannya pertandingan dengan pikiran yang jernih dan logika yang waras, tim lapis kedua Arsenal bisa mengimbangi.

Ketika Romelu Lukaku digantikan Marcus Rashford, United kehilangan “titik vokal” untuk beradaptasi dengan jalannya pertandingan. Arsenal bertahan dengan skema dasar 4-4-1-1 dan 4-5-1 dengan kerapatan yang terjaga. Akibatnya, di depan kotak penalti terjadi penumpukan pemain. Padat.

Oleh sebab itu, di sepertiga babak kedua, United hanya bisa menyerang dari sisi lapangan. Tiadanya Lukaku membuat kerja lini pertahanan Arsenal menjadi lebih mudah. Penetrasi dari sisi lapangan adalah satu-satunya ancaman. Sementara itu, umpan silang bisa diatasi oleh Mavropanos dan Calum Chambers yang unggul secaa fisik ketimbang Rashford.

Seturut pertandingan yang hampir saja monoton, Jose Mourinho tersadar bahwa ia membutuhkan pemain di dalam kotak penalti untuk menyambut satu-satunya cara yang bisa terpikirkan oleh dirinya. Taktik jenius yang sungguh brilian dan sungguh tiada bandingannya diambil Mourinho. Ia memasukkan Marouane Fellaini.

Baca juga:  Ruud van Nistelrooy dan Filippo Inzaghi: Seniman yang Menghiasi Kanvas dengan Caranya Sendiri

Mourinho memang mengejar kolektivitas lini serangnya yang diisi Alexis Sanchez, yang di babak kedua menghilang entah ke mana, Jesse Lingard, dan Rashford. Ditambah Anthony Martial, keempat pemain ini pernah bermain cair dan menjanjikan. Namun, Mourinho tak menyadari, ketika melawan tim yang bertahan cukup dalam dengan kerapatan yang terjaga, kolektivitas keempatnya menjadi tumpul.

Mourinho gagap menghadapai taktik bertahan. Ia menelan sendiri racun yang ia sering ia semburkan.

Oleh sebab itu, Fellaini masuk, dengan tugas khusus untuk merangsek masuk ke kotak penalti. Dan tiba juga hujan umpan silang itu. Meski terlambat, taktik jenius Mourinho terbukti berhasil. Gol sundulan yang jenius, berasal dari umpan silang yang jenius, lahir dari pemikiran jenius Mourinho. Kita kasih tepuk tangan yang meriah untuk taktik jenius ini.

Taktik jenius yang sungguh berguna ketika menghadapi tim lapis kedua Arsenal. Sungguh luar biasa.

Sementara itu, taruhan Arsene Wenger untuk menginstirahatkan banyak pemain inti dan melepas laga melawan United harus terbukti ampuh ketika menghadapi Atletico Madrid nanti. Jika gagal, ya kekalahan ini jadi sia-sia. Kasihan Mourinho, yang sudah memikirkan taktik jenius ini.