MOJOK.COSatu lagi kalung permata indah melingkar di leher jenjang Si Nyonya Tua, Juventus. Kalung permata dengan kelir dan pernik cantik bernama Cristiano Ronaldo.

Kabar itu sebenarnya datang dari sisi yang tidak terduga. Menghantam banyak orang dari titik buta. Tidak terkira, ketika jutaan pasang mata sedang asik masygul memelototi Piala Dunia 2018. Setelah Portugal resmi tersingkir dari Rusia 2018, rumor itu tumbuh dengan pesat. Rumor Juventus, Si Nyonya Tua, yang ingin meminang Cristiano Ronaldo, laki-laki terbaik Portugal.

Kabar itu meledak tanpa bisa dicegah. Kabar ketertarikan Juventus kepada Cristiano Ronaldo bergulir dengan cepat. Kabar itu menggelinding, menabrak banyak imajinasi. Sosok sentral, pemain kunci, manusia dengan pengaruh besar, salah satu pesepak bola terbaik di muka bumi, hengkang dari Real Madrid, katedral sepak bola tersuci di Eropa untuk tiga musim terakhir.

Mundur beberapa bulan ke belakang, tentunya tidak ada yang mengira Juventus yang akan menjadi pelabuhan selanjutnya dari sampan karier Ronaldo. Sebelumnya, mungkin hanya ada tiga klub yang bisa memboyong kapten timnas Portugal ini. Mereka adalah Manchester City, Manchester United, dan Paris Saint-Germain. Besarnya dana belanja, citra klub, dan ambisi adalah tiga modal penting untuk memboyong Cristiano Ronaldo. Begitulah sebelumnya yang dikira banyak orang.

Lantas, mengapa Cristiano Ronaldo memilih Juventus? Sejauh ini tidak ada yang tahu, dan kita pun tak akan bisa mengetahui isi hati manusia sebenarnya. Namun, bulan April yang lalu, Ronaldo mengalami sebuah ekstasi, sebuah kebahagiaan meluap ketika mendapatkan sambutan dari Juventini di Juventus Stadium setelah laga Liga Champions.

“Ini momen yang luar biasa, menerima standing ovation dari Juventus Stadium. Saya sungguh bahagia dan berterima kasih kepada fans Juve. Pengalaman ini belum pernah saya rasakan sepanjang karier saya,” ungkap Ronaldo selepas pengalaman tidak terlupakan di rumah Si Nyonya Tua.

Setelah sembilan musim, 451 gol yang membuat Cristiano Ronaldo menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Madrid, 16 piala termasuk empat piala Liga Champions di mana yang tiga didapat di tiga tahun terakhir, empat Ballon d’Or, dua pemain terbaik Eropa, dan tiga sepatu emas, Ronaldo resmi meninggalkan Los Blancos.

Baca juga:  Hasil PSG vs Real Madrid Menyiratkan, Piala Liga Champions Masih akan Jadi Milik Madrid

“Real Madrid CF mengabarkan bahwa, berdasarkan keinginan pribadi dari si pemain, Cristiano Ronaldo resmi pindah ke Juventus FC,” ungkap manajemen Madrid lewat situs resmi klub.

“Hari ini, Real Madrid mengungkapkan rasa terima kasih kepada si pemain yang sudah membuktikan diri sebagai yang terbaik di dunia dan ia yang sudah menandai salah satu sejarah klub kami dan dunia. Selain gelar-gelar yang ia dapatkan, piala yang ia raih, dan kemenangan demi kemenangan yang diraih selama sembilan tahun bersama kami, Cristiano Ronaldo adalah contoh sebuah dedikasi, kerja keras, tanggung jawab, bakat, dan perkembangan,” tambah manajemen Madrid.

Kepergian Ronaldo ini, boleh dikatakan, bakal menjadi penanda dimulainya zaman baru di Real Madrid. Beberapa pemain Madrid sudah boleh dibilang sudah menjadi pemain veteran, dengan gelar juara yang melimpah dan kemasyhuran yang bakal membuat iri banyak klub. Roda usia akan terus berjalan, pemain akan datang dan pergi, namun klub akan tetap selalu ada.

Makna bergabungnya Cristiano Ronaldo ke Juventus

Apa guna Juventus membeli Cristiano Ronalo? Bukankah ia sudah masuk kategori pemain uzur? Usianya sudah 33 tahun. Usia senja, di mana masa edar pesepak bola seperti tinggal menghitung hari saja.

Berbicara usia pesepak bola, artinya kamu juga harus mempertimbangkan cara si pemain menjaga tubuhnya. Melihat kerja keras Ronaldo untuk “menumpuk kebugaran”, bukan sebuah kejutan apabila mantan pemain Sporting Lisbon itu bisa bermain hingga usia 40 tahun. Artinya, Juventus masih bisa “memeras keringat” Ronaldo selama 7 tahun!

Toh, perubahan posisi dan cara bermain memungkinkan Ronaldo bermain selama 90 menit secara rutin. Ia bukan lagi seorang penyerang sayap yang gembira menunjukkan trik sembari berlari dengan kecepatan tinggi. Ronaldo sudah berubah menjadi predator kotak penalti, seorang striker yang begitu efektif di dalam kotak penalti.

Lantaran lebih banyak beredar di dalam kotak penalti, Ronaldo menjadi tidak boros stamina. Akselerasi tetap terlihat, namun hanya digunakan untuk jarak pendek saja. Tentu sangat menyenangkan punya penyerang kelas dunia yang masih bisa bermain selama tujuh tahun di level tertinggi.

Selain aspek teknik, nama Ronaldo juga sebuah magnet dagang yang sangat besar. Penjualan jersey, memikat lebih banyak penonton untuk hadir di stadion, meningkatkan nilai jual klub kepada televisi, meningkatkan merk dagang klub di pasar saham, hingga mengangkat citra Serie A itu sendiri.

Baca juga:  Julen Lopetegui: Si Akamsi bagi Real Madrid

Mundur dua dekade ke belakang, Seria A Italia adalah jujugan pemain berkaliber besar, kelas dunia. Semua pemain kelas elite ingin mengadu nasib di Italia. Ini liga dengan prestise tinggi. Sebuah liga di mana Diego Maradona terbentuk, Marvo van Basten berevolusi, George Weah mengharumkan nama baik Benua Afrika, hingga membuat David Beckham jatuh hati. Serie A, dengan segala kekurangannya, menjadi kekasih terbaik pemain-pemain bertabur lampu sorot dunia.

Nama Seria A tenggelam bersama kejayaan timnas mereka di Piala Dunia 2006. Korupsi, pengaturan skor, mafia pertandingan, kerusuhan suporter, melukai molek tubuh Serie A. Seperti spaghetti yang terlalu matang, Liga Italia ditinggalkan, “dibuang”. Kedatangan Ronaldo, diharapkan bisa menjadi oase di tengah padang beton kota Jakarta.

Juventus sendiri layak mendapatkan pujian. Dari klub paling dominan di Italia, degradasi, lalu promosi, kemudian mengakhiri musim di posisi ketujuh, kini Juventus sudah memenangi Serie A tujuh kali berturut-turut, membangun stadion representatif yang bohong kalau tidak membuat iri duo Milan dan Roma, membangun Continassa Area atau J Village; sebuah kompleks multi-fungsi, dan jangan lupakan sebuah hotel milik klub.

Lewat revolusi yang dirancang secara sistematis, Juventus berlari dengan cepat ketika para rival baru belajar berjalan. Lihat bagaimana AC Milan tertatih-tatih mengurusi keuangan mereka yang rompal, Internazionale Milano yang belum lagi punya identitas, AS Roma yang baru memulai pembaharuan, dan Napoli yang jauh dari kata konsisten. Lazio? Duh…

Wajah rupawan Cristiano Ronaldo adalah wajah Juventus yang modern. Liat tubuh Ronaldo, adalah geliat manajemen Juventus untuk menyiapkan masa depan sebaik mungkin. Pembelian yang memakan dana lebih dari 100 juta euro ini adalah investasi yang (seharusnya) manis. Satu lagi kalung permata indah di leher jenjang Si Nyonya Tua.

Benvenuto in Serie A, mister Cristiano Ronaldo. Pensa alla casa stessa. Selamat datang di Serie A, tuan Cristiano Ronaldo. Anggap saja rumah sendiri.



Tirto.ID
Loading...

No more articles